Aktivitas Fisik Bagi Anak, Cegah Obesitas

baby-child-obesity*Gambar dari sini

Indonesia saat ini tengah mengalami perbaikan dan pertumbuhan ekonomi dibandingkan 20 tahun yang lalu, tentu saja keadaan ini diiringi dengan pendapatan perkapita masyarakat yang meningkat. Kita boleh berbangga bila pada tahun 1990, gizi kurang dan buruk merupakan masalah utama yang dihadapi balita di Indonesia, pada tahun 2010 angkanya telah menurun dari 31.0% menjadi 17.9%. Namun ternyata muncul masalah baru yang menghantui kehidupan balita dan anak bahkan orang dewasa di Indonesia. Masalah ini adalah OBESITAS. 80% dari remaja dengan obesitas akan meneruskan kecenderungan obesitas di masa dewasa. Persentase obesitas pada balita pada tahun 2010 sebesar 14%, meningkat dari 12.2% pada tahun 2007. Dan ternyata, kondisi yang sama juga dialami pada beberapa negara  ASEAN.

Beberapa obat yang digunakan untuk menangani kondisi medis tertentu pada seorang anak (contohnya : Sindrom Down) memang disinyalir dapat menyebabkan obesitas, namun hanya mewakili  1-2% kasus. Sementara 25-85% kasus anak dan remaja dengan obesitas berasal dari keluarga yang juga mengalami obesitas. Tentunya hal ini tidak semata-mata disebabkan genetik namun juga dipengaruhi faktor sosial dan ekonomi dari keluarga tersebut.  Kondisi ekonomi yang kini mengharuskan kedua orang tua untuk bekerja berdampak terhadap status nutrisi suatu keluarga misalnya mengakibatkan berkurangnya waktu dan rentang pemberian ASI, kacaunya susunan piramida makanan dimana anak-anak kurang mengkonsumsi sayur dan buah sebagai sumber serat serta konsumsi makanan cepat saji, soda dan makanan lainnya yang banyak mengandung glukosa. Selain itu dengan berkembangnya teknologi, ketiadaan pendampingan orang tua di rumah dan relasi dengan lingkungan yang cenderung menurun menyebabkan seorang anak saat ini lebih senang duduk berjam-jam di dalam kamar untuk bermain komputer atau menonton televisi daripada bermain di luar yang biasanya berupa aktivitas fisik yang menguras tenaga. Dengan demikian lengkaplah sudah faktor yang mendukung meningkatnya presentase obesitas di Indonesia.

Bagaimana cara mengetahui status gizi saya?

Ulasan artikel lalu mengenai kriteria kurus dan obesitas, untuk mengetahui status gizi, Badan Kesehatan Dunia atau WHO sudah menentukan beberapa baku rujukan penentuan status gizi yaitu dengan pengukuran Berat badan (BB) / umur (U), Tinggi badan (TB/U), Berat badan (BB) / tinggi badan (TB), Lingkar lengan, Lingkar kepala, Tebal lemak otot trisep serta lipatan kulit.

Selain itu salah satu cara mudah untuk mengukur status gizi ini adalah dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT):

 

IMT (kg/m2)

Kelompok

< 19.8

Kurang (Underweight)

19.9-26.0

Normal

26.0-29.0

Lebih (Overweight)

> 29

Obesitas

*disadur dari www.uptodate.com (Institute of Medicine)

 Bagaimana menangani obesitas ini? Lihat halaman berikutnya!


Post Comment