Single Mom: “Itu Dulu Waktu Ibu Banyak Uang, Ya..”

divorced-mom-no-money*Gambar dari sini

Kondisi keuangan seperti roda yang berputar, kadang di atas (dalam arti cukup bahkan lebih) kadang di bawah (mepet, bahkan kurang). Hal inilah yang saya alami..

Dulu pernah kerja dengan gaji yang berlebih untuk biaya hidup sebulan, berdua dengan anak. Sebagai single parent, saya sadar betul bahwa saya harus sangat berhati-hati dengan keuangan. Gaji yang berlebih tidak membuat saya memanjakan anak dengan barang-barang yang tidak perlu, atau beli barang-barang mewah, atau untuk foya-foya.

Memang saya menuruti apa yang anak inginkan, tapi tetap dengan pertimbangan bahwa barang tersebut memang dia butuhkan. Dan saya belikan juga bukan yang harganya mahal atau harus branded. Sama sekali tidak. Atau jika anak ingin makan di restoran pilihannya, saya akan turuti, tapi juga dengan frekuensi yang masih wajar, satu atau dua minggu sekali, boleh lah.
Atau anak ingin berlibur ke luar kota, saya juga akan usahakan turuti. Tapi terjadwal, dan tetap dengan budget yang tidak berlebih.

Pokoknya dengan kondisi keuangan yang berkecukupan pada saat itu, anak saya sama sekali tidak saya manjakan secara berlebihan. Semuanya masih dalam batas wajar menurut standar saya.

Nah, bagaimana ketika karena satu dan lain hal, kondisi keuangan pas menurun? Saya tidak terlalu men-down grade-kan standard hidup saya dan anak. Karena memang sebelumnya pun gaya hidup kami bukanlah yang high class atau berlebihan. Sehingga tidak menimbulkan syok ataupun goncangan yang mengganggu. Paling-paling jika anak membutuhkan sesuatu atau minta sesuatu padahal keuangan belum memungkinkan, maka saya akan bilang “Nanti ya nak, kalau sudah ada uang”. Dan biasanya dia bisa menerima, tidak protes.

Mungkin karena dari dulu, saat keuangan berkecukupan, saya juga tidak langsung menuruti apa yang anak mau. Selalu saya bilang “Tunggu ibu gajian”, atau “Bulan depan, karena bulan ini kamu sudah beli barang lain”. Dan janji tersebut saya usahakan untuk dipenuhi, jadi anak percaya bahwa ibunya tidak akan membohonginya.

Anak juga melihat, bahwa jika ibunya perlu sesuatu barang pun, tidak yang dengan harga mahal atau branded. Karena anak juga paham, ibunya sendirian bekerja mencari nafkah, tanpa ada sosok ayah sebagai tiang utama penghasilan rumah tangga. Bersyukur sekali dengan pengertian anak yang seperti itu.

Saat kondisi keuangan menurun, kadang-kadang kami bercerita tentang dulu saat kami berlibur ke luar kota, saat kami makan di restoran yang harga makanan termasuk di atas rata-rata, dan anak saya akan berkomentar “Itu waktu dulu ibu banyak uang yaa..”. Dan kami pun akan tertawa bersama.
Tidak ada kesedihan, tidak ada penyesalan, ataupun kekecewaan bahwa saat-saat itu hanyalah ada dalam kenangan. Kami percaya, bahwa suatu saat kami akan bisa lagi menikmati saat-saat itu.

Alhamdulillah sekarang kondisi berangsur membaik. Sedikit demi sedikit kami bisa menikmati kembali apa yang dulu pernah kami nikmati. Tak ada yang berlebihan, semuanya masih dalam batas kewajaran.

Tak ada salahnya bahwa anak paham betul saat kondisi keuangan orang tua menurun, tak ada salahnya kita menunda memenuhi keinginan dan kebutuhan anak. Yang lebih penting adalah bagaimana menanamkan pengertian dan bagaimana membuat anak bisa menerima kondisi seperti itu.


Post Comment