Dilema Orangtua Masa Kini

IMG_4869

“Bu, tolong di rumah Nadira dibimbing lebih lanjut lagi untuk belajar membaca ya. Supaya membacanya lebih lancar.”

Kalimat itu diucapkan guru sekolah Nadira beberapa waktu lalu saat saya menjemput Nadira di sekolahnya. Terus terang, saya terkejut. Sepengetahuan saya, kurikulum TK A, di mana Nadira saat ini berada, seharusnya belum belajar calistung dengan serius. Lha kok ini gurunya malah menyuruh saya untuk mengajari Nadira baca supaya lebih cepat bisa? Saya pun jadi bingung.

Tekanan serupa saya dapatkan dari sesama orangtua murid di sekolah Nadira, maupun ibu-ibu lain yang saya kenal. Rata-rata sudah menyuruh anak-anaknya les calistung sejak usia empat tahun. Bahkan tak sedikit yang memasukkan anaknya di kursus serupa pada usia batita.

Tak heran jika di sekolah, Nadira sering cerita bahwa teman-temannya banyak yang telah pandai membaca. No wonder, saat ada tes kecil-kecilan di sekolah, Nadira menjadi satu di antara beberapa siswa yang tergolong lama mengerjakan tugas karena kemampuan calistung mereka belum optimal.

Terus terang, saya punya idealisme untuk tidak memasukkan anak saya ke kursus pelajaran semasa dia masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Saya masih percaya bahwa masa kanak-kanak itu seharusnya dihabiskan dengan bermain dan berkreasi, bukannya belajar, belajar dan belajar.

Saya memang tidak mengharapkan anak saya lancar membaca, menulis dan berhitung di usianya saat ini. Jadi kalau dibilang saya santai, ya memang iya. Sehari-hari Nadira cuma main, nggak ada kursus sama sekali.

Apalagi dalam berbagai seminar pendidikan anak yang pernah saya ikut, berbagai buku parenting yang saya lahap, serta mengingat pengalaman pribadi, saya percaya bahwa anak-anak tidak boleh dibebani urusan pendidikan sejak dini. Kelak, mereka akan paham kapan waktunya untuk belajar dan kapan waktunya untuk main. Seperti saat saya kecil dulu. Meski orangtua saya tidak pernah memasukkan saya di berbagai kursus, serta jarang menyuruh saya belajar, nilai saya di sekolah selalu bagus.

Selanjutnya: Sekarang, saya pun menghadapi sebuah dilema >>


6 Comments - Write a Comment

  1. Gue pernah di posisi yang sama Ra, pendapat gue dan suami cukup keras untuk tidak ada calistung di usia TK atau kegiatan apapun kecuali seni atau olahraga tapi di satu sisi kok gue ditekan “tuntutan zaman”. “Tuntutan zaman” bukan “peer pressure”, untuk yang satu ini mungkin karena gue kulit badak ya gak pengaruh, tapi gue merasa harus “realistis” (masih pakai tanda kutip karena “realistis” yang ini gak sesuai dengan pemikiran gue) bahwa kuota SD idaman yg gak pakai tes calistung keburu habis, gue terpaksa memasukkan ke SD yg pakai tes calistung :(. Akhirnya kami menyerah, meminta bantuan gurunya Z utk mengajari calistung dan tambahan bahasa inggris karena sekolahnya kelak pakai bahasa inggris supaya Z tidak jet lag berkomunikasi di sekolah kelak. Saat ini calistungnya sudah berhenti, untuk Bahasa Inggris nanti gue serahkan ke anaknya mau diteruskan atau tidak. Semoga ya Ra, pemimpin negara ini mau mendengar jeritan hati ini, untuk dikaji lagi kewajiban ber calistung di usia dini.

  2. saya & suami jg bukan tipe yg maksain anak ikutan ini itu. bahkan suami termasuk yg gak suka dgn fullday school. bukan sekolah, itu nitipin anak, katanya..
    kasian jg kalo anak diforsir harus bisa ini itu, kalo sampe dia beban mental gimana donk? apalagi jatah istirahatnya jd sedikit bgt..
    tapi yaa.. realitanya, masuk sd sekarang kebanyakan hrs bisa calistung. okelah gak usah jauh2 sampe ke sd. gimana kalo di tk, dia diejek sm temennya, atau disepelein sm gurunya.. susah jg deh..

  3. Bersyukur banget sekolah anakku sama sekali gak ada anjuran yang menyebutkan harus bisa membaca di usia tertentu. bahkan sampai TK B pun baru akan diajari membaca. itu juga pelajaran tambahan di luar sekolah. kalau untuk mengenal huruf dan angka emang sudah diajarkan. untuk sekelas nursery anakku kmrn hanya mengenal angka 1-5 aja, dan itu lebih dari cukup buat kami kalau di rumah dia bisa menunjuk dengan benar. pengenalan huruf pun hanya sebatas huruf awal nama-nama murid. misalnya anakku namanya berawalan “V” dan dia setiap melihat huruf itu langsung antusias dan berkata “itu nama aku”. makanya ketemu sekolah ini yang mengajarkan segala sesuatu sesuai dengan usianya kami bersyukur banget. dan memang tujuan kami adalah mengajarkan budi pekerti luhur dulu, sebagai dasar pijakan yang kuat buat anak melangkah di kemudian hari. biarkan di usianya sekarang dia menikmati masa bermainnya. ada waktunya nanti dia akan belajar ilmu pengetahuan yang lain, tapi bukan sekarang. saya aja dulu baru bisa baca pas kelas 1 SD dan sampai kuliah pun nilai-nilai saya selalu memuaskan. jadi kami gak galau sama sekali tetap tenang dan seimbang kalo ada yang cerita anak si A baru 4 tahun dah bisa baca dll, saya cukup tersenyum aja :)
    ~”Orang pinter kalah sama orang hoki, kenapa orang bisa hoki, karena dia banyak berbuat baik , kenapa dia berbuat baik? karena dia tahu dasar dari budi pekerti luhur yang telah diajarkan baik di rumah atau di sekolah “~ just my own opinion lho hehehe, Thank you mbak Ira, nice post.

  4. Thank you mba… tosss… sy juga lagi mengalami dilema yang sama juga krn si kakak yg baru TK A merengek minta les kumon dan TPA. Sekolahnya sih nggak memaksakan untuk calistung, krn saya tanya gurunya anak sy fine2 saja di sekolah, dan memang di sekolah pelajarannya lebih ke penanaman dan praktek dasar akidah agama (sekolah IT). Tapi karena temen2nya (terutama yg 1 komplek) begitu pulang sekolah pada sibuk kumon, TPA, dll, jadi dia merasa tersisih dari pergaulan, dan ledek2an temen2nya kl nggak ikutan kumon jd bodoh, hiks hiks hiks ibunya jadi ikutan sedih…

  5. Ra,

    Maika juga pas TK A belum lancar baca koq. Tau-tau lancar baca aja sendiri di TK B. Padahal gue gak pernah ajarin juga sih, Maika aja suka tanya, dan gue jawab yang dia tanya aja. Ya kita kasih aja ya buku-buku yang bagus, ajak baca buku juga, lama-lama akan bisa baca sendiri lahh..

    Untuk berhitung, Maika sudah belajar tambah, kurang, kali dan bagi lho! Tapi gue lihat dengan cara yang menyenangkan lewat gambar dan tidak ada tuntutan macem belajar matematika serius. Selama anaknya enjoy ya sudah..

    Sama, sempet stress juga ama anak-anak lain yang les-nya bejibun tiap pulang sekolah dan juga hari Sabtu. Tapi karena udah yakin banget pas TK ya Maika biar banyak main dulu aja.

Post Comment