Dampak Positif Iklan buat Anak

Anak saya, Fathiah Qistina, termasuk anak yang suka menonton tayangan iklan. Setiap ada iklan yang menarik, ia langsung berlari sambil melihat televisi lebih dekat. Terkadang, ia langsung menggeletakan mainannya begitu saja, saat sayup-sayup mendengar suara iklan yang ia suka.

Saat ini dia suka tayangan iklan sabun cair yang mengedukasi anak untuk mencuci tangan. Tiap kali tangan Qisti kotor, ia biasanya langsung mencuci tangannya sesuai dengan adegan iklan dengan menggunakan sabun sambil bilang, “Biar kumamannya hilang.” Padahal dulu, ia lebih suka mengelap tangannya dengan kain, bahkan kalau ia lagi iseng, tangan yang terkena cokelat, atau minuman yang tumpah ia peperkan ke baju ibunya (baca: baju saya).

kids_tv*Gambar dari sini

Hikmah dari tayangan iklan tersebut juga membuat Qisti lebih suka mandi. Dia termakan iklan “Aku Bukan Anak Kecil”. Dia menyabuni badannya dan tidak menolak untuk dikeramas. Padahal dulu tiap kali dikeramas, pasti lari – kabur ke ruang tengah – karena takut diguyur. Setelah ada iklan itu, pintu kamar mandi ia tutup rapat, dan langsung mandi sampai tuntas. Tidak ada lagi drama mengejar bocah usia 30 bulan sambil mengacung-ngacungkan gayung =P

Dampak positif dari tayangan iklan televisi yang bikin saya tersenyum lebih lebar adalah iklan pasta gigi. Sejak gencar tayangan pentingnya menggosok gigi untuk kebersihan dan kesehatan mulut, Qisti jadi lebih rajin menggosok gigi. Bila dulu, giginya hanya ketemu sikat dan pasta gigi dua atau tiga hari sekali, sekarang sehari dua kali dia selalu gosok gigi – pas mandi pagi sama sebelum tidur.

Setiap pergi ke mini market/super market barang favorit yang rajin ia masukan ke keranjang adalah sikat dan pasta gigi. Qisti bahkan hapal, bentuk sikat gigi yang sudah ia miliki di rumah. Biasanya dia bilang,”Kemarin sudah beli yang beruang, sekarang beli yang bebek.”

Setiap habis sikat gigi ia bahkan rajin membuka mulutnya lebar-lebar sambil bilang, “Segaaaar”. Namun namanya bocah, baru lima menit sikat gigi menjelang tidur, tidak lama bilang, “Bu, bikin susu”. Hadeeh sia-sia lah kuman yang dia gosok itu, karena akhirnya giginya tertimpa susu lagi =P. Mungkin lain kali harus ada iklan pasta gigi, setelah gosok gigi malam hari, dilarang makan/minum yang berasa.

Selain itu, saya juga berterimakasih sama salah satu iklan margarin. Sebab, gara-gara iklan itu Qisti lebih suka makan nasi goreng buatan saya. Tiap kali makan nasi goreng dia bilang, “Kayak yang di TV kan Bu, ini nasi goreng BL*E B*ND.” saya cuma tersenyum senang melihat dia makan dengan lahap.

Menurut saya ada banyak dampak positif dari iklan, meskipun tidak sedikit juga dampak negatifnya. Mudah-mudahan akan semakin banyak iklan edukasi yang menginspirasi anak-anak kecil sehingga bisa hidup lebih sehat dan sesuai dengan seharusnya tanpa orangtua repot menjelaskan.


Post Comment