Family Friday: Annisa Pohan, “Saya Merasa Cantik Setelah Jadi Ibu”

annisa_keluargaBanyak yang bilang, Aira mirip banget sama Nisa. Dia sendiri gimana?

Dia malah bilang “Aku mirip papap”, karena kulitnya kan gelap kaya ayahnya.  Tapi malah dia bangga kalo dibilang mirip papap-nya, mungkin karena anak perempuan ya..

Anak saya seusia nih sama anak kamu, sempat ngomong “Aku nggak mau kulitnya coklat ah, maunya putih, kan cantik..”. Kalau Aira gimana?

Aira kan sekolah di sekolah yang memiliki murid dari berbagai ras, jenis kulit apapun ada. Warna kulit menurut dia nggak menunjukkan mana yang lebih baik. Dia anaknya sangat percaya diri dan fisik bukan menjadi penilaian buat dia. Dari kecil kan dia udah saya tempatkan di lingkungan yang beragam dan dia bisa menerima segala perbedaan. Nggak hanya fisik, tapi agama, suku..

Nah, gimana cara Nisa ngajarin perbedaan?

Dengan membiarkan dia berteman dengan segala jenis orang, dan segala jenis latar belakang. Jadi dia setiap hari udah dalam lingkungan seperti itu, otomatis dia merasa dia nggak ada perbedaan karena dia merasa juga nggak beda sama teman-temannya. Apalagi pernah tinggal di Amerika juga, di sana kan lebih beda lagi ya. Jadi hal-hal seperti tu nggak pernah jadi isu buat dia..

Dia pengin jadi artis kaya ibunya nggak?

Nggak ada.. dia anaknya nggak senang tampil. Dia susah banget difoto, padahal saya lihat dia ada potensi kan, cukup cameragenic. Dia hobinya beda sama saya. Kalo saya hobinya bicara, tampil, kalo dia suka hal yang serius. Gambar misalnya..

Lagian, kalo sekarang sih masih coba-coba semua, biar dia coba semua hal nanti saya kan tau tuh Aira sukanya yang mana.

Nisa kan public figure nih, tentu harus memperhatikan penampilan. Nah, dalam berpenampilan, Nisa punya idola nggak sih?

Nggak ada. Saya tuh bukan perempuan yang fashionable. Saya suka berpenampilan menarik tapi bukan orang yang harus selalu ngikutin fashion. Karena terkadang saya nggak punya cukup waktu utnuk browsing atau untuk lihat majalah “Apa sih yang lagi in?”, saya nggak punya waktu untuk itu. Saya lebih ke apa yang cocok dengan bentuk badan saya. Sama lebih ke feeling aja, ketika lihat baju atau tas yang saya suka. Lebih ke insting aja ya.. tentu juga exposure dari apa yang tidak sengaja saya lihat. Misalnya lagi browsing tentang siapa, tapi kalo mencari tau tentang satu orang yang saya idolakan, nggak punya cukup waktu untuk itu, ikutin perkembangan fashion, gitu..

Saya juga nggak dari fisik untuk menonjolkan diri saya. Saya lebih ke ingin mendobrak paradigma atau stereotip bahwa wanita yang menarik itu cantik tapi nggak punya otak. Itu yang ingin saya dobrak dari dulu, apalagi saya dari kecil udah jadi model, dari umur 14 tahun udah terjun di modelling. Terus kemudian walaupun orangtua saya selalu memengaruhi saya bahwa pendidikan itu penting.

Jadi ada 2 kepribadian dalam diri saya bahwa saya ingin tampil cantik, saya senang tampil depan kamera  tapi saya harus mengisi bagian diri saya yang lain nggak hanya fisik tapi dalamnya juga diisi. Orangtua saya mengajarkan seperti itu. Kalau kamu mau berkegiatan seperti itu (modelling- red) saya harus pintar juga. Makanya, cantik menurut saya itu berubah, ketika saya kecil, saya cantik luar oke. Tapi saya juga harus ngisi diri saya nggak hanya dari luar. Otomatis kalau diri kita diisi dengan bahagia, dengan ilmu, pendidikan, yang keluar juga lebih menarik. Saya lebih mengaktualisasi diri saya dengan menambah ilmu. Itu yang akan long lasting..

Selanjutnya: “Suami saya nggak pernah memuji saya” >>


Post Comment