Anakku Korban Bullying, Tolong!

bulllying*Gambar dari sini

Bullying, sebuah kata yang mulai populer di media beberapa waktu belakangan ini. Bullying bukanlah hal baru dalam dunia sekolah, dan bahkan pada beberapa sekolah tertentu, telah menjadi suatu warisan yang selalu diturunkan dari kakak kelas ke adik-adik kelasnya. Ketika sang adik kelas merasa di-bully, maka ada suatu kecenderungan untuk “membalas dendam”  atas perilaku tersebut kepada adik-adik kelas mereka selanjutnya, jika kelak mereka sudah menjadi kakak kelas. Bullying bisa terjadi di sekolah manapun, tak peduli sekolah yang bertarif mahal dan berkurikulum internasional ataupun sekolah swasta yang namanya sayup-sayup terdengar saja. Dan pembaca, bukan tidak mungkin anak anda adalah salah satu korban bullying dari teman-teman sekolahnya.

Pada tahun 2011 Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat 2.339 kasus kekerasan fisik, psikologis, dan seksual terjadi pada anak-anak, dan 300 kasus di antaranya adalah bullying. Selidik punya selidik, ternyata bullying tidak hanya menjadi permasalahan di Indonesia saja, tetapi juga di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang. Pada tahun 2004, National Mental Health and Education Center di Amerika mendapatkan data bahwa bullying merupakan bentuk kekerasan yang umum terjadi dalam lingkungan sosial. Sekitar 15% pelajar adalah pelaku bullying dan 30% pelajar adalah korban bullying.

Sebenarnya, apakah bullying itu?

Perilaku sederhana seperti saling mengejek merupakan bagian dari bullying, jika si korban merasa tertekan. Kata bullying memang belum ada dalam terminologi Bahasa Indonesia. Maka mari kita tilik kamus Oxford Learner’s™ Pocket Dictionary,kamus ini menulis bahwa bully adalah person who uses his/her strength to frighten or hurt weaker people. Senada dengan kamus tersebut, seorang aktivis anti-bullying Indonesia yang juga adalah pendiri Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa), Diena Haryana, menjelaskan bahwa bullying adalah segala perilaku yang dilakukan kepada orang lain baik secara verbal, fisik, atau mental yang dilakukan dengan berulang-berulang menggunakan power untuk menunjukkan bahwa saya berkuasa, saya lebih hebat sehingga memberikan dampak rasa takut, tertindas dan terintimidasi.

Bentuk bullying pada anak

Menurut Dan Olweus, bullying pada anak-anak memiliki bentuk yang beragam, antara lain:

  • Bentuk fisik: memukul, menendang, mendorong.
  • Bentuk verbal: mengejek, menyebarkan isu buruk, atau menjuluki sebutan yang jelek.
  • Bentuk emosi: menyembunyikan peralatan sekolah, memberikan ancaman, menghina.
  • Bentuk rasial: mengucilkan anak karena ras, agama, kelompok/ golongan tertentu.
  • Bentuk seksual: meraba, mencium.

Dalam bukunya yang berjudul The Bully, The Bullied, and The Bystander,  Barbara Coloroso mengatakan bahwa bullying bisa terjadi karena adanya kerjasama yang baik dari tiga pihak. Pihak pertama, adalah pihak yang  menindas. Kedua, ada penonton yang diam atau mendukung, entah karena takut atau karena merasa sebagai satu kelompok. Ketiga, ada pihak yang dianggap lemah dan menganggap dirinya sebagai pihak yang lemah (merasa takut untuk melawan, takut untuk melaporkannya pada guru/ orang tua, atau malah memberi permakluman). Karakter yang umum di-bully ada dua. Yang pertama adalah orang yang populer, supel, banyak disukai dan pintar. Yaitu mereka yang memiliki kelebihan dibandingkan orang lain. Yang kedua adalah karakter yang berbeda dari orang lain, misalnya orang yang kurang pandai atau daya tangkapnya lambat, orang gemuk, pendek, dan tidak berdaya. Bisa juga kaum minoritas, yaitu yang dianggap berbeda, misal suku tertentu atau agama tertentu.

Selanjutnya: Bullying dan akibatnya >>


One Comment - Write a Comment

  1. Kadang orang yang membully itu suka ga sadar kalau perkataan/tingkah lakunya menyakiti orang lain. Aku banyak banget baca curhatan orang yang dibully di legatalk. Kasian :( segitu parahnya dibully orang, sampe harus curhat di aplikasi anonim biar ga ketauan :(

Post Comment