Saat “Suster” Yang Dicari Anak

nanny_mommiesdaily

“Suster, aku mau makan”, “suster aku mau mainan yang itu”, tidak jarang kita mendengar kalimat itu terlontar dari mulut seorang anak kecil. Belakangan ini memang banyak orangtua yang menggunakan jasa orang lain untuk merawat anak-anaknya atau trendnya disebut “suster”. Tapi, apakah menggunakan suster baik untuk buah hati Anda?

“Saya  sibuk bekerja dan akhirnya kesulitan untuk merawat anak yang sangat aktif sendirian, walaupun sempat takut tapi karena memang butuh maka saya pasrah dan berharap anak saya tetap baik-baik saja”, begitu ujar Vina Angelina seorang Ibu berusia 28 tahun yang juga mempekerjakan suster untuk merawat anaknya. Ya, kesibukan memang menjadi salah satu alasan paling utama dari para orangtua yang mempercayakan suster untuk mengurus anak mereka. Tugas dari suster pun bermacam-macam mulai dari memberi makan anak, mengantar ke sekolah, ataupun menemani anak bermain, kesannya kehadiran suster ini memang sangat membantu meringankan tugas orangtua dalam mengawasi anaknya, terutama untuk orangtua yang sibuk. Tapi, yang perlu diwaspadai adalah, jangan sampai kehadiran suster ini membuat peran orangtua menjadi bergeser dan membuat anak kehilangan kehadiran sosok orangtua dimasa pertumbuhannya. Padahal, menurut dr.Diana Papayungan, SpKJ psikiater RSUD Depok dan RS Bunda Margonda, ada beberapa fase usia perkembangan anak yang perlu Anda perhatikan, yaitu:

  1. Usia 0-18 bulan di mana anak harus ditanamkan rasa percaya terhadap orang-orang sekelilingnya (basic trust), seorang ibu atau suster biasanya adalah orang penting pertama yang ada dalam dunia si anak. Jika ibu memperhatikan kebutuhan si anak seperti makan atau kasih sayang, maka anak akan merasa aman dan percaya untuk menyerahkan atau menggantungkan kebutuhannya kepada ibunya. Namun, bila ibu tidak memberikan apa yang harusnya diberikan kepada si anak, maka secara tidak langsung itu dapat membentuk anak menjadi seorang yang penuh kecurigaan, sebab ia merasa tidak aman untuk hidup di dunia, dan bisa menyebabkan si anak skeptis dan susah membangun relasi di usia dewasa.
  2. Usia 18 bulan-3 tahun, fase di mana anak-anak mengekplor dunianya dan mencoba hal baru, di tahap ini, orangtua harus hadir untuk mengawasi anak agar dia menjadi anak yang mandiri dan percaya diri.
  3. Usia 3-5 tahun, fase di mana anak sudah memiliki beberapa kemampuan dalam mengolah kemampuan motorik dan bahasa. Namun, karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan yang membuat anak merasa bersalah, di saat inilah orangtua dibutuhkan agar anak tetap termotivasi dan tidak kecewa.
  4. Usia 6-12 tahun, fase pra remaja. Saat ini anak-anak mengidentifikasi orang lain dan memasuki dunia sosial di mana anak-anak membandingkan dirinya dengan  orang-orang di sekitarnya, contohnya dengan anak yang lebih pintar, cantik, atau berprestasi, di fase ini peran orangtua penting untuk memberikan motivasi pada anak agar anak tidak memiliki sifat yang rendah diri.

Selanjutnya:Bagaimana jika di usia ini anak kehilangan sosok orangtua? >>


2 Comments - Write a Comment

  1. bagus banget artikelnya,,, hal ini jadi tamparan berat buat saya, karena quality time yang coba saya bangun dengan faeyza (anak sy usia 9 bln) terbatas, selain itu terhalang oleh pengasuh yang deket banget sama faeyza….
    jadi nya gegana (gelisa galau gundah gulana) huhuhuhuuu… -_-“

  2. biar bagaimanapun untuk keluarga yang ayah-ibu bekerja pagi sampai sore, anaknya harus dijaga oleh suster. anak saya berumur 14 bulan dan diasuh sama suster yang menjaganya sejak lahir. setiap saya pulang kerja, disitulah waktu saya bermain bersama anak saya. jadi tidak seharian penuh bersama suster. tidur pun bersama saya, lalu saya sering mengajak dia ngobrol (meskipun belum jelas berbicara). kadang pagi sebelum kerja, saya juga memberinya bubur bayi sehat agar dia tetap merasakan kehadiran ibunya. hanya perlu bijaksana mengatur waktu agar anak tetap merasakan kehadiran orangtua bukan hanya bergantung pada suster

Post Comment