Saya Resah…

mother-hug-sonMendengar berita akhir-akhir ini, saya patah hati. Saya patah hati karena yang saya dengar adalah berita-berita tentang kekerasan yang korbannya adalah anak-anak. Ada yang diculik dan dianiaya oleh pacar ibunya sampai cidera otak dan patah tulang, ada yang ditinggalkan begitu saja di tempat umum, ada pula yang dibunuh oleh ibu kandungnya sendiri, dan yang sedang heboh sekarang, siswa TK internasional di Jakarta yang jadi korban kekerasan seksual di sekolahnya.

Berita-berita itu membuat saya resah. Saya makin sadar kalau lingkungan sudah semakin tidak aman untuk anak-anak. Bahkan di sekolah atau di rumah sekalipun! Gak kebayang gimana remuknya hati ibu korban saat tahu anaknya menjadi korban kekerasan seksual. Saya yang hanya mengikuti pemberitaannya aja rasanya sakit hati, apalagi ibu si korban :’(. Belum lagi membayangkan trauma psikologis yang dialami si korban. Berapa lama pemulihannya? Apakah traumanya bisa hilang? Kalo gak bisa, lalu gimana?

Duh, hati saya mencelos berulang-ulang rasanya setiap mengikuti perkembangan kasus ini. Karena saya juga seorang ibu, mau gak mau saya jadi kepikiran dengan anak sendiri. Kalau sekolah pun sudah jadi tempat yang gak aman, apa iya saya harus meng-home-schooling-kan anak saya? Kalaupun sudah di-home-schooling-kan, kan anak tetap butuh bergaul dengan teman-temannya. Nah, teman-teman inilah yang kita gak bisa kontrol. Kita mungkin sudah membekali dan membentengi anak-anak kita dengan mengenalkan sex education dan mengajak mereka untuk mengenal Tuhan sejak dini dengan harapan mereka dapat menghindarkan diri dari hal-hal yang gak baik di luar sana, tapi kita gak tau sekuat apa pengaruh buruk lingkungan di luar sana. Seperti saat berkendara di jalan raya, kita sudah hati-hati, tapi kalo orang lain gak hati-hati, kan, bisa celaka juga.

Dari kasus ini, saya jadi belajar satu hal, orangtua harus bisa menjadi “tempat kembali” buat anak. Saya salut dengan kedekatan yang dibentuk antara siswa TK korban pelecehan dengan sang ibu. Kedekatan itu pastinya yang telah membuat sang ibu ngeh dengan perubahan sikap anaknya dan akhirnya bisa membujuk si anak untuk menceritakan kejadian yang dialaminya. Saya ingin jadi ibu seperti itu. Saya ingin kelak Gendra bisa bebas bercerita kepada saya tentang apa saja. Saya ingin sayalah yang pertama kali tahu apa saja yang telah dialaminya, baik atau buruk. Saya ibu bekerja, tapi saya harus bisa jadi teman terdekat dan terpercaya buat Gendra, karena saya mau dan harus bisa! Kita harus bisa, Mommies, untuk anak-anak kita. Semoga, ya :)


One Comment - Write a Comment

  1. saya selalu kehabisan kata2 tiap ada bahasan2 ttg kekerasan terhadap anak. bingung mau comment apa.
    takut, khawatir, campur aduk jd 1.. kekerasan seksual, fisik, psikis, bullying temen sekolah atau apa lah namanya..
    ah speechless deh, gak tau mau bicara apa.. dirumah disayang2, dipeluk, lari2 lucu becanda.. eh diluar malah dijahatin sm orang lain..

Post Comment