Berbagi Rahasia Keuangan Dengan Anak

Kalau ada yang bertanya, siapa yang merasa dekat dengan orangtua? Saya pasti akan menunjuk tangan tinggi-tinggi. Sejak kecil saya merasa dekat dengan ayah dan ibu saya. Setiap ada kejadian apa, saya pasti cerita. Saya termasuk orang bawel yang hobi cerita. Itu makanya, saat sesekali mama main ke kantor atau teman-teman main ke rumah, tanpa saya perkenalkan pun mama bisa langsung menebak teman-teman saya itu namanya siapa, saking detailnya saya cerita.

IMG_9960

Namun saat mama meninggal saya jadi berpikir ulang tentang kedekatan saya dan mama. Sebagai seorang muslim, saya dan ayah saya langsung menyusuri rekan-rekan mama yang cukup dekat, bahkan mendatangi tukang kredit dan tukang sayur langganan mama, satu hari usai mama meninggal. Kami menanyakan apakah mama menyisakan utang, bila ada yang menjawab ada langsung kami bayar saat itu juga. Kalau di muslim kan katanya hutang bisa mengganjal seseorang masuk surga.

Usai membayar hutang-hutang mama, ayah saya sempat mengatakan bahwa ada beberapa rekan mama yang mempunyai hutang yang cukup lumayan sehingga seharusnya beberapa hutang mama terbayar dari piutang tersebut. Namun saat itu saya sendiri tidak pernah mendengar langsung berapa nominal uang yang mama pinjamkan ke teman-temannya tersebut sehingga saya lebih memilih untuk merelakannya saja dan menganggap itu merupakan salah satu amalan mama yang mudah-mudahan bisa menjadi penambah pahalanya di akhirat. Amin.

Pembukaannya terlalu panjang lebar ya, inti yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini adalah bahwa kita harus sangat terbuka kepada anak terkait investasi yang kita miliki, cicilan yang harus dibayar, hutang yang belum terlunasi, dan piutang yang belum tertagih.

Setelah hampir empat tahun mama meninggal, saya sempat dikagetkan dengan tagihan dari seseorang yang saya kenal yang katanya mama menunggak membayar sesuatu sehingga didenda cukup tinggi dan saya harus membayar sekitar Rp1,5 juta. Padahal untuk kasus ini, saya sempat mendengar sendiri dari mama kalau beliau sudah membayar lunas tagihan tersebut beberapa bulan sebelum mama meninggal. Bahkan waktu itu, mama sempat meminta saya untuk menambah beberapa ratus ribu agar uangnya genap.

Sebenarnya saya tidak keberatan membayar tagihan tersebut (bila memang benar), tapi karena saya mendengar sendiri terkait tagihan tersebut dari mama dan melihat track record orang yang memberi tahu saya itu yang kurang bagus, saya jadi ragu-ragu untuk membayar. Saya jadinya berpikir, jangan-jangan cuma bisa-bisanya dia aja?

Selain hutang, tagihan dan cicilan, menurut saya hal yang paling penting untuk diberitahu kepada anak kita adalah investasi yang kita miliki, entah itu tabungan, rumah, tanah, sawah, kebun, atau mungkin kendaraan. Jangan sampai saat kita tiada, investasi yang kita miliki untuk keturunan kita juga ikut tiada. Apalagi bila surat-surat dari investasi tersebut masih atas nama orang lain, atau sudah atas nama kita namun dititipkan ke orang lain, entah itu ke orangtua kita, atau orang yang kita percaya untuk memegang surat-surat tersebut.

Saat menitipkan surat-surat itu mungkin kita berpikir daripada kita simpan sendiri malah hilang, lebih baik dititipkan saja ke orang yang kita percaya. Apalagi orang tersebut masih kerabat, bahkan mungkin orangtua kita sendiri. Apalagi lahan tersebut juga mereka yang memanfaatkan dan kita hanya menerima hasilnya karena beda kota.

Bukannya berburuk sangka dengan orang-orang kepercayaan kita nantinya, namun alangkah lebih baik bila anak kita sendiri (bila ia sudah dewasa,), mengetahui dapur keuangan kita. Kan kita tidak tahu umur seseorang. Menurut Mommies pentingkah kita berbagi rahasia keuangan dengan anak?


2 Comments - Write a Comment

Post Comment