Membuat Bekal Sekolah: PR Terbesar!

Saat ini rasanya lebih mudah untuk menerapkan gaya hidup sehat, terutama dengan sarana internet dan sosial media; sharing is everything. We adopt some healthier lifestyle, for the sake of better quality of life. Tapi ada satu nih, ‘trend’ hidup sehat yang masih juga jadi ‘hard limit’ saya; membawa(kan) bekal untuk anak ke sekolah. Ya ampuuun….susahnyaaa…! Membuat bento yang kini banyak dilakukan oleh mommies, seperti Ira yang menyiapkan bekal komplit untuk Nadira, nasi bento ala Puandinar, semuanya sih klaimnya, ‘gampang kan?’.

Saya membayangkannya, aduuh itu item yang harus dimasak kok banyak betul, printilannya juga, terus kalau anaknya harus berangkat jam enam pagi, ibunya bangun jam berapa? Menyiapkan sarapan pagi yang sederhana asal sehat saja sudah top banget deh buat saya. Nah, harus menyiapkan bekal lengkap berisi karbohidrat+protein+sayuran, dihias lagi! Waduh, manajemen dapurnya mesti canggih dong ya? Dan, segudang mental block lain yang membuat saya sampai saat ini belum bisa juga membawakan bekal yang ‘representatif’ buat anak saya.

Lalu, saya menyimak gerakan ‘Aku Anak Sehat’ dari Tupperware Indonesia, yang mengampanyekan dan menyebarkan kebiasaan hidup sehat, salah satunya membawa bekal makanan bergizi ke sekolah kepada para murid SD di Indonesia. Yes, merasa tertampar berkali-kali, pasti. Anak usia sekolah merupakan kelompok umur yang rawan terhadap masalah kesehatan, padahal, kondisi kesehatannya sangat berpengaruh pada pencapaian prestasi. Jajanan di kantin dan lingkungan sekolah, apalagi yang tidak higienis, sangat berpotensi menyebabkan masalah kesehatan pada anak.

Harusnya sih kita sebagai orangtua sudah aware ya dengan hal itu. Tapi, saya kemudian mencoba mengingat, apakah saya pernah berdiskusi dengan anak tentang jajanan sekolah. Apakah saya sendiri pernah melihat, makanan apa saja yang dijual di kantin dan sekitar sekolah. Duh, rasanya belum pernah. Mungkin pernah, tetapi hanya sekilas. Mengandalkan pada sekolah untuk memberikan edukasi tentang jajanan di sekolah? Duh, rasanya apatis sekali saya terhadap hal ini.

Selanjutnya: Sejuta makna di balik sebuah bekal buatan ibu >>


Post Comment