Parenting Pressure: Curhatan Mimin

Sambil sekalian membuka jati diri. Haha.

Jadi saya adalah salah satu admin akun twitter @24hrParenting dan juga barengan sama tim, kami memanage website 24hourparenting.com. Tentunya banyak untungnya:

  1. Sekalian belajar, karena semua kontennya ditulis oleh mereka yang ahli.
  2. Nggak jarang, advice parenting dari psikolog itu cocok-cocokan, ya nggak sih? Ya, kalau saya pribadi, merasa cocok dengan para ahli yang menulis di 24hourparenting.com, jadi karena sreg dengan pandangan-padangannya, senang juga melakukan pekerjaannya dan menerapkannya.
  3. Banyak denger curhatan ortu lain, jadi nambah wawasan dan (semoga) bikin saya jadi lebih bijaksana.

Tapi, tentunya jadi nggak jarang dianggap lebih mahir oleh ortu lain yang tahu aktivitas saya ini. Padahal belum tentu lho :p, apalagi saya bukan psikolog, latar belakang pendidikan saya adalah komunikasi. Tentunya saya bantu jawab dengan merujuk pada konten-konten yang ada di 24hourparenting.com atau cerita pribadi aja, kalau kebetulan saya pernah mengalami hal yang sama.

Nah, tapi kadang ada aja tuh terbersit di kepala, aduh gimana kalau saya nggak bisa menerapkan apa yang sudah saya baca? Gimana kalau ternyata “hasilnya” adalah anak saya nggak “behave”. Dan beberapa kekhawatiran lainnya, yang mungkin dimiliki juga oleh kebanyakan ortu dan bukan oleh admin akun parenting aja. :p

Atau, kalau lagi insecure, jadi mikir, kira-kira orang lain komentar apa ya?

gossip*Gambar dari sini

Mungkin kayak gini nggak, ya?

Yaaah yang kerjanya di dunia parenting aja nggak bisa bikin anaknya anteng.

Duh, itu anaknya yang pegang website parenting, daritadi bikin ribut melulu.

Liat deh, anaknya dia aja nggak mau salaman pas kenalan.

Hahaha.

Ya tentunya ini pikiran-pikiran yang muncul di kepala saya aja. So far, belum pernah ada yang ngomong begini ke saya dan belum pernah juga saya mencurigai siapa pun.

Anyway, put too much pressure on myself?

Mungkin. Tapi lebih karena mikirnya, wah harus walk the talk, nih. Berusaha menjalankan apa yang saya informasikan ke orang lain saat mengadmin akun twitter ataupun saat menerbitkan konten di 24hourparenting.com.

Pressure yang positif? Semoga.

Apakah saya sanggup walk the talk semuanya? Nggak tahu. :p

Di lain sisi, semakin saya banyak baca tulisan para psikolog ini, juga pas ngobrol sama mereka saat ada event talkshow, ditambah lagi banyak denger cerita ortu lain, semakin justru saya nggak khawatir dan semakin mengerti bahwa: setiap keluarga punya latar belakang, cara, kebutuhan dan situasi yang berbeda-beda. Jadinya? Saya jadi lebih terlatih untuk memahami (dan mungkin memaklumi) situasi keluarga lain. Dan termasuk memahami (dan memaklumi) diri saya dan keluarga saya. Mungkin ini yang terpenting.

Walau memberikan so called “pressure”, but I love my job.

Nah ini adalah salah satu konten favorit saya dari rubrik #ParentingJourney di 24hourparenting.com. Postingan lama, dan saya masih suka baca berulang, sebagai reminder terutama karena berkaitan dengan “waktu”, faktor yang seringkali paling “menekan” dalam peran sebagai ortu >> “Berapa waktu yang harus diberikan untuk anak?”.

Dan oh, iya, Mommies yang belum pernah mampir, mari berkunjung ke 24hourparenting.com, dan coba kira-kira kalau Mommies jadi saya bagaimana? *tutup muka* :p

Yulia Indriati adalah content manager di 24hourparenting.com. 24hourparenting.com adalah adalah situs parenting yang memuat how-to-parenting, singkat dan to the point, juga membahas tentang menjadi orangtua, dan ide kegiatan ortu-anak. Dilengkapi visual yang semoga asik. Diasuh oleh psikolog dan orangtua.

 

 


2 Comments - Write a Comment

  1. Pas baca ini, langsung ngebatin “GUE BANGET”, haha..
    Kalo lagi insecure, iya suka ngerasa “ih ntar apa kata orang ya, kok ibunya di situs parenting, tapi anaknya suka ngambek”, atau kalo lagi sumbunya pendek alias nggak sabar sama Langit, “ntar kalo ada yang lihat dan ngenalin, gimana ya komentarnya..”

    GR emang, sih, siapa eloooo, Lita? Hahaha.. tapi spontan aja yaaa.. namapun praktik sama teori kadang nggak sodaraan :p

  2. laahhhhh… padahal kan ya, nggak ada manusia yang sempurna. rasanya nggak mungkin juga anak-anak duduk manis dan anteng meski ortunya kerja di dunia parenting. karena anak-anak tetaplah anak-anak. gampang nangis, gampang ketawa, gampang diajak main tapi juga gampang ngambek. begitulah anak-anak kan ya *malah curhat, hihihi

Post Comment