Family Friday: Nindy Ayunda, Ingin Jadi Orangtua yang Fleksibel

Pertama kenal dengan perempuan bernama lengkap Nindy Ayunda ini, ketika saya harus mewawancarainya untuk sebuah majalah pria dewasa, tempat saya berkerja dulu. Sudah, bisa dipastikan, ya, obrolan saya dulu nggak akan jauh-jauh dari pembahasan seputar pria. Tipe pria seperti apa yang bisa memikat hatinya, sampai soal cinta-cintaan.

Nah, setelah beberapa tahun berselang, belum lama ini saya bisa bertemu lagi dengannya. Secara keseluruhan memang nggak ada perubahan dari perempuan berdarah Padang ini. Masih tetap cantik dengan tubuh yang langsing dan ramah! Tapi, memang, sih, pebawaannya jadi terlihat lebih dewasa dan jadi keibuan. Mungkin karena sekarang Nindy, sudah punya satu orang anak, ya, Abhirama Danendra Harsono.

Waktu itu Nindy pun banyak share pengalamannya sebagai ibu. Mulai dari memberikan ASI untuk Abhi hingga gaya parenting yang ia pilih. Simak, yuk, obrolan saya dengannya.

Hallo Nindy, sudah lama banget, ya, nggak ketemu…

Iya, nih, dulu terahir ketemu sebelum aku nikah, ya? Sekarang sudah punya anak.

Sekarang selain ngurus keluarga terutama Abhi, lagi sibuk apa?

Mulai nanyi lagi, dan promosin album terbaru, ‘Cinta yang Baru’. Harusnya, sih, rilis beberapa tahun lalu, tapi akhirnya tertunda karena hamil dan sibuk ngurus anak dulu, baru deh launching sekarang. Selain itu, sekarang kan Abhi juga sudah satu tahun lebih, jadi sudah bisa ditinggal. Yah, mungkin sudah waktunya, dan merasa terpanggil untuk nyanyi aja kali, ya. Selama dua tahun ini nggak nyanyi, rasanya tuh sudah rindu banget.

Tapi pasti senang, dong, karena sudah bisa kasih ASI eksklusif?

Iya, alhamdulillah aku bisa kasih full ASI ke Abhi selam satu tahun. Niatnya mau kasih ASI sampai anak aku 2 tahun.

Ceritain dong, suka duka pertama kali kasih ASI?

Jujur aja, awalnya tuh agak hopeless untuk bisa kasih ASI ke Abhi, karena ASI ibuku dulu katanya sedikit sekali. Jadi sedikit takut kalau ternyata produksi ASI aku juga nggak bagus. Tapi aku selalu berpikiran postif aja. Saya bisa kasih ASI, saya bisa kasih ASI, kalimat-kalimat ini terus yang saya bilang dalam hati. Dulu kepikirannya, paling nggak untuk 6 bulan aja, deh. Eh, nggak taunya bisa berlanjut sampai sekarang. Dulu, pertama menyusui juga sempat nangis-nangis karena sakit, sampai payudara aku juga luka. Tapi ya karena tetap aku kasih ASI, sembuh juga akhirnya.

Nggak tahu kenapa, Abhi juga nggak mau minum ASIP di botol ataupun lewat sendok. Jadi, ya ASIP aku dulu jadi nggak kepakai. Maunya nyusu langsung. Makanya sampai 6 bulan aku selalu ke mana-mana sama anakku, nggak bisa pisah deh.

Nindy

Pengalaman menyusui ini banyak hal yang bisa dipetik, dong, ya?

Intinya, kan kalau mau menyusui kita juga harus merasa happy. Jadi sejak aku hamil sudah berusaha untuk merasa happy terus. Walaupun aku suka ribut sama suami, tapi aku berusaha terus happy. Namanya dulu kan pengantin baru pasti suka ribut-ribut kecil, ya. Kalau aku lagi kesel, 5 menit kemudian aku selalu berpikiran, “Ya sudahlah, lupakan saja. Gue kan harus sukses nih kasih ASI, kalau stres atau kesel kan nggak bisa” Hal-hal seperti ini sih yang akhirnya terus memotivasi aku.

Jadi, pastinya ada banyak banget sih pelajaran yang bisa aku petik dari menyusui. Aku jadi bisa banyak belajar bagaimana membangun pikiran yang positif, yang jelas lingkungan sekitar juga harus mendukung apalagi suaminya.

Waktu itu keterlibatan suami seperti apa?

Suami cukup banyak membantu, kok. Tapi memang pada proses aku ngerasa payudara sangat sakit aku juga sempat kepikiran lanjut apa nggak, ya, kasih ASI-nya. Sempat takut nggak bisa lanjut. Waktu itu suami juga bilang, ‘Ya sudah kalau memang mau dikasih susu formula ya nggak apa-apa.” Mungkin karena dia nggak tega melihat aku, ya. Tapi aku yakin, bisa terus nyusuin. Suami sih selalu mendukung aku, ya.

Sudah jadi seorang istri dan ibu, pelajaran apa yang bisa Nindy petik?

Hidup lebih teratur, dulu biasanya kan aku sukanya tahu beres aja. Apa-apa taunya sudah beres. Kalau sekarang nggak bisa begitu lagi. Eh, tapi untuk hal ini ada hal-hal masih suka begitu, sih, banyak dibantu sama suami.

Sebagai ibu yang terjun di dunia hiburan, pandangan Nindy terhadap acara-acara yang lebih terlihat seperti eksploitasi anak, seperti apa?

Selagi tayangannya itu porsinya memang masih untuk anak-anak, sih, it’s ok. Acara seperti itu memang juga harusnya bisa bertanggung jawab. Maksudnya, itu kan acara untuk pencarian bakat anak-anak, jadi harus dilihat juga sih kesiapan psikologis dan mental anak-anaknya juga. Kalau untuk anak-anak yang usianya masih di bawah lima tahun aku sih memang kurang setuju, ya. Mungkin kalau sudah sedikit besar, misalnya di tinggkat SD, itu nggak apa-apa. Tapi kalau misalnya untuk anak-anak yang harus main sinetron yang kejar tayang, kok, kasian anak-anaknya, ya?

Kalau Abhi diajak untuk main sinetron, gimana?

Wah, kalau untuk sinetron nggak deh. Mungkin nggak akan setuju kalau anak saya main sinetron, menurut aku nggak kurang keren, hahaha. Kalau untuk iklan mungkin masih nggak apa-apa, ya. Satu dua jam kerja juga selesai.

Aku nggak mau maksain, sih, kalau Abhi sudah besar harus seperti apa. Tapi kan Abhi kan memang anak laki-laki, jadi aku sama suami mau menekankan untuk mengajarkan anak untuk bisa belajar bertanggung jawab, apalagi nanti dia juga akan jadi kepala rumah tangga. Kalau memang dia suka nyanyi, mungkin ada baiknya dijadiin sambilan aja karena memang hobi.

Gaya parenting yang Nindy terapkan bersama suami ke Abhi, seperti apa, sih?

Aku dan suami sih maunya bisa dekat sama anak. Bisa jadi sahabat, tapi anak juga harus punya respect sama orangtua. Supaya anak juga bisa bersikap nggak seenaknya, nggak punya rasa hormat sama saya dan suami. Mungkin bisa dibilang, saya dan suami sama-sama belajar untuk nggak jadi orangtua yang kaku, maunya bisa jadi orangtua yang fleksibel.

—–

Mudah-mudahan saja, lewat cerita Nindy ini ada insight yang bisa Mommies petik dan terapkan di rumah juga, ya!


Post Comment