Ketakutan Saya Jadi Orangtua (Baru)

no-clue.gif*Gambar dari sini

Setiap (calon) orangtua pasti punya ketakutan sendiri, ya, saat testpack menunjukkan positif atau bahkan sejak merencanakan kehamilan. Saya ingin berbagi ketakutan saya, yang mungkin aneh buat orang tua lain karena saya nggak pernah mikir soal uang sekolah yang mahal, anak nggak kenyang, dan gendut-nggaknya anak. Itulah kenapa saya dari awal memang nggak terlalu khawatir soal ASI sedikit atau sibuk menabung uang pendidikan (jangan dicontoh, lho!).

Yang saya khawatirkan ketika itu:

  • Membersihkan pup anak

Dari zaman saya harus cebok sendiri saja saya sudah jijik dan menganggap spray cebok adalah penemuan tercanggih abad ini, apalagi kudu cebokin orang lain biarpun itu anak sendiri! Saya kepikiran banget waktu itu bagaimana caranya membersihkan pup bayi tanpa kontak dengan si pup. Pakai cotton ball seperti di RS jadi boros karena satu kapas cuma satu usap. Sempat mencoba pakai baby wipes, saya tetap jijik karena tipis sangat, yaa, ewww… Akhirnya yang lumayan sukses pakai lembaran kapas kecantikan itu. Cukup tebal dan setelah dilipat bisa buat sekali usap lagi *pelit.

  • Menjaga anak tetap hidup

Sejak hamil saya paling parno baca dan dengar cerita tentang janin yang meninggal dalam kandungan atau bayi yang meninggal mendadak. Kalau memang didahului sakit, yah, katakanlah ada proses lah, ya. Nah, yang mendadak ini, kemarin janin masih tendang-tendang tahu-tahu besok sudah divonis nggak ada, hiks. Atau berita tentang bayi yang disusui lalu meninggal. Pastinya bukan karena ASInya, ya. Bisa karena posisi yang salah atau ada sebab penyakit lain yang luput diketahui sebelumnya. Belum lagi yang SIDS (Sudden Infant Death Syndrome). Jadinya selama hamil saya akan parno berat selama tiga bulan pertama sebelum janin terasa tendangannya, dan bulan-bulan berikutnya rutin mencolok perut supaya si adek membalas tendangan. Kelak setelah lahir, saya tidak pernah menidurkan bayi tengkurap sampai usianya menginjak setahun.

  • Memantau perkembangan anak sesuai buku

Terutama anak pertama, nih. Kalau ada perkembangan yang nggak sesuai buku, langsung panik. Untungnya Darris (D1) termasuk by-the-book baby banget..haha. Coba saya dapat model Dendra (D4, si bungsu) sebagai anak pertama, bisa stres sendiri lihat growth chart yang nggak geser-geser dari batas bawah grafik :D.

  • Anak berdarah

Sudah ‘bawaan orok’ saya takut darah. Waktu kecil, ibu saya yang tergores besi mobil dan berdarah, saya yang nangis jejeritan. Dipaksa datang saat Qurban di sekolah demi nilai, saya histeris dan akhirnya boleh pulang. Saya kemudian khawatir, kalau anak terluka bagaimana? Saya yang pingsan nggak lucu, dong? Walau berdoa semoga nggak perlu mengalaminya langsung, ternyata namapun anak, ya, ada saja. Dari Darris yang jatuh lalu kena mainan logam bersisi tajam sampai berdarah semuka, Dellynn yang terbentur tempat tidur sampai gusinya sobek dan lepas (lalu nekat saya pasang lagi), plus Devan dan Dendra yang seperti balita lain once a while lari-larian lalu meleng dan jatuh atau kejedot di sekitar mulut lalu berdarah.

  • Nggak telaten

Telaten nampaknya bukan keyword dalam hidup saya. Dari kecil saya sudah kelihatan nggak sabaran dan cepat ngambek kalau harus mengerjakan aktivitas yang membutuhkan ketelatenan. Kebayang, kan, kekhawatiran saya kalau harus menghadapi bayi kecil yang demanding dan harus diurusi terus menerus. Belum lagi nanti agak besar harus disuapi sampai berjam-jam. Atau harus mengajari jalan atau bicara atau baca atau lainnya berulang-ulang @_@ pusing duluan bayanginnya!

  • Membagi cinta saat punya anak lagi

Iya, lho, sebelum saya punya anak empat, saya juga pernah galau. Takut cinta dan perhatian ke anak pertama jadi berkurang karena ada adik-adiknya. Saya takut mengurus anak besar akan ‘membosankan’ dibanding keseruan bayi baru. Takut juga cinta saya ‘berpindah’ ke sang adik, apalagi anak kedua perempuan sementara anak pertama laki-laki. Tahu, dong, serunya punya anak perempuan? Tapi ternyata…punya anak lagi nggak mengurangi cinta ke anak pertama. Betul kata pepatah, we extend our love by every child. Semua anak ada pojoknya masing-masing di hati saya :).

Moms to be ada yang punya ketakutan atau kekhawatiran yang sama dengan saya dulu? Sharing, yuk!
Kelak saat sudah bukan lagi mom to be, saya masih punya banyak ketakutan lain, lho. Apa saja itu? Tunggu di artikel berikutnya, ya.


5 Comments - Write a Comment

  1. kalo saya dulu sebelum Gaby lahir, takut nggak bisa urus anak, hehe.. soalnya di keluarga besar saya ga ada anak kecil. jadinya kalo berhadapan sama anak kecil apalagi bayi, dunno what to do :D beneran kaku bgt deh waktu diajakin suami (waktu itu masih calon) ketemu sama keluarga besarnya yg emg besar bgt dan buanyak banget yg punya anak kecil,hihihi… tapiiii ternyata ga semenyeramkan yang dibayangkan kok waktu babynya uda keluar :D

Post Comment