Santai Sebelum Ujian

Beberapa tahun belakangan ini, saya merasa ada yang aneh setiap memasuki masa Ujian Nasional (UN). Pasti ada saja berita negatif, mulai dari kebocoran soal ujian, guru yang rela menjadi joki atau pembawa lembar jawaban untuk murid-muridnya, orang tua yang mandi kembang, anak yang ketakutan saat masa tersebut tiba, bahkan ada yang sampai berujung pada bunuh diri. Seberat itukan arti kata ‘ujian’ bagi anak-anak?

Saya belum merasakan perasaan orang tua yang anaknya menghadapi ujian, tapi saya ingin berbagi sedikit bagaimana dulu orangtua saya terutama almarhum Bapak menciptakan sistem belajar di rumah. Satu catatan khusus, ya, mungkin sistem belajar ini terasa janggal, namun setidaknya saya dan adik jadi less stress dan akhirnya merasa santai setiap memasuki masa ujian. Hal ini tidak hanya berlaku untuk ujian kelulusan tapi di setiap kenaikan caturwulan atau semester. Kebiasaan ini terus terbawa hingga sekarang, setiap mau menghadapi ujian apapun, pasti saya akan santai-santai. Oh iya, saya bukan orang yang menolak UN walau ikut meneruskan tautan soal tolak UN di sosial media, kok. Saya menyesalkan sistem pendidikan di Indonesia yang semakin hari rasanya semakin menurun, sehingga UN terasa (terlihat) berat dan menyeramkan.

Okay, supaya bahasan tidak menjadi berat, mari kita kembali ke topik utama yaitu bersantai sebelum ujian.

Ujian-nasional-sd-Antara

Kunci pertama adalah menjalankan minggu tenang.

Setiap mau ujian kelulusan, seminggu sebelumnya sekolah meliburkan murid-murid dan dinamakan sebagai ‘minggu tenang’. Walau sudah dijalankan sejak SD, tapi yang paling terasa perbedaannya adalah ketika masuk masa sekolah menengah. Sewaktu SMP,  hampir semua teman seangkatan yang sebelumnya memang sudah mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah, akan masuk ke kelas intensif yang diadakan oleh bimbel tersebut. Saya? Saya nggak boleh ikut kelas intensif tersebut. Selain karena harus bayar biaya tambahan (ya namanya keluarga kelas menengah, hehehe, semua harus diperhitungkan, ya!), menurut Bapak, kelas intensif tersebut justru tidak akan efektif. Alasannya adalah kelelahan otak akan menurunkan tingkat konsentrasi.

Jadi apa yang saya lakukan saat masa minggu tenang? Rekreasi dan relaksasi! Saya boleh bermain, membaca buku fiksi atau koran, atau jalan-jalan ke mal. Apapun boleh dilakukan yang penting perasaan senang bisa dibangun dan dijaga. Kenapa? karena perasaan senang ini akan membuat tingkat konsentrasi lebih tinggi.

Kedua, orang tua saya juga tidak pernah memaksa untuk membandingkan diri dengan prestasi orang lain. Do your best! Lakukan yang terbaik versi dirimu kemudian syukuri hasilnya. Walau saya bisa menjaga keberadaan diri di ranah ranking 10 besar setiap tahun semasa sekolah dan mempertahankan IPK di atas 3, namun itu semua bukan karena iming-iming hadiah atau perintah atau bahkan ancaman. Well, pernah sih, pas kelas 4 SD saya dikasih iming-iming jalan-jalan ke Singapura. Tapi itu karena Bapak baca iklan di koran, ada promo airlines yang akan memberikan tiket PP gratis ke Singapura untuk peringkat 5 besar dengan memperlihatkan bukti rapor serta sudah memiliki paspor. Hehehe, waktu itu saya mendapat peringkat 4 di kelas dan dapat, deh, jalan-jalan gratis ke Singapura, berhubung ada saudara yang memang tinggal di sana, jadi tempat tinggal dan makan pun gratis :D

Selanjutnya: Sekolah= tempat belajar! >>


5 Comments - Write a Comment

  1. Kii.. nyokap bokap gue juga yang termasuk santai sama urusan akademis. Dulu pas lagi SD sempat yang anak2nya ini ada jam belajar. Tapi rupanya cara itu nggak mempan di anak2nya *tambeng, haha*. Akhirnya ya, santai aja. Gue sama kakak gue nggak pernah yang namanya ikut les ina itu bimbel, intensif apa dah, selain emang keluarga kelas menengah *toss!* juga mungkin bokap nyokap merasa hal tersebut kurang efektif ya. Terima aja anaknya kemampuan (akademis)nya sejauh apa. Sekarang? Alhamdulillah, not so bad, anak-anaknya :)

    Yap, setuju banget, peran orangtua selalu juara dalam hal apapun, termasuk akademis!

    1. Gue ada jam belajar, Lit, dan gue patuh (HAHAHAHAHA, kenapa ya bisa patuh? Sungguh, gue penasaran supaya bisa begini juga ke Menik)

      Pokoknya anak-anak itu harus tahu bahwa selain 2+2=4, terkadang dalam kehidupan nyata bisa jadi 2+2=5 hehehehe! Kalau guru-guru di sekolah konsen sama si 2+2=4, tugas orang tua, deh, ngasih tau perkara 2+2 bisa jadi 5. =p

  2. Emak bapak gw juga ngga pernah menuntut rangking atau juara, cuma pesan usahakan nilai diatas rata2 kelas. IMO thats quite fair sih ya. Sekarang gw juga ngga nuntut bocah rangking. Tapiiii…sistem sekolah D12 pakai KKM dimana kalau ada 3 matpel nilainya dibawah KKM, anak akan ngga naik kelas :(. Inilah yg gue ngga mau, soalnya ngga naik = extra setahun bayar sekolah dll *anaknya juga klg kelas menengah yaa*.

    Nah D1 kebetulan (kayaknya) jurusannya bukan akademisi, tiap semester selalu bikin gw deg2an soalnya ada aja nilainya yg dibawah KKM. Jadi mau nggak mau gue push supaya diatas KKM. Terus terang gue udah keabisan cara gimana biar dia bisa konsen & fokus belajarnya, tanpa kudu dipush. Udah pernah pakai cara nego/barter, boleh nonton bareng temen asal the next weeks stop gaming dan belajar. Yg ada slintutan tetep gaming dan belajarnya tetep nggak ke kontrol :(.

    So far sih D2 nggak ada masalah soalnya dia lebih into akademik. Belajar & kerjain PR/tugas ngga pakai dibawelin. Nilai juga alhamdulillah dah.

    Coba kak Kiki ada saran gak kudu gimana nih aku sm D1? *malah konsul*.

  3. Adek gue kayaknya mirip sama D1, nih, Kir. Kayaknya karena sistem pendidikan yang lebih kompleks, jadi rasanya lebih ribet, ya, mau ngatasin hal-hal seperti ini.

    KKM apaan, sih, Mak? Hehehee..

    Kalo Bapak dulu rajin, deh, pokoknya ke sekolah anaknya. Beliau mau menjelaskan keadaan anaknya, bahkan pas SMP kalo nggak salah pernah bawa hasil psikotest yang memang membuktikan bahwa adek lebih suka berkesenian dibanding duduk diam di dalam kelas. Nah, sejak saat itu, guru-guru lebih kooperatif dan memperhatikan pencapaian si adek. Jadi nggak ada cerita nilai di bawah peraturan. Jadi kasarnya ditulis nilai minimum aja misalnya nggak sampe ke rata-rata. Biasanya Bapak dan Ibu akan ‘jagain’ adek pas mau ujian kelulusan. Diobrolin tiap makan malam-lah, intinya “ujian yang satu ini harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh, karena kalau tidak lulus, berarti harus mengulang. Dan artinya makin lama untuk bisa menggapai tujuan sekolah menggambar. Bagaimana caranya supaya bisa lulus? Belajar, supaya bisa ngerjain soal ujian. Belajarnya gimana? Baca buku, dan latihan soal.” Mainnya? Nanti pas minggu tenang, dan itu dibatasi, tidak sebebas hari biasa.

    Pinter-pinter cari selah kali, ya! *ngasih saran emang gampang* hahaha Good Luck, Kir!

    Oh tambahan, kata nyokap gue, setiap adek mau ujian, sholat malam+puasa nya ibu lebih khusyuk dibanding biasanya yang buat gue. HAHAHAHA.. Jadi, doa ibu jangan lupa :D

    1. KKM …halah lupa lagi gw singkatan apaan. intinya sih nilai threshold gitu deh Ki. dan itu lumayan tinggi menurut gue. klo negri kan tau lah ya, merahnya baru klo 4 ato 5, lah ini KKM 75 dong. jadi nilai 74 sajah udah ngap2an.

      ahhh, so relieving. kayaknya iya niiihh adeknya kek D1 bingits. guru kelasnya mah dah paham sih Ki, D1 lebihnya dimana. cuman mesti gimananya ini yg belon ketemu selahnya.
      ya baiklah nampaknya doa ibu lagi yg digenjot yaa XD

      thankyouuu

Post Comment