Deteksi Kanker Payudara Sendiri

Sejauh ini dalam sejarah keluarga besar saya memang nggak ada riwayat garis keturunan kanker. Walaupun begitu, apakah saya lantas bisa anteng?

Penyakit kan nggak seperti tamu, yang datang dengan permisi. Setiap kali ada teman atau karabat yang meninggal akibat penyakit mematikan ini, saya pun tambah khawatir. Apalagi setau saya, penyakit kanker memang lebih banyak yang tidak bergejala. Nggak heran, ya, kalau skrining penyakit kanker memang seharusnya dilakukan sedini mungkin. Jika kanker dideteksi dan ditemukan lebih awal, maka pengobatan akan lebih mudah dilakukan. Dan tentunya biaya yang dikeluarkan pun nggak terlalu banyak.

Berhubung saya perempuan, tentu saja kanker yang paling nyeremin adalah kanker serviks dan kanker payudara. Di mana kedua kanker ini sudah jadi pembunuh nomor 1 bagi perempuan. Nggak salah kalau kedua kanker ini jadi momok yang menakutkan.  Sebagai langkah pemeriksaan kanker serviks, sejauh ini saya sudah melakukan papsmear konvensional dan belum lama ini sudah mencoba pemeriksaan LBC. Alhamdulillah hasilnya menunjukan saya sehat *sujud syukur*. Sedangkan untuk pemeriksaan kanker payudara, saya cukup rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).

Waktu mengikuti media diskusi bersama beberapa dokter dari RS. Pondok Indah- Puri Indah, saya jadi lebih paham bagaimana cara melakukan pemeriksaan payudara sendiri. Waktu itu, dr. Cahyo Novianto, M.Si.Med, SpB-Onk, ahli bedah onkologi dari RS Puri Indah mengatakan ada baiknya para wanita rutin melakukan skrining sendiri di rumah. Ia menganjurkan, waktu yang paling tepat dilakukan beberapa hari setelah menstruasi atau yang disebut dengan DELAPAN (DEteksi berkaLA Payudara ANda(H 8-10 ).

breast-cancer

Kenapa? Karena jika dilakukan bertepatan dengan menstruasi, payudara akan dipenuhi hormon estrogen, yang dapat membuat payudara lebih keras dan berbenjol-benjol. Dengan begitu akan sulit mendeteksi mana benjolan yang merupakan pembengkakan. Nah, jika memang ternyata ada perubahan pada payudara, seperti perubahan warna kulit, benjolan, rasa nyeri atau sakit, terlebih jika ada pembengkakan di ketiak/axilla, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

Waktu itu, dr Cahyo pun mengajarkan cara skrining kanker payudara dengan SADARI. Caranya, “Berdiri menghadap cermin yang besar. Angkat tangan Anda ke atas kepala. Perhatikan apakah ada benjolan atau kelainan lain pada payudara Anda,” paparnya. Kemudian, untuk lebih memastikan lakukan dengan pemeriksaan pijatan kecil pada payudara. Di mana kita bisa menggunakan 3 jari, yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis.

“Pijat lembut dari atas (bagian luar payudara) sampai ke bawah. Lakukan dengan gerakan memutar seperti ular sehingga makin lama pijatan makin mengarah ke bagian tengah (puting) payudara,” jelas dr Cahyo lagi. Baca langkah-langkahnya di artikel ini.

Ahli bedah onkologi ini juga bilang, kalau banyak perempuan yang enggan melakukan skrining kanker payudara lantara takut jika ditemukan kanker pada payudara. Akibatnya, payudara pun diangkat agar sel kanker tidak menyebar ke seluruh tubuh. Padahal, kondisi sebenarnya tidak demikian. Tindakan operasi pengangkatan payudara baru akan dilakukan jika kanker payudara sudah memasuki stadium 3 atau stadium lanjut. Jika kanker sudah diketahui sejak dini, proses penyembuhan bisa dilakukan dengan kemoterapi. Bahkan katanya, “Kalau sudah diketahui sejak dalam tahapan pre-kanker, bisa sembuh 100 persen,”

Nah sebelum terlambat, rasanya kita memang wajib lebih mawas diri, ya. Selain bisa melakukan skrining SADARI di rumah, jangan lupa perbanyak aktivitas fisik dan selalu jalankan pola hidup sehat.

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment