30 Menit Untuk Seumur Hidup

Beberapa hari lalu saya mengikuti kultwit dari sebuah akun Twitter tentang parenting, @tentanganak. Kultwit itu menjelaskan tentang pentingnya orangtua untuk mengalokasikan waktu MINIMAL 30 menit dalam sehari untuk membangun kedekatan dengan anak. Bentuknya bisa bermain, jalan-jalan, atau sekedar ‘ngeruntel’ di kasur sambil kelon-kelonan. Ya, 30 menit minimal dan TANPA interupsi gadget tentunya!

Menurut kultwit tersebut, kegiatan ini, jika dilakukan rutin, akan “imprinted” di dalam jiwa mereka, membentuk karakter, dan akan mereka ingat hingga dewasa nanti. Hmm, sepertinya ini memang bukan sekedar teori, karena saya mengalaminya.

hands_mommiesdaily

Ketika kecil dulu, bapak saya adalah karyawan yang sibuk. Bekerja Senin hingga Sabtu. Berangkat pagi-pagi dan baru bisa pulang ke rumah minimal setelah Maghrib. Seringnya, Bapak lembur dan baru sampai di rumah dini hari ketika seisi rumah sudah tidur. Sehari-hari saya hanya bersama ibu dan adik-adik. Kalau melihat rutinitas Bapak yang seperti itu setiap harinya, orang-orang pasti akan menganggap Bapak adalah tipe orangtua yang gak dekat dengan anaknya. Saya sendiri juga sempat berpikir begitu sampai saya mengikuti kultwit dari @tentanganak dan mencoba me-recall ingatan saya tentang pengalaman di masa kecil.

Saya kaget karena yang bisa saya recall adalah justru kegiatan saya dengan Bapak. Saya bahkan heran karena saya gak bisa me-recall pengalaman kedekatan masa kecil saya dengan Ibu yang sehari-hari bersama saya.

Saya ingat, waktu saya kecil dulu Bapak sering mendongeng untuk saya dan adik sebelum tidur. Bahkan saya masih ingat dongeng-dongeng apa saja yang sering Bapak ceritakan. Sambil mendongeng, Bapak juga sering mengajak kami membentuk bayang-bayang dari tangan. Kalau saya sakit, Bapak sering memijat-mijat kaki mungil saya. Saya juga ingat Bapak sering mengantar saya ke tempat mbah, dibonceng naik motor, badan saya diikatkan ke badan Bapak pakai jarik biar gak jatuh, hehe. Dari situ saya sadar, Bapak bukan tipe ayah yang cuek dengan anak-anaknya walaupun ia sibuk bekerja. Bapak berhasil membangun kedekatan dengan anaknya.

Dari kultwit itu dan hasil recall memori saya waktu kecil dulu, saya sadar bahwa hal-hal kecil yang rutin dilakukan untuk membangun kedekatan orangtua dengan anak sangat penting. Saya ingin ketika Gendra besar nanti, ia akan ingat saat-saat membahagiakannya bersama saya. Apalah artinya 30 menit dibanding 8 jam atau bahkan lebih, waktu yang kita habiskan untuk bekerja di kantor? Because they deserve more than your presence. Apalah artinya kehadiran kita jika pikiran dan jiwa kita tidak bersama mereka?

Saya berharap, beberapa tahun ke depan, jika saya masih menyandang status sebagai ibu bekerja, pekerjaan saya tidak akan merampas waktu saya untuk Gendra. Cos I need more than that 30 minutes!


3 Comments - Write a Comment

  1. betul bangeeet! bapak ibuku jg kerja tp dulu kita selalu main rumah2an di kasur (semacam ngumpet dalam selimut sambil kelonan gituu) dan sampe skr aku ingeeet bgt. makanya skr walaupun ak cum aktemu sejam sbelum anakku tidur,ak jg berusaha bikin ritual sm dia termasuk rumah2an ini :))

  2. Waah, gue juga inget banget memori sama Papa waktu kecil. Beliau rajin dongengin tiap malam, terus mau aja diajak main sama anak2nya yang cewe2 ini. Jadi kuda2an sampe kalo kami main salon2an, dikuncir2 segala macam. Kalo sama Mama, mungkin keseringan menghabiskan waktu sama dia ya? Haha.. Maksudnya jadi banyak gitu memorinya :)

Post Comment