Diet Demi Kesehatan

Bapak saya, sejak setahun terakhir positif hidup bersama diabetes. Dilihat dari analisa yang dokter berikan, diabetes yang diderita bapak saya akibat dari gaya hidup. Eh, jangan salah berpikir dulu! Bapak saya memang sudah lanjut usia, 66 tahun sekarang. Olahraga, masih rajin dijalani. 4-5x dalam seminggu, bapak saya mengayuh sepedanya selama 1-2 jam. Tak jarang saat akhir pekan, bapak mengendarai sepeda ke kota sebelah dengan total jarak sekitar 60 kilometer lebih sedikit.

Tapi, bapak saya penyuka makanan manis. Kue kering, cokelat manis (bukan dark chocolate), cemilan manis hingga minuman manis adalah makanan dan minuman yang rajin disantapnya setiap hari. Tak lupa, bapak saya juga masih makan nasi putih 2x sehari dan porsinya masih sama seperti yang dulu : sepiring nasi putih. Beda banget dengan saya yang hanya makan 6 sendok makan nasi putih per harinya.

Meski rajin berolahraga, rupanya pola makan bapak adalah faktor terbesar penyebab datangnya diabetes. Sedih dan kaget karena yang kami tahu bapak selalu dalam kondisi bugar. Seumur hidup saya tinggal bersamanya, beliau belum pernah dirawat di rumah sakit karena sakit. Influenza pun sepertinya ogah menghampiri bapak. Pokoknya, beliau jarang mengunjungi dokter atau rumah sakit deh (iya, beda banget dengan ibu saya atau anak-anaknya yang doyan sowan ke dokter).

Mengetahui kondisi bapak sekarang, kami (terutama bapak) merasa was-was. Karena kami baru mengetahui bahwa olahraga saja tidak menjamin bebas dari diabetes. Kali ini, makanan sangat berpengaruh dan mau-tidak-mau bapak harus menuruti diet sehat yang diberikan oleh dokter. Anjuran dokter mengenai makanan yang harus dikonsumsi bapak (mulai dari menu makan hingga jadwal makan) mirip dengan pola makan yang saya anut sekarang. Jelas bapak kesusahan untuk berjauhan dari makanan atau minuman favoritnya yang memiliki kadar gula  tinggi. Tak sekedar membatasi asupan gula tambahan, bapak pun diminta membatasi asupan nasi putih dan makanan yang mengandung tepung. Dianjurkan juga, mengurangi makanan yang digoreng. Iya, saat bapak bercerita di awal-awal beliau menjalani diet sehat, beliau merasa sangat sebal dan tidak suka kepada dokter yang mengawasi dietnya. Tapi, demi menormalkan kembali kada gula di tubuhnya, bapak saya mau menjalaninya. Selama proses berlangsung, bapak harus menahan nafsu untuk tidak mengkonsumsi makanan kesukaannya. Dan berat badan bapak ikut menurun seiring menurunnya kadar gula hingga akhirnya mencapai level normal.

Semua senang saat mengetahui bapak kembali sehat. Namun dokter telah memberikan ultimatum diawal. “Diabetes itu bukan penyakit dan tidak bisa disembuhkan. Hanya penderita diabetes itu sendiri yang bisa mengontrol kadar gulanya. Obat yang dikonsumsi pun bukan untuk penyembuh, hanya salah satu penunjang menjaga kadar gula. Jadi, jangan berharap banyak dengan obat.  Ingat, bapak harus jaga makanan mulai dari sekarang. Jangan seenaknya lagi ya. Salah-salah, nanti gula darah bisa naik lagi loh”.

makanan sehat

Terakhir kali saya bertemu bapak, saya lihat kondisi bapak lebih sehat dan makanannya masih sesuai anjuran dokter. Sesekali bapak konsumsi makanan atau minuman yang beliau suka, namun dalam porsi yang lebih kecil. Selain berolahraga, bapak pun aktif berkebun alias menanam beberapa pohon pisang di tanah kosong dekat rumah dengan tujuan selalu bergerak aktif. Meskipun saya masih mendengar cerita betapa sebalnya bapak dengan diet sehat ini, namun saya bersyukur bapak masih mau diatur demi kesehatannya. Karena, menjaga kesehatan itu lebih penting ketimbang mengobati. Setuju?


Post Comment