Motherhood Monday :Tina Wahono, “Belum Ada Anak Bukan Berarti Tidak Bahagia.”

“Tujuan punya anak kan nggak cuma sekedar karena kita ingin ada yang ngurus saat sudah tua nanti. Tapi lebih ke penerus kita, melanjutkan apa yang sudah kita lakukan. Kelak, saya juga mau meneruskan hal kebijakan yang sudah Mama saya ajarkan ke saya,” begitu kata Tina Wahono.

Sebagai perempuan, setelah menikah tentu memiliki keinginan untuk menyandang titel seorang ibu. Tujuannya, persis seperti yang dikatakan Mbak Tina di atas. Saya sendiri sangat setuju dengan kalimat yang diucapkannya ini. Sayangnya, nggak semua perempuan yang sudah menikah dengan mudah memiliki anak. Termasuk Mbak Tina.

Tahun ini, Mbak Tina sudah resmi menyandang status istri Mas Aji selama 7 tahun. Sayangnya, pernikahan mereka belum lengkap dengan kehadiran momongan.  Walaupun begitu,  bukan berarti pernikahan mereka nggak bahagia, lho! Di tengah proses ikhtiar untuk mendapatkan momongan, Mbak Tina pun menjalaninya tanpa ngoyo dan penuh rasa ikhlas. Nggak semua pasangan bisa melakukan seperti ini, kan?

Bahkan nggak jarang ada pasangan suami istri yang langsung memutuskan untuk berpisah lantaran belum memiliki momongan. Padahal, kalau dipikir-pikir, Bukankah dalam pernikahan memiliki anak sebenarnya merupakan bonus dari Allah? Kalaupun memang belum dipercaya  untuk memiliki anak, banyak cara untuk bahagia. Yang terpenting harus ingat komitmen dan janji saat awal menikah dulu.

Gambaran inilah yang saya lihat dari pasangan Mbak Tina dan Mas Aji.  Sebenarnya, perkenalan saya dengan perempuan yang biasa dipanggil Mbak Tina ini bisa dibilang tanpa sengaja yang akhirnya terus berlanjut hingga saat ini. Bukan cuma lantaran saya senang memesan sepatu buatannya atau sekedar main ke workshopnya karena bisa melihat berbagai jenis sepatu yang menggoda, tapi banyak hal menarik yang bisa saya petik darinya. Simak obrolan saya, yuk!

tinaji

Di awal pernikahan, sempat menunda untuk punya anak nggak, Mba?

Dari awal kita sama-sama nggak pernah mau menunda. Semua, ya, dinikmati saja, dikasih cepat alhamdulillah, kalau memang belum, ya, terus usaha aja. Sampai akhirnya, setelah enam bulan menikah kami sempat kontrol ke dokter, dan ternyata hasilnya normal. Dokter bilang kami berdua nggak kenapa-kenapa. Ya sudah, dari sana kita cukup lega. Mungkin memang belum waktunya saja, bahkan sampai usia pernikahan kami masuk 7 tahun.

Dalam rangka usaha punya momongan, sudah sejauh apa?

Selain berobat ke dokter kita juga sudah coba cara lain, alternatif, minum jamu-jamuan, sampai kata orang makan kurma muda, semuanya juga sudah kita coba. Sampai akhirnya setiap tahunnya kita rutin berobat. Memastikan saja semuanya nggak kenapa-kenapa. Yah, namanya umur, dan penyakit kan kita nggak pernah tau, ya.

Sampai akhirnya dua tahun lalu setelah umroh, kita berobat lagi. Waktu itu Mas Aji sempat tanya ke aku, aku mau coba bayi tabung saja? Lalu kita ke dokter untuk konsultasi, waktu itu dokternya ngeyakinin kita apa benar mau bayi tabung? Toh, umur juga sebenarnya masih muda dan dalam kehidupan modern sekarang ini banyak kok perempuan yang melahirkan di usia menjelang 40 tahun. Ya, pasti faktor risiko dan konsekuensinya lebih besar tapi nggak memungkinkan kalau aku bisa hamil dengan kondisi yang alami.

Sebelumnya aku juga sudah suntik hormon, dan minum obat-obatan lainnya. Sampai akhirnya Mas Aji sendiri ngerasa kasian, katanya, kok aku terus yang minum obat-obatan? Memang, sih, Mas Aji juga minum obat tapi porsinya lebih banyak aku.

Bayi tabung itu kan nggak menjamin kalau aku bakal hamil, prosesnya juga nggak gampang dan butuh kesiapan segala-galanya. Nggak cuma butuh kesiapan materi aja, mental sama fisik juga. Kata dokter, prosesnya juga sakit. Untuk menyiapkannya, kondisi aku juga harus disiapkan. Akhirnya kami berdua menunda untuk melakukan bayi tabung karena masih yakin kalau aku bisa, kok, hamil dengan kondisi alami.

Percaya aja, kalau suatu saat juga nanti Allah juga pasti akan kasih kalau memang waktunya tepat. Jadi sekarang sudah di titik ikhlas aja. Toh, kami berdua sudah mencoba dan berusaha.

Nah, kalau menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang nyebelin gimana? Pasti sering, dong?

Kalau aku sama Mas Aji itu kan tipenya memang suka bercanda, ya. Jadi semua dibawa santai aja. Saat kita sudah capek jawab pertanyaan, soal kapan punya anak? Kok, belum punya anak? Mas Aji jawabnya suka sambil guyon, “Iya, nih gue nggak tau beli voucher isi ulangnya di mana.” Ya, itu karena kita sudah sampai di titik malas untuk jawabnya. Ya, lagian siapa sih yang nggak mau punya anak?

Belum dikaruniai momongan, justru sering jadi pemicu masalah dalam rumah tangga atau sebaliknya?

Alhamdulillah, kami jarang berselisih. Jika ada perbedaan, kami selalu mendiskusikannya dalam suasana yang santai, nggak mau pakai urat dan otot, sehingga tidak pernah ada masalah yang terbawa sampai kami tertidur. Saat bangun tidur kami juga sudah happy lagi deh. Berselisihnya pun bukan karena momongan, kok. Dalam hal usaha mendapatkan momongan, kita justru saling menguatkan dan nggak saling menyalahkan.

Biar gimana pun ada saatnya kita jadi istri, sahabat bahkan jadi musuh. Biasanya, saat berselisih, untuk mensiasatinya supaya nggak berlarut-larur rasa sebelnya, kami selalu mengingat saat pertama kali kami jatuh cinta, hahaha. Norak, ya? Tapi itu manjur, lho.

Intinya, sih, dalam hubungan rumah tangga, kami selalu bisa menempatkan posisi kami sesuai porsi. Aku sebagai istri, ya harus tau diri, jangan ‘songong’ dan ada batasan tertentu yang nggak boleh dilanggar. Begitu juga sebaliknya. Buat kami harus bisa saling percaya, jujur, menghormati, mengisi, support, pokoknya serba salinglah. Tapi ya bukan berarti karena istri lantas bisa dilakukan layaknya pembantu, disuruh ini-itu, nggak juga lho. Ketika aku harus berangkat lebih pagi, sementara Mas Aji berangkat belakangan, tugas membereskan kasur dan kamar itu ya jadi tanggung jawab Mas Aji, hehehe. Tapi sebelumnya aku sudah menyiapkan pakaian dan sarapan.

Tapi, sempat terbersit nggak rasa takut kalau suami akan selingkuh, atau bahkan minta izin untuk poligami?

Setiap hal yang dilakukan dalam upaya mendapatkan keturunan kami selalu bersama, jadi aku yakin sekali kalau alasan selingkuh hanya demi mendapatkan anak, suamiku nggak sebodoh itu. Lain soal kalau secara medis memang salah satu dari kami dinyatakan mandul, dalam hal ini mungkin aku yang dinyatakan demikian, ya aku harus merelakan. Tapi kondisi kami kan nggak demikian.

Pelajaran penting yang bisa Mbak petik?

Belum dikaruniai anak, bukan berarti kehidupan rumah tanggaku jadi nggak bahagia dan berantakan. Hal ini justru membuat kami semakin dekat, dan semakin mengerti apa arti ‘pasangan’. Toh, kami berdua tetap berupaya, berbagai cara telah kami lakukan, baik secara medis maupun tradisional. Tapi mungkin Allah berkehendak lain. Kalau kami belum dipercaya untuk diberi titipan, ya kami pasrah. Paling tidak Allah mengerti seberapa besar usaha kami. Kami menyadari bahwa yang terbaik menurut kami belum tentu menurut Allah. Jadi, kondisi kami saat ini adalah yang terbaik menurut Allah, dan kami harus bersyukur.

Mungkin juga, belum punya anak kerena saat ini kami memang harus ngurus dan fokus ke orangtua. Kalau kita sudah punya anak, kita nggak bisa maksimal kasih perhatian ke orangtua. Sebisa mungkin kita selalu positive thinking terus. Yang penting kita terus berusaha dan berdoa, kalau memang sekarang belum dikasih juga pasti ada alasannya, salah satunya ya mungkin aku dan Mas Aji saat ini harus fokus ke orangtua.

Termasuk menjalankan bisnis sepatu juga?

Kalau bisnis sepatu kan sebenarnya sudah kami jalankan sebelum menikah. Awalnya, saat masih pacaran dengan Mas Aji, pernah tercetus dari mulutnya, kalau ada rejeki akan buat usaha sepatu sendiri. Mungkin, dia ‘gerah’ kali ya, sebentar-sebentar saya membeli sepatu, hahaha.

Peran Mas Aji dalam menjalankan bisnis sepatu ini memang sangat besar. Meskipun awalnya kami sama-sama belajar produksi sepatu bersam-sama, tapi memang untuk urusan produksi aku percayakan ke Mas Aji. Bagian aku untuk desainnya.

Banyak orang yang bilang, lima tahun pernikahan merupakan masa terberat. Kalau bisa melewatinya, ke depannya akan lebih mudah menjalaninya. Setuju?

Kalau dari pengalaman aku, sih, masa terberat itu justru 3 tahun pertama. Waktu itu rasanya benar-benar kaget karena bisa dibilang tahun awal memang masa penjajakan, pengenalan karakter. Tapi empat tahun terakhir ini aku justru sangat menikmatinya.

—-

Mudah-mudahan saja usaha yang dilakukan Mbak Tina dan Mas Aji untuk mendapatkan momongan segera bisa terwujud, ya. Termasuk para pejuang momongan lainnya dan saya yang memang ingin hamil (lagi) Insha Allah,  waktu dan kesempatan yang indah itu akan segera datang. Yang terpenting, jangan lupa untuk terus berusaha, berdoa dan ikhlas. Aamiin bersama, yuk!

 


3 Comments - Write a Comment

Post Comment