Menyapih Dua Kali

Saat Rasya persis dua tahun, saya galau gara-gara tidak tega menyapih. Habis, anak lanang saya itu posesif sekali pada nenen. Tiada hari tanpa nenen, khususnya sebelum tidur. Kalau saya pulang kerja, yang pertama dicari pasti nenen. Maka, pemandangan sehari-hari tuh di rumah, nonton sambil nenen, dibacakan cerita sambil nenen, habis menangis langsung nenen, dan tentu saja tidur sambil nenen.

Sudah diingatkan pula berkali-kali kalau sudah besar, sudah ulang tahun ke-2 nenennya berhenti. Tapi apa daya, setiap jurus rengekan Rasya selalu berakhir dengan kemenangannya, dapat nenen. Saya yang nggak tega. Plus, saya juga terlanjur keenakan dengan menyibak baju atau buka daster :p

Hingga tengah malam sebulan lalu, saat Rasya terbangun menangis, tiba-tiba saya dapat insight untuk tidak memberinya nenen. Ia menangis sejadi-jadinya. Lima belas menit tangisannya tak kunjung reda, suami berinisiatif memboyong Rasya pindah ke kamar tamu, meninggalkan saya sendirian di kamar. Rasya makin heboh menangis, terus begitu sampai 20 menit lamanya, hingga tampaknya ia tertidur karena lelah. Pun hari berikutnya, kejadian sama berulang lagi. Saya lagi-lagi ditinggal sendirian di kamar sementara suami tidur bersama Rasya yang masih menangis histeris sampai ketiduran. Jangan tanya bagaimana perasaan saya tidur dua malam tanpa suami dan anak, nelangsa! :(

Untunglah hari ketiga saya bisa tidur bersama Rasya lagi dan begitu malam-malam berikutnya. Tiap kali ia minta nenen, saya menolak, dan mengatakan tidurnya dipeluk Mama saja. Begitu terus setiap hari. Rasanya, setiap berhasil menidurkan Rasya tanpa nenen, saya seperti menang lotere hari itu. Yeay, we did it! Perasaan menang itu yang membuat saya optimis bisa menyapih Rasya.

Seminggu episode menyapih ini berlangsung dengan sedikit bumbu drama tiap menjelang tidur, sampai Rasya sakit batuk pilek dan susah tidur. Haduh….saya ragu, apakah saya harus menyusui lagi? Saya betul-betul nggak tega melihatnya susah bernapas karena terhalang dahak dan tubuhnya sempat demam. Akhirnya, dengan seizin suami juga, saya membuka pabrik lagi selama Rasya sakit. Tujuh hari lagi saya mengenakan daster kancing depan dan menyusui Rasya kapan pun ia mau, yang membuatnya semakin posesif!

Apakah akan mudah menyapihnya lagi? Karena Rasya semakin galak saat minta nenen. Jadwalnya pun nggak tentu, suka-suka Rasya saja. Oops! Saya jadi lebih khawatir untuk memulai menyapih Rasya kedua kalinya.

Setelah ia sembuh, kami memulai lagi dari nol, dengan cara yang sama: tidak memberikan nenen saat ia minta dan dialihkan ke hal lain. Tentu saja tetap ada drama, tetapi Alhamdulilah nggak seheboh pertama kali menyapih. Tak sampai tiga hari, Rasya sudah mulai ‘lupa’ pada nenen, kecuali saat ia ngelilir tengah malam atau pas rewel, tanpa sadar ia menarik baju dan tentu saja nggak saya kasih.

Sejak saat itu, setiap kali tidur saya memilih untuk membacakannya cerita, bernyanyi, atau malah merem duluan supaya Rasya ikut tidur. Sekali dua kali ia masih minta, tetapi saya selalu bilang, ‘Lho, Rasya ‘kan sudah besar, sudah nggak nenen. Sini dikelon-kelon Mama aja yuk!’ Ia pun menurut dan langsung memeluk saya erat.

Fiuuuhhh…….*lap keringat* Sekarang boleh ya secara resmi saya nyatakan Rasya sukses disapih pada usia 2 tahun 2 bulan (target saya dulu 2,5 tahun)! :)

Selanjutnya: Bagaimana cara saya sampai akhirnya sukses menyapih? >>


Post Comment