Jodoh di Luar Ekspektasi

Dulu, sewaktu masih muda (uhukk sekarang sudah tua) saya punya cita-cita punya pacar (dan suami) yang menurut saya cowok banget. Kriteria “cowok banget” menurut saya waktu itu adalah yang agak slengekan, agak sedikit berantakan (gak suka cowok dandy) dan agak gondrong, suka main dan nonton sepakbola, bisa main nggitar dan nyanyi dan suka dengan lagu-lagu yang agak nge-rock n roll (duuuhh ABG banget yak *malu*).  Gambaran-gambaran seperti itu saya rangkai karena kebetulan teman-teman cowok saya punya karakteristik yang seperti itu. Termasuk sahabat cowok saya. Dulu, saya malah sempat kepikiran, mungkin saya pada akhirnya akan menikah dengan salah seorang dari mereka. Tapi ternyata sampai tiba waktunya usia menikah, kok gak ada bibit-bibit cinta di hati ya? Hahaa..

Ketika siklus pergaulan sudah berkurang karena saya memasuki dunia kerja, hubungan dengan teman-teman cowok yang “cowok banget” itu juga otomatis berkurang. Dunia kerja mempertemukan saya dengan orang-orang baru, pria-pria dengan tipe yang beragam, bukan hanya sekedar “cowok banget” seperti yang biasanya saya temui. Di lingkungan baru ini kemudian saya dipertemukan banyak teman laki-laki yang bertolak belakang dengan teman-teman saya yang “cowok banget” itu.

Dia bukan tipe laki-laki penyuka sepak bola, baik cuma sekedar nonton pertandingan, apalagi main. Dia tidak pernah “menyentuh” gitar. Jangankan main gitar, nyanyi aja sumbang, hahaha. Lagu kesukaannya juga kebanyakan yang bernada slow. Penampilannya rapi dan wangi.

Ia jadi teman saya karena kami sering jalan-jalan bareng, rombongan dengan teman-teman lainnya. Ia jadi teman saya karena kami sama-sama suka online di yahoo! Messenger sepulang kantor. Ia jadi sahabat saya karena kami sering curhat via YM tentang “kecengan” kami masing-masing (hahaha). Waktu itu, walaupun kami dekat, tapi gak ada secuil pun perasaan karena saya pikir dia bukanlah kriteria cowok idaman.

*gambar dari sini

Tapi, jodoh memang susah ditebak. Rencana Tuhan tak pernah ada yang tahu. Ternyata justru dengan laki-laki yang gak suka bola, gak bisa main gitar, gak bisa nyanyi dan penampilan dandy itulah saya berjodoh. Tidak ada deklarasi “pacaran”, tapi akhirnya kami menikah.

Tuhan memang tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Saya dijodohkan dengan laki-laki tak suka sepakbola itu karena kesabarannya yang luar biasa menghadapi saya yang keras kepala. Laki-laki dengan suara sumbang itu menjadi suami saya karena ia tahu bagaimana menahan egonya saat berhadapan dengan saya. Saya keras dan dia lembut luar biasa. Saya bisa menjadi api yang meletup-letup dan ia bisa menjadi air yang memadamkannya.

Di balik omelan-omelan saya kepadanya, saya bersyukur karena Tuhan telah menjadikan ia pendamping hidup saya di dunia (dan semoga sampai di akhirat sana, aamiin). Semoga Tuhan berkenan menjadikan saya istri yang baik buatnya, karena saya jauuuhh dari baik.

* Tulisan ini dibuat sebagai catatan untuk ulangtahun suami saya, Kamal Muhtar Khabib. Semoga Tuhan selalu menjaga dan memudahkan urusan-urusanmu. Menjadikanmu ayah dan suami yang baik, pemimpin yang baik di keluarga kita. Amin.


Post Comment