Motherhood Monday: Laila Munaf, Antara Sana Studio Dan Keluarga

Ada Mommies yang pernah mencoba olahraga di Sana Studio? Lebih dari setahun yang lalu, Sana Studio terkenal dengan Zumba-nya. Pemilik Sana Studio, Laila Munaf, memang salah satu orang yang memperkenalkan Zumba di Jakarta. Awalnya, Laila mengenal Zumba secara tidak sengaja saat ia masih tinggal di Amerika. Bahkan, saat ia pulang ke Jakarta pun, belum ada pikiran bahwa Zumba bisa jadi mata pencariannya!

Suatu sore itu, saya bertandang ke Sana Studio untuk ngobrol-ngobrol dengan Laila. Seru banget deh, dengar cerita Laila!

“Iya, jadi pas balik ke Indonesia, aku nggak ada uang sama sekali. Lalu dikasih 500 ribu sama mama, buat apaan ya? Sedangkan teman-temanku di sini sering ajak ketemuan, ngopi atau apa. Sekali ketemu aja udah berapa tuh. Dari situ aku pikir, “Maybe I should start introduce Zumba”.

Jadi, mulainya karena butuh uang ya…?

I need money to produce my batik kan.. Eh ternyata yang awalnya hanya untuk tabungan, it became so big in Jakarta. Awalnya hanya dari teman-teman aja.. semua aku telepon mereka, “loe mau coba zumba nggak, gratis deh!”. I’m not good with girls, aku suka kikuk sama perempuan, i’m not a girly girl. Pemikiranku stereotip perempuan Jakarta rambutnya perfect, tasnya apa.. karena those are the girls i met in Boston. Pas privat baru aku tau cerita dan berbagai tipe perempuan. Aku ketemu banyak orang dengan ceritanya sendiri. Alhamdulillah lewat Zumba aku bisa menyentuh hidup mereka. Aku jadi menomorduakan batik dan mulai fokus Zumba dan aku mulai ngambil banyak training lagi supaya ilmuku makin banyak..

Lalu, mulai membangun Sana kapan?

Bangun Sana karena mulai banyak permintaannya. Awalnya aku ngojek ke mana-mana, karena traffic Jakarta. Ketauan mamaku, dia marah takut aku kenapa-kenapa. Aku dibeliin mobil, yang mana itu bukan solusi yang tepat juga. Aku harus keluar uang beli bensin, dan sopir. I’m not a good driver, berapa puluh tahun nggak nyetir mobil sama sekali gitu… selama di Amerika juga nggak pernah punya mobil kan.

Jadi pada saat itu aku pikir i need to find a place. Aku mulai sewa studio di Sungai Sambas.  Studio kecil, I start having regular classes. Ya itu dia, di sini maunya serba convenient, “Wah terlalu jauh dari rumahku” atau “aduh macet…” Aku sempat kecil hati.. nobody wanna come..!

Abis itu aku ketemu suami, yang sama kakaknya arsitek. They were looking an office. This is the space they need, kecil sekali. Dia bilang, kamu mau nggak dibukain studio, ada nggak ada murid kan nggak harus sewa studio. Aku mau. Ini lebih besar dari yang aku sewa sebelumnya. Aku nggak pernah ngeh bahwa suamiku dan kakaknya ini cukup gaul. Jadi sebenernya 1 manusia itu adalah head of marketing ya. Dari aku sendiri ngajak ke mana-mana paling 6 orang maksimal.

Lalu kami cari nama, terus awalnya cuma aku sendiri yang ngajar. Lalu ada Purry dan Mbak Dewi juga ngambil sertifikasi, terus aku tanya, “Mau nggak kita tes-tes aja, aku ngajar hari apa, kalian ngajar hari apa.” Ada murid, Alhamdulillah, nggak ada ya jangan kecil hati. Di-blast lah sama suami dan kakak iparku. The firts week, itu rame banget! Aku bertanya-tanya, what happen when i ..? Kok pas gue yang nyebarin sepi? Hahaha…

Terus aku nanya-nanya caranya gimana. Aku mulai pelajari dari mereka wording-nya gimana. When I first com, kayanya too America. Terlalu saklek, to the point, nggak ada basa basinya. Belajar pelan-pelan, mulai rame. Nambah instruktur, we are so lucky, sebelahnya Sana juga tempat yang hits.

Selama setahun cuma ada Zumba dan Muay Thai, yang terakhir ini susah ya. Karena banyak saingan yang lebih serius. Awalnya hanya Zumba terus, makin berkembang, makin banyak yang datang di luar dari our circle. Nggak tau siapa, datang hanya penasaran kok dari dalam sini ada suara-suara, ini mulai berkembang di tahun ke-2.

Lalu kami memutuskan nambah atas.

Kalau dari cerita kayanya mulus-mulus aja, pernah ada momen yang bikin down?

Alhamdulillah so far nggak, mungkin cuma challenge-nya what else can we offer. Karena ternyata banyak yang mau hidup sehat. Jadi dari awal,  “Yang penting gue dapet uang buat ngopi”, tiba-tiba kok mesti ada business plan, hahaha.. yang dateng ke sini mereka punya masalah atau tujuan masing-masing. Nah, it became my challenge. Apalagi aku background-nya bukan trainer atau nutritionist, aku nggak pernah diet seumur hidupku, terus emang sekeluarga kurus. Paling PR-ku, i need to read alot, i ask question ke orang-orang yang punya ilmunya, at least bisa jawab pertanyaan-pertanyaan yang datang. Dan surprisingly, mungkin karena tempatnya apa ya, tertutup, jadi mereka merasa kaya di rumah, nyaman. Yang dari awal sudah ke sini, malah jadi temenan. We became a family…

Jadi bukan ajang “gue check in di Sana Studio”, tapi memang concern sama kesehatan..udah ngomongin BMI, latihan seperti apa, dan seterusnya.

Kaya misalnya, aku punya masalah cepat sekali berat badannya turun. Nah, ketika aku mengajar di kelas, mereka mikirnya my body is the ideal body. Jadi aku harus mengingatkan terus menerus bahwa aku juga punya masalah, aku juga punya goal untuk tubuh aku sendiri.

Ke depannya ada rencana apa buat Sana Studio?

Goal-nya mau buka cabang baru.

Atau karena memang punya rumah sendiri saja susah, hahaha! Kami ingin thanks to our member, bikin Sana Talk. Bukan seminar, tapi ngobrol aja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan ke aku. Aku cari narasumber yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka itu. Pokoknya bikin mereka nyaman asking what the wanna ask, sharing what the wanna share. Nggak hanya, “You pay, you do the exercise and you look good”. Tapi kita ingin share pengetahuan juga yang mungkin selama ini awam nggak tau tentang tubuh kita.

Setahun yang lalu, Laila pernah mengajar zumba di female Daily HQ. Saat itu ia lagi hamil 4 bulan! Ada bedanya nggak sih, zumba sebelum dan setelah punya anak? Lihat di halaman berikutnya!

Selanjutnya: Kehamilannya pernah gawat darurat karena mengajar Zumba saat hamil >>


4 Comments - Write a Comment

Post Comment