Family Friday: Mona Ratuliu, “Dulu Saya Ibu Yang Menyebalkan”

“Tantangan terbesar saat jadi orangtua tentu saat nggak punya ilmu parenting. Karena kita nggak tau cara mendidik anak yang benar seperti apa”.

Benar banget, ya, apa yang dibilang Mona Ratuliu ini. Dulunya, saya pikir jadi ibu nggak terlalu rumit. Hanya sebuah tahapan yang memang harus dilalui setiap perempuan yang sudah menikah. Kenyataannya? Buat saya, jadi ibu merupakan pekerjaan tersulit yang pernah saya lakukan. Tapi sekaligus kebahagiaan terbesar saya seumur hidup. Perasaan yang mulai membuncah ketika Bumi lahir, tumbuh sehat, hingga akhirnya saya tau kalau saya punya tempat khusus di hatinya.

Masalahnya, bagaimana caranya supaya kita benar-benar jadi special di mata anak-anak? Bukan jadi orangtua yang nyebelin dan yang nggak asik. Caranya, tentu dengan banyak belajar, dong, yah! Saya sendiri percaya, tugas kita memang sebagai pendidik utama bagi anak-anak. Tapi ada saatnya anak-anaklah yang menjadi guru utama para orangtua. Paling nggak, lewat Bumi, saya jadi bisa belajar mengemas emosi dan lebih menerapkan gaya hidup sehat.

Gambaran ini juga bisa saya lihat dari sosok Mona Ratuliu. Ternyata, ibu dari Davina, Baraka dan Syanala ini pernah merasa gagal sebagai orangtua karena menerapkan pola asuh yang kurang tepat pada puteri pertamanya. Dan lewat puteri pertamanyalah, Mona Ratuliu dan suaminya mendapat pelajaran paling berharga. Setelah melewati proses yang nggak gampang, sekarang Mona mengaku lebih mudah menjalankan perannya sebagai ibu. Bahkan, ia juga gencar menyebarkan ilmu lewat milis ParenThink yang ia bangun.

Simak obrolan saya dengannya, yuk!

Hallo, Mbak Mona. Ceritain, dong, saat bersama anak-anak di rumah paling senang ngapain, sih?

Banyak banget, ya. Yang paling sering kita suka main dan menggambar bareng. Kalau yang paling besar memang senang desain, sedangkan kalau anak aku yang kedua, Raka, lagi senang gambar di media yang lebih besar. Dulu aku suka ngajak gambar di halaman rumah dengan kapur. Tapi sekarang sekarang sudah bisa gambar di tembok yang bisa dibersihkan kembali. Mungkin karena memang medianya lebih besar, jadi lebih seru. Raka bisa gambar sambil loncat-loncatan, apalagi sekarang dia lagi senang menulis angka atau huruf. Kalau anak aku yang pertama dan yang kecil ini, sih, senangnya gambar-gambar di kertas aja.

Punya tiga anak, pasti gaya pengasuhan berbeda, ya, Mbak?

Aku punya tiga anak dengan karakter yang berbeda beda. Jadi aku juga banyak belajar untuk memahami. Misalnya anak aku yang kedua Raka sangat aktif, aku nggak bisa, tuh, nyuruh dia diem dan duduk untuk belajar. Justru dia baru bisa belajar dan mikir saat ia bergerak. Jadi aku mencoba untuk memberikannya fasilitas. Sedangkan Davina memang lebih senang belajar dengan cara duduk dan lebih ke arah diskusi. Mungkin nanti cara Nala akan berbeda lagi dan nggak sama dengan kedua kakaknya.

Sekarang Davina kan sudah mulai ABG, pola asuh tentu juga berubah?

Kalau ABG kan dunianya juga sudah mulai susah dijangkau, kita juga harus lebih bisa masuk ke dunia remaja. Mereka sudah punya banyak aktivitas yang nggak mau lagi kalau kita terlibat. Nah, di sini tugas kita sebagai orang tua, harus bisa menciptakan rasa nyaman dan pelan-pelan belajar melepaskan. Tapi ya tentunya tetap dalam pengawasan. Jadi harus punya trik-trik khusus dan tambah pengetahuan bagaimana cara mengasuh dan menghadapinya. Semakin besar anak, pasti lebih sulit lagi menghadapi tantangannya. Kalau ngasuh anak balita, lebih capek kerena memang sedang aktif-aktifnya. Aku sendiri sama Davina mencoba untuk jadi sahabatnya, karena pada sahabatlah mereka mau kembali dan bercerita apa adanya.

Zaman sekarang, anak remaja pasti sudah familar dengan sosial media. Bagaimana dengan Davina?

Sejauh ini penggunaan sosial media Davina aku tau dan terus dipantau, karena aku sendiri orang yang percaya kalau teknologi itu diciptakan untuk lebih memudahkan manusia walaupun memang pasti ada efek sampingnya. Dari sana kami juga membicarakannya, kok. Saya selalu mendidik anak-anak agar mereka tau, apapun keputusan yang mereka ambil pasti juga ada faktor risiko. Contoh kecilnya dari kegiatan mencoret dinding. Boleh saja mereka lakukan, tapi setelahnya harus dibersihkan lagi. Kalau nggak mau, ya, lebih baik nggak usah main. Sama halnya dengan penggunaan sosial media. Mau buat akun facebook boleh-boleh saja, tapi aku jelaskan juga berbagai risikonya ke anak. Kalau nggak mau “ketabrak” dengan hal itu, yang mending nggak usah. Kalau bisa mengelolanya, dengan baik it’s ok. Bagaimana cara mengelola keputusan dan menghadapi risiko memang harus dibiasakan dari kecil.

Dulu, hubungan Mbak dengan Davina kurang baik, ya? Bisa diceritakan?

Iya, dulu hubungan aku sama Davina bisa dibilang memang kurang harmonis sehingga Davina merasa nggak nyaman sama ibunya. Sampai suatu kali dia pernah bilang, kalau dia nggak mau punya Ibu kaya aku.  Ini benar-benar kasih tamparan buat aku. Dari sana jadi mikir, pasti selama ini ada sesuatu yang salah. Aku maunya, anak-anak selalu menganggap aku sebagai sahabat. Pengennya ketika anak punya masalah atau ada pertanyaan yang susah atau bahkan sensitif, baliknya akan tanya ke aku sehingga informasi yang didapatkan juga nggak salah. Bayangkan saja kalau anak sudah ngerasa nggak nyaman, pasti dia juga nggak akan mau tanya-tanya ke kita kan? Aku nggak mau hal ini terjadi.

Memangnya, dulunya Mbak Mona ibu seperti apa, sih?

Dulu aku ini ibu yang nyebelin. Sukanya marah-marah, ngomel melulu dan suka bohong. Misalnya kalau anak-anak bilang nggak mau mandi, ya, aku bilang nggak mau mandiin tapi hanya ajak ke kamar mandi lalu aku siram. Yah, model ibu yang suka maksa kehendaknya gitu, lho. Kalau Davina melakukan hal yang aku nggak suka, aku lantas marah. Untungnya saat Davina bilang kaya gitu, otak aku lagi sehat. Jadi aku mulai berkaca, pasti memang ada kesalahan yang aku buat. Dari sana jadi mulai cari informasi soal parenting, ikutan seminar, baca-baca buku, dan ternyata kesalahan memang banyak terjadi karena kesalahan aku. Ketika aku perbaiki, ternyata Davina juga ikut banyak berubah dan hubungan kami jadi jauh lebih baik.

Davina dan Nala

Bagaimana awal memulai proses perubahan tersebut?

Prosesnya aku minta maaf lebih dulu dan aku ajak ngobrol dan mengakui kesalahan aku apa saja. Kita jadi orangtua memang dituntut untuk bisa menjalin rasa dengan anak-anak.

Dari sini akhirnya lahir milis ParenThink dan mulai sering mengadakan seminar, ya?

Iya, dari sini aku juga mulai banyak sharing ke orang-orang, dan awalnya aku juga izin dulu ke Davina untuk berbagi pengalaman kami ini supaya orangtua banyak pelajaran dari kami. Tantangan terbesar saat jadi orangtua tentu saat nggak punya ilmu parenting. Karena kita nggak tau cara mendidik anak yang benar seperti apa. Tapi sekarang jadi jauh lebih mudah menjalankannya. Kerena kalau itu tidak bisa menjaga hati anak-anak, bahaya sekali. Oleh sebab itu, saya rajin memberikan input di twitter, facebook dan mengadakan seminar.

Bagaimana dengan keterlibatan Mas Indra dalam pola asuh?

Ya, dulu kita sering bertengkar karena Mas Indra punya gaya pola asuh yang berbeda. Jadi alasan kenapa aku juga banyak belajar parenting karena aku dulu sering berselilih dengan suami. Nah, ketika sekarang kita sudah banyak belajar, kami jadi punya kesepakatan cara mendidik anak seperti ini. Ibaratnya, jadi punya satu kepala.

O, ya, ada rencana tambah momongan nggak, nih?

Sudah, ah. Tiga aja sepertinya. Tapi kalau memang dikasih rezeki, ya, pasti nggak akan nolak. Tapi, kalau Mas Indra memang mau punya lima anak, hahahaha.

Ada pesan nggak yang ingin disampaikan untuk pembaca Mommies Daily?

Mungkin yang harus diinget sama kita, semua orangtua, kita diharapkan untuk lebih mengerti anak-anak karena kita kan pernah melewati masa dan pernah menjadi anak-anak. Sedangkan anak-anak nggak pernah tau rasanya menjadi orangtua. Seringkan, kita sebagai orangtua bilang, kamu mengerti bunda dong. Bunda kan lagi capek. Padahal mereka nggak pernah jadi orangtua dan nggak paham. Jadi memang tugas kita yang harus bisa memahami anak.

———

Bagaimana, Mommies? Banyak banget kan hal yang bisa kita petik lewat cerita ini? Kalau buat saya, sih, sosoknya Mona Ratuliu merupakan salah satu pesohor yang patut dicontoh dan diacungi jempol.

 


One Comment - Write a Comment

  1. nice article! Jadi tambah ngerti….anak2 kan belum pernah jadi orang tua ya….sedangkan saya udah melewati fase mereka….hiks….berasa ‘gagal’ jadi mommy…Tapi tidak ada kata terlambat untuk memulai lagi! Semangaaaat!

Post Comment