Kenalkan Budaya Pada Si Kecil

Setuju nggak kalau saya bilang anak-anak zaman sekarang ini kurang memahami dan mengenal budaya bangsanya sendiri?

Buktinya banyak, deh! Contoh yang paling mudah mungkin bisa dilihat dari kondisi banyaknya anak-anak yang lebih kenal dengan makanan fast food ketimbang makanan tradisional. Padahal, restoran fast food ini kan bisa dibilang datang dari budaya asing. Sedangkan dengan makanan daerahnya sendiri, apa iya anak-anak kita kenal? Belum lagi dengan budaya lain yang nggak kalah penting. Berempati, misalnya. Walaupun terkesan sepele tapi sangat penting, lho!

Sebenarnya cara menanamkan budaya asli dalam keluarga nggak sulit.  Mungkin sejak dini bisa dimulai dengan mengajarkan anak akan akar bahasa, bagaimana cara memakai pakaian yang sopan, mengucapkan salam ketika bertemu dengan orang yang lebih dewasa, serta mengucapkan terima kasih dan maaf. Menanamkan nilai budaya seperti ini tentu akan berpengaruh akan pembentukan kepribadian saat anak dewasa nanti. Anak juga bisa mengetahui jati dirinya sejak dini.Bagaimana anak memahami kebudayaan, tentu dimulai dari lingkungan keluarga. Syaratnya, kita sebagai orangtua memang harus konsisten dalam menanamkan nilai serta value yang terkait dengan budaya asli bangsa.

Buat saya pribadi, mengenalkan budaya bangsa sendiri pada anak merupakan kewajiban yang harus dipupuk sedini mungkin. paling nggak, dengan mengenal kebudayaan kebudayaan bangasa sendiri, anak bisa mengetahui jati dirinya. Lagi pula dengan belajar kebudayaan, tentu bisa bermanfaat untuk menanamkan rasa cinta anak-anak pada tanah air sendiri.

Saya sendiri punya beberapa cara untuk mengenalkan dan mengajarkan Bumi akan kekayaan budaya, antara lain:

Mendongeng


Semua Mommies tentu sudah paham, dong, ya, betapa besar manfaat mendongeng. Nggak cuma bisa mendekatkan emosional antara Ibu dan anak, mendongeng bisa dijadikan salah satu media yang cukup efektif dalam berkomunikasi, serta membangun karakter anak, kepribadian maupun kecerdasan anak. Termasuk dalam menanamkan budi pekerti dan etika yang mungkin saja makin lama semakin luntur lantaran derasnya terpaan informasi dari media yang mudah didapat anak-anak kita. Menurut saya, sih, dengan media dongeng yang biasa saya lakukan setiap malam menjelang Bumi tidur, banyak hal sekali nilai budaya yang bisa saya masukan di dalamnya. Lebih serunya lagi, setiap kali mendongeng intonasi suara serta ekspesi wajah juga ikut kita mainkan. Percaya, deh, si kecil pasti akan lebih antusias mendengar cerita kita.

Wisata Budaya Indonesia

Sementara belum bisa mewujudkan mimpi keliling Indonesia bersama keluarga, rasa-rasanya pergi ke TMII bisa dijadikan pilihan yang tepat, hahahaha. Ibaratnya, cukup satu hari saya sudah bisa mengajak Bumi keliling Indonesia. Tentunya  dana yang perlu dikeluarkan juga nggak terlalu besar. Sejauh ini, sih, saya baru dua kali mengajak Bumi ke TMII. Itupun belum sempat mengeksplorasi TMII secara keseluruhan. Ya, bayangkan aja, provinsi di Indonesia sekarang ini kan banyak banget, ya, berarti ada puluhan anjungan yang bisa saya kunjungi. Belum lagi dengan aneka ragam museumnya. Jadi rasanya waktu sehari itu nggak cukup. Buat saya dan suami, saat mengunjungi anjungan, Bumi bisa melihat berbagi pakaian adatnya, dan kalau beruntung, kita juga bisa lihat tarian atau lagu-lagunya saat ada pementasan.  Cara ini jadi lumayan efektif. Selain ke TMII, banyak juga kok alternatif lain untuk wisata budaya. Mengunjugi berbagai museum atau ke cagar budaya alam seperti kebun Raya Bogor juga, ok. Pastinya, sih, agenda untuk liburan dan mengenalkan Bumi dengan ragam budaya sudah masuk agenda. Salah satunya, jalan-jalan ke Solo.

Berburu Kuliner Daerah

Seperti yang saya bilang di atas, banyak sekali anak-anak yang lebih mengenal makanan luar ketimbang makanan tradisional. Walaupuan kita belum bisa mengajak langsung anak-anak mencicipi makanan dari asal daerahnya, tapi paling nggak kenali saja dulu. Toh, di kota besar seperti Jakarta ini apa, sih yang nggak ada? Rasa-rasanya berbagai macam kuliner khas Indonesia dari Sabang sampai Merauke di Jakarta. Pelesir saja ke beberapa daerah yang banyak menyajikan makanan khas Indonesia. Kalau nggak mau repot, datang saja Festival Jajanan Bango (FJB). Tahun 2014 ini, pesta kuliner akbar FJB bakal hadir dengan konsep yang baru. Soalnya, di FJB kita bisa menemukan beragam warisan kuliner dari Barat, Tengah hingga ke Timur Nusantara. Enak kan?

Selain memanjakan lidah para pencinta kuliner di FJB, tahun ini Kecap Bango produksi PT Unilever Indonesia Tbk juga akan melakukan sebuah ekspedisi, perjalanan panjang menelusuri kekayaan warisan kuliner melalui aktivitas bertajuk ‘Bango Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara’. Ekspedisi ini akan menelusuri kekayaan kuliner di tiga wilayah Indonesia yaitu Indonesia Barat (Sumatra – Kalimantan), Indonesia Tengah (Jawa, Bali dan Madura) dan Indonesia Timur (Sulawesi, NTT, NTB, Maluku, Papua), yang akan berlangsung secara serentak dari bulan April hingga Juli 2014. Lewat ekspedisi tentu bisa jadi salah satu penelusuran jejak kuliner Nusantara paling ekstensif dalam sejarah kuliner Indonesia. Rencananya, Arie Parikesit sebagai pakar kuliner Nusantara, yang akan mengordinir ekspedisi dengan destinasi lebih dari 100 kota.

Belajar Musik Tradisional

Sejauh pengamatan saya selama ini, Bumi memang paling tertarik dengan alat musik piano. Tapi bukan berarti, dong, kalau ia tidak suka dengan jenis musik tradisional. Angklung, contohnya. Selain bisa mengajak Bumi nonton pertunjukan musik tradisional, pengenalan alat musik tradisional di sekolah Bumi pun sudah dilakukan. Kalau nanti Bumi juga berminat dengan alat musik tradisional, saya juga nggak akan ragu untuk mensuportnya supaya bisa terus  mengasah dan mengembangkan minatnya untuk belajar lebih dalam seputar alat musik tradisional. Toh, sekarang ini banyak sekali sanggar yang bisa dipilih.

Empat cara di atas merupakan langkah yang selama ini saudah saya lakukan demi mengenalkan budaya pada Bumi. Kalau Mommies punya cara lain, saya mau tau dong!


2 Comments - Write a Comment

  1. Gue setuju sama mendongeng! Tapi gue seringnya masih bacain buku, sih, kalo bokap gue tuh murni pendongeng ga pernah pake buku. Hebat banget! Dulu umur Langit 2-3 tahun, gue sering dongeng, pas udah gedean karena sering nanya , jadi makin jarang, hahaha *payah emaknya*

    1. Sama, sih, Lit… gue juga sejauh ini belum mampu mendongeng. Kalau pun pernah, ya, ceritanya standart banget dan pastinya terinspirasi dari buku cerita yang sdh biasa dibacain juga, hahahahaa. Sampai sekarang, Bumi mau 4 tahun, setiap malam gue wajib bacain buku. Dulu minimal 3 buku. Kalau sekarang udh gue korting jadi 2 buku, aja :D

Post Comment