Family Friday: Widi Mulia dan Dwi Sasono, Selalu Membina Komunikasi

Seperti yang sudah saya tulis di artikel ini, menulis surat ternyata punya manfaat yang luar biasa. Setidaknya hal ini sudah dirasakan oleh pasangan Widi Mulia dan Dwi Sasono.

Rupanya sejak zaman pacaran dulu ketika keduanya masih duduk di bangku SMA, Widi sudah gemar nulis surat. Bahkan bisa dibilang, surat jadi kenangan berharga dalam sejarah perjalanan cinta pasangan yang menikah akhir tahun 2007 ini.

“Dulu zaman SMA, suami kan kakak kelasku. Tapi dia suka bolos sama teman-temannya. Makanya aku kirim surat lewat temannya seraya mengingatkan kelakuannya. Tapi sebenarnya sih kesal karena gak ketemu, hahaha” ungkap Widi saat itu.

Ketika usia pernikahan mereka sudah masuk tujuh tahun, kebiasaan menulis surat masih sering dilakukan Widi, lho. Di hadapan jurnalis saat jumpa pers SariWangi Ajak Keluarga Indonesia Mengawali Obrolan Mendalam dengan Menulis Surat, personil B Three ini bahkan sempat membacakan surat cinta untuk suaminya.

Isinya? Romantis banget, deh! Saya saja sampai terharu. Terlebih ketika Widi mengetahui kalau ternyata suaminya, Dwi Sasono hadir di tengah acara. Saking kaget dan terharu, saat itu Widi sampai menangis. Dwi pun langsung menyeka air mata sang istri. Mirip adegan di sinetron, yah? Hehehe… tapi ini kejadian nyata, kok!

Beruntung, setelah acara saya sempat ngobrol dengan orangtua Dru dan Widuri ini. Simak, yuk!

Ceritain, dong, awal mula sering menulis surat untuk suami?

Widi : Dari dulu senang menulis untuk Dwi sebenarnya karena keterbatasan saja susah ketemu. Dulu kan zaman saya SMA alat teknologi cuma pager aja, dan komunikasi di sana nggak bisa panjang-panjang. Jadi kalau mau ngomong sesuatu yang yang detail, ya bisanya lewat surat. Dengan menulis surat, emosi yang mau saya keluarkan juga bisa tertuang. Jadi rasanya memang nggak ada jalan lain waktu itu. Kalau sekarang kan juga pilihan sarananya lebih banyak, bisa lewat email, skype, atau bahkan lewat sosial media.

Kalau, Dwi suka nulis surat juga nggak?

Dwi : Kalau aku memang nggak bisa nulis seperti Widi. Dari dulu Widi tuh memang suka nulis, ini surat-surat dari dia masih aku simpan. Kalau aku lebih suka ngomong langsung, tapi sekarang mau belajar nulis surat, karena kalau dibaca-baca ternyata indah juga.

Ada perbedaan nggak sih terima surat dari Widi ketika masih pacaran dan sudah menikah?

Dwi : Ya pasti lain, ya. Terima surat dari Widi ketika pacaran sama saat sudah nikah seperti sekarang inu rasanya pasti beda. Yang jelas, sekarang surat itu jadi jauh lebih berharga. Apalagi kalau ingat zaman sekarang ini sama zaman dulu kan juga beda jauh ya? Sekarang ini komunikasi jadi lebih mudah dengan teknologi yang ada.

Nah, perkembangan teknologi kan sudah kian berkembang, kok, masih milih nulis surat?

Widi : Buat saya, nggak semua obrolan bisa diungkapkan lewat perbincangan saat tatap muka. Dengan nulis surat justru buat saya jadi lebih mudah mengungkapkan sessuatu yang sulit, istilahnya obrolan yang lebih mendalam. Kita bisa lebih leluasa mengungkapkannya. Lagipula buat saya dengan menulis surat juga bisa mengingatkan saya pada zaman dulu, dengan menulis juga kita bisa terlatih untuk menyampaikan sesuatu dengan cara yang berbeda.

Dwi : Menulis itukan juga termasuk seni, bukan sekedar nulis point poin saja. Kenapa banyak orang yang bilang menulis itu susah, menulis surat itu nggak gampang, mungkin karena mereka tahu kalau menulis itu bukan sekedar menulis saja. Makanya saya sekarang juga mau belajar nulis.

Tapi tetap terbantu, dong, dengan teknologi saat ini?

Widi : Iya, dong. Saya percaya teknologi itu ada memang untuk memudahkan kita. Karena saya dan suami saling share di path, jadi buat kami sebenarnya sarana ini juga lumayan efektif. Saya jadi tau posisi suami ada di mana. Segi keamanannya juga lumayan terjaga. Yang jadi masalah kadang-kadang saat kita lagi ngobrol, yang satu mungkin lagi nggak konsen karena sedang sibuk dengan urusannya. Jadi saat yang satu sudah ngomong yang satu lagi lupa. Jadi suka bilang, aku kan tadi sudah bilang. Iya tapi aku kan lupa… Nah, yang seperti itu, deh. Aspek obroan mendalamnya jadi kurang. Nah dari sini deh konflik bisa muncul.

Lalu, bagaimana cara untuk menghindari kesalah pahaman dalam komunikasi?

Widi : Supaya obrolannya efektif, pada saat kita ngobrol, bisa memberikan waktu secara optimal. Jadi bukan berarti saat ngobrol, tapi yang satu sambil ngapain gitu. Contohnya, saat Dwi telepon, padahal aku sedang sibuk cari jalan. Ya, tapi harus tetap fokus dulu dengan apa yang ditanyakan Dwi, dengan begitu obrolan juga bisa jauh efektif.

Bagaimana dengan berkomunikasi dengan anak-anak? Apalagi mengingat kalian pasangan yang sama-sama sibuk?

Widi : Untungnya komunitas kerja saya sudah saya anggap seperti keluarga ke dua dan menurut saya sangat kids friendly. Jadi apa yang saya saya lakukan untuk kerjaan, saya sih akan cuek saja bilang ke anak-anak. Tanggal segini, Ibu ada kerjaan, lho. Meskipun akhirnya anak saya pembicaraan suka melenceng, tapi yang paling penting saya sudah menjawab dan menjelaskan apa yang ditanya anak-anak. Jadi ceritakan saja apa adanya. Saya juga mengenalkan segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan saya. Jadi harapannya dengan anak-anak tau, akan memudahkan komunikasi. Dengan begitu, complain juga akan berkurang.

Sejauh ini nggak pernah ada masalah komunikasi dengan anak-anak?

Widi : Belum lama ini saya dapat laporan dari guru anak saya, Dru. Gurunya bilang kalau anak saya ini saat di sekolah lebih muram. Nggak seperti biasanya. Kalau biasanya suka main bola, tapi belakangan dia hanya milih untuk duduk di kelas. Rupanya saat ditanyakan sama gurunya, anak saya bilang kalau dia sedih karana ibunya pergi. Dia melihat saya lebih sibuk dengan adiknya mengantar adiknya sekolah.

Wah, cemburu, yah?

Widi : Iya, ternyata selama ini saya pikir anak saya sudah paham dan mengerti. Tapi salah. Dari situ saya sadar dan juga ditegur Dwi untuk lebih meluangkan waktu bersama Dru. Sekarang, sedang kami formulasikan agar kedua buah hati kami mendapat perhatian yang sama. Saya juga menyadari pentingnya menerapkan komunikasi efektif dan lebih memahami kalau anak-anak memang tidak boleh diacuhkan.

Pernah suatu kali saya mendekati anak saya yang sedang menggambar. Padahal, saya hanya duduk di sampingnya dan ingin lihat ia lagi gambar apa. Ternyata reaksinya luar biasa sekali. Ia langsung bilang, ‘Ibu, mau lihat aku menggambar, ya?’ Wajah berbinar-binar. Saya pun langsung mau menangis.

Ngomong-ngomong, masih sempat couple time nggak sih?

Widi : Kita sih inginnya bisa pacaran terus ya. Nggak hanya pas malam minggu atau saat liburan saja. Misalnya sekarang, kalau bisa pulang dari acara ini, maunya kita pacaran. Paling nggak nonton berdua atau makan saja.

Dwi : Kita juga suka sarapan bareng. Pagi-pagi suka tanya ke Widi, mau ke mana nih cari sarapannya. Kita juga pernah malam mingguan berdua di taman dekat rumah. Berduan saja nikmatin malam, sampai tidur-tiduran. Yang paling penting kan kualitas kebersamaan kitanya.

——

Setelah ngobrol dengan Widi Mulia dan Dwi Sasono, saya jadi tambah yakin kalau keduanya memang pasangan yang ‘hangat’ dan bisa dijadikan contoh untuk pasangan lainnya. Termasuk saya sendiri. Lewat obrolan singkat di atas, saya banyak mendapat pelajaran yang bisa diaplikasikan di rumah. Salah satunya, soal bagaimana cara mereka mengelola komunikasi sehingga mampu menciptakan keluarga yang harmonis.

Walaupun dengan suami sendiri, memang ada beberapa hal yang rasanya sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Nah, biar nggak terjadi kesalah pahaman dan bisa lebih plong mengutarakan apa yang kita rasa, nggak ada salahnya menjadikan surat sebagai medium yang efektif. Setuju, nggak?

O, ya, beberapa waktu lalu Lita juga sudah sempat ngobrol dengan Widi perihal dirinya yang pro ASI dan RUM. Baca cerita lengkapnya di sini, yah!

 

 

 

 


Post Comment