Banyak Anak (Belum Tentu) Banyak Rezeki

Satu poin kultural yang dari kecil, saat saya belum umur nikah, tapi sudah sering sekali saya dengar baik dari orangtua ataupun kerabat adalah statement berikut: “Banyak Anak Banyak Rejeki”. Sepertinya, Indonesia adalah salah satu dari banyak negara di dunia yang tidak perlu khawatir dengan penurunan populasi. Biarpun program Keluarga Berencana sudah sejak dulu dikenalkan, tapi rasanya masih jarang sekali orang Indonesia yang mau untuk jadi “childless”.

*Adegan dalam film Yours, Mine and Ours, sebuah film di mana sepasang suami istri punya 18 orang anak (!!!). Gambar dari sini

Sebenernya, there is nothing wrong with that. Manusia memang bisa dikategorikan masuk di animal kingdom. Sudah kodratnya manusia mempunyai keturunan, keluarga, dan memang berkeluarga adalah salah satu dari esensi banyak agama.

Tetapi, pernahkah kita berpikir, bahwa suatu hal yang bernama “kodrat” ini, terkadang tidak dipikirkan sedalam seharusnya. Banyak orang menikah cuma karena sudah “umur nikah”, banyak orang memutuskan untuk mempunyai anak karena sudah “ketuaan” atau “sudah waktunya” atau “nanti menyesal tidak punya anak” dan berbagai alasan lainnya. Kadang saya berpikir: apakah orang-orang ini benar-benar menginginkan seorang anak, dari lubuk hatinya sendiri tanpa tekanan orang lain sedikitpun?

Kembali ke judul artikel ini: esensi yang ingin saya sampaikan adalah mempunyai anak itu mahal. Saya tidak bilang bahwa cuma orang kaya yang boleh punya anak, tetapi alangkah baiknya bahwa setiap individu yang ingin mempunyai anak, tahu dan bisa mengukur titik batas kenyamanan yang mereka bisa raih dengan kemampuan mereka saat ini. Tugas orangtua adalah menyediakan kebutuhan anak-anak mereka. Pendidikan yang baik, sandang pangan papan, dan yang lebih mahal lagi dari semua itu: PERHATIAN. Segala hal yang saya sebutkan di atas butuh kerja keras. Karena dunia ini adil, rezeki itu tidak turun dari langit dan kita yang harus menjemputnya.

Tetapi fenomena yang saya alami ini terkadang sungguh bertolak belakang. Teman atau kerabat yang sudah menjadi orangtua seringkali menasihati saya untuk tidak menunda mempunyai anak. Tetapi seringkali langsung setelah nasihat itu, mereka mengeluh kepada saya  tentang susahnya menjadi orangtua, termasuk kesulitan finansial. Saya bingung, apakah mereka ingin saya ikut “terjerumus” ke dalam kesulitan itu dan berkeluh kesah bersama mereka? Sungguh kontradiksi yang sangat membingungkan. Di dalam konteks ini, bisa dibilang bahwa banyak anak belum tentu banyak rejeki.

Manusia adalah makhluk sosial, tentu tidak terlepas dari lingkungan dan orang sekitar karena tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Tetapi, keluarga kita, anak-anak kita adalah hidup kita sendiri, keputusan kita sendiri. Di saat kita sudah meyakini bahwa kita bisa mengukur kemampuan dengan realistis dan merasa bahwa kita bisa menjadi orangtua yang baik, then you can start popping babies. Because happy parents make happy children, and of course, we want our children to be happy.

 

 


8 Comments - Write a Comment

  1. Jadi ingat, menurut supir taksi yg pernah saya tumpangi beberapa waktu yg lalu, dia prefer banyak anak karena nanti sesudah tua akan banyak yg “menghidupi” dia. *speechless ga bisa berargumen karena toh kalau berargumen jg percuma*
    Sementara menurut seorang bapak di kantor, dia menyesal ga nambah anaknya satu lagi jadi tiga, karena begitu anaknya sdh besar2 seperti sekarang (dan alhamdulillah kehidupan bapak tsb mapan), dia kasian aja anak2nya nanti2 hanya berdua aja gitu, serasa kurang “rame” katanya.
    Kalau saya pribadi… insya Allah kalaupun nantinya diberi anak ketiga ga nolak, tapi dgn kondisi saat ini, utk sementara sanggupnya dua dulu.. kebayang kalau anak tiga, selaku ibu bekerja dan jauh dari ortu, harus sedia mbak2 berapa orang di rmh utk bantu ngurusin anak, belum lagi kamar tidur harus sedia banyak juga (rumah kami tdk seberapa besar hehe).
    Namun demikian, saya kok tetap optimis ya bahwa Allah akan memberi rezeki berapapun anak yg kita punya, asalkan kita tetap usaha dan berdoa, amiinn

  2. Gue bingung mau pro yang mana. Banyak anak, karena nyokap gue berasal dari keluarga besar, jadi tau banget gimana senangnya, tapi betenya juga ada. Anak 1, ya karena pertimbangan ingin menyediakan yang terbaik buat si anak. Ga adil rasanya menurunkan kualitas segalanya karena ingin nanti pas udah tua keluarganya tetap rame..

  3. Kebanyakan alasan (yang sering gue denger) orang-orang memilih punya anak banyak karena biar tuanya ada yang ngurus, katanya kalo bosen di yang satu bisa pindah ke yang lain, atau anaknya gantian jagaian orangtua. Tapi kata yang sudah mnegalami, gak ngaruh juga tuh, yang penting adalah komitmen anak untuk mengurus orangtua. Walaupun punya anak banyak (tapi anak-anaknya enggan mengurus) ya sama aja kayak ga punya anak, dan kalaupun anaknya cuma satu/dua tapi mau mengurus ya udah berasa punya anak banyak. Di keluarga suami (om/tante) umumnya punya anak dua/tiga. Pas diledekin ayo, sama kayak mbah anaknya banyakin sampe diatas lima orang, terus ada yang nyeletuk, “Anak, dua atau lima sama aja, nanti juga kalau udah besar pada ninggalin buat sekolah/kerja.” hehehe betul juga ya…

  4. Thank youu artikelnya…menyadarkan gue untuk nggak punya anak lagi hanya karena “kangeenn punya bayi”…haha. Jujur aja yang bikin gue suka terpikir untuk pengen punya anak lagi adalah karena nggak tahan liat bayi-bayi lucu berkeliaran di mana-mana :D. Tapi emang nggak segampang itu memutuskan punya anak ya bok. Uang mungkin emang bisa dicari walaupun nggak tau juga apakah bisa mempertahankan gaya hidup yang sekarang atau enggak kalo punya anak ketiga. Tapi kan kalo lebih giat cari uang, otomatis PERHATIAN akan berkurang dong ke anak karena waktunya akan lebih tersita untuk kerja. Punya dua anak aja rasanya waktu untuk mereka masih kurang banget. Egois kayanya kalo waktu yang sedikit itu harus dibagi-bagi lagi.

    1. thanks a lot udah mau baca! ^_^ saya hanya berusaha realistis. suatu hari juga ingin punya anak, tapi kasihan kalau anak tidak dapat yang terbaik ^_^benar karena semua butuh waktu, saya sih lebih memilih untuk take my time sampai saya merasa sudah mumpuni lahir batin ^_^thanks for reading I appreciate it!

Post Comment