Menjaga Ketersediaan Air Bersih, Tugas Kita Juga!

‘Save water’ atau ‘menjaga ketersediaan air bersih’, biasanya ungkapan seperti itu tertuang dalam kampanye-kampanye pemerintah atau organisasi nirlaba. Tidak dekat dengan keseharian kita. Bila ditanya tentang bagaimana usaha kita dalam menjaga lingkungan, atau bergaya hidup ramah lingkungan? Mungkin banyak dari kita yang bisa menjawabnya. Tetapi kalau ditanya lagi lebih spesifik, bagaimana kita menjaga ketersediaan air bersih? Mmm…hemat air dong. Apalagi ya?

*gambar dari sini

Rata-rata kita semua pasti tinggal di rumah dan lingkungan dengan akses air bersih yang sangat mudah. Dari sumur air tanah atau PAM. Tapi, untuk sebagian besar masyarakat lain -tidak hanya yang masuk kategori miskin-, air bersih harus dibeli dengan harga mahal. Nah, ketersediaan air bersih ini yang makin hari makin berkurang, karena sumber air tawar yang tercemar limbah, polusi, hingga intrusi air laut.

Ada kontribusi signifikan yang bisa kita lakukan untuk menjaga ketersediaan air bersih, yaitu mengurangi penggunaan air minum kemasan sekali pakai. Biasakan diri dan keluarga kita untuk selalu membawa air minum sendiri dari rumah. Bila terpaksa mengonsumsi air mineral kemasan sekali pakai, biasakan untuk menghabiskan isinya, sebelum membuang plastik/kemasannya. Sampah plastik yang menumpuk ini akan mencemari sumber-sumber air tawar dalam tanah.

Selain itu, menanam dan memperbanyak pohon mangrove/bakau di pesisir. Tentu saja hal ini susah dan tidak praktis dilakukan oleh perorangan, apalagi pohon mangrove perlu dipelihara terus menerus. Karena itu sudah seharusnya kita mendukung setiap aksi penanaman dan pemeliharaan pohon bakau, karena fungsinya yang signifikan dalam menjaga ketersediaan air bersih. Selain dapat melindungi tebing pantai dan sungai dari erosi dan abrasi, bakau dapat menahan intrusi air laut ke darat, sehingga air tanah tak tercemar air laut. Bakau juga dapat menahan dan mengolah bahan-bahan limbah hasil pencemaran yang dapat mencemari air.

Beranjak dari kepedulian tersebut, Tupperware membuat sebuah aksi yang membuat kita dapat berkontribusi nyata dalam penanaman dan pelestarian mangrove tersebut, melalui “Tupperware Women For Mangrove – Fun Walk 2014”. Karena untuk setiap peserta yang mengikuti fun walk ini, Tupperware akan menyumbangkan satu pohon mangrove untuk ditanam (dengan target minimal 5000 pohon mangrove). Fun walk ini akan diadakan pada hari Minggu, 23 Maret 2014 yang info lengkapnya bisa dibaca di sini.

Kenapa perempuan, kenapa ibu-ibu? Karena kita -perempuan- yang mau repot dan susah. Kita perempuan, ibu-ibu memang yang biasanya lebih mencurahkan upaya untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga. Kepedulian seperti ini memang harus berangkat dari ibu, karena ibu lah yang bisa memengaruhi seluruh anggota keluarga. Bukan begitu?


Post Comment