Tindik Bayi, Di Mana Dan Bagaimana?

Naaah…ini salah satu pertanyaan yang pasti dihadapi ibu-ibu yang (baru) punya anak perempuan. Urusan tindik telinga ini, saking lumrahnya sampai tidak pernah masuk dalam ‘check-list’ yang harus dilakukan. Saya sendiri juga tidak tahu persisnya bagaimana telinga saya dulu ditindik, (saking nggak pentingnya) sampai sempat mengira untuk anak perempuan mungkin tindikan telinga itu ‘by default‘, emang sudah ada lubangnya sejak lahir, hahahaha :D

Hal ini baru mendapat perhatian setelah punya bayi perempuan, tepatnya setelah diingatkan (tentu saja) oleh orangtua. Kalau maunya saya sendiri sih, biarkan saja anak saya tidak usah ditindik. Tidak ada urgensinya. Untuk menandakan dia adalah perempuan? Boy or girl, ga ada hubungannya sama tindik telinga ato pake anting ah (menurut kami). Tapi karena sudah kebiasaan, daaan permintaan dari orangtua juga yang sudah membawakan sepasang anting emas… why bother lah ya. Ya sudah, telinganya ditindik, ya, nak. O, ya, dan menurut agama, tindik telinga pada perempuan ini boleh kok. Tidak ada anjuran atau larangan. Hukumnya boleh aja, sama seperti kita yang boleh memakai perhiasan.

Pe-er selanjutnya, di mana? Di toko emas, kata ibu saya. Di toko emas itu sudah ‘jamak’ punya servis tindik telinga. Selain itu katanya di rumah sakit atau bidan juga bisa. Gampang dong, ya. Tapi rasanya kalau ke toko emas kok gak sreg ya, tidak yakin dengan higienitasnya (well, ini asumsi banget sih). Sebenarnya tindik telinga ini tindakan apa sih? Termasuk tindakan medis bukan ya? Ada bagian tubuh yang dilubangi, tentu bisa risiko infeksi dan lain-lain. Jadi, lebih baik ke tenaga medis saja. So, ternyata untuk urusan ini aja, ternyata saya harus mencari di Google, di mana bisa tindik telinga bayi.

Selanjutnya, bagaimana prosedur tindik telinga?

Oke saya secara ‘awam’ sudah tahu sih, ada yang pakai jarum biasa dan ada juga yang pakai semacam alat ‘tembak’. Tapi, zaman sekarang tindik telinga masih manual dengan jarum? Noooo…. duuh, kasian bayinya kaan? Tapi kenyataannya, masih banyak lho yang memberikan servis tindik telinga secara manual dengan ‘menusuk’ menggunakan jarum. Saya sudah ke rumah sakit dekat rumah (RS Buah Hati), mereka bisa terima tindik pakai jarum seperti itu. Demikian dengan dua bidan praktik yang saya datangi, ternyata masih pakai jarum juga. Nah, ternyata gak mudah juga menemukan tempat tindik telinga dengan alat khusus.

Akhirnya saya menemukan rumah sakit lain, yang bisa tindik telinga, dengan alat khusus (professional ear piercing gun). Prosesnya lumayan cepat, tapi lebih lama dari imunisasi sih (lha iyalah). Pertama kita langsung diberi pilihan anting sementara. Jadi dengan alat tembak ini, anting tersebut yang akan menjadi ‘peluru’, sehingga begitu ditembakkan, anting langsung masuk dan dipakai. Anting tersebut sudah diusap dengan alkohol, supaya higienis. Kemudian telinga bayi ditandai dengan pulpen, di titik mana yang akan ‘ditembak’. Setelah itu, dor! Hehehe… ada bunyi hentakan kecil yang membuat bayi kaget. Tapi sebenarnya tidak terlalu sakit, malah lebih sakit kalau disuntik. And, done!

 

(alat tindik yang digunakan, professional ear piercing gun)

O, ya bayi saya sudah berumur 4 bulan saat ditindik. Menurut dokternya, lebih mudah kalau bayi masih di usia sebulanan, karena masih diam dan tidak berontak. Karena alasan ini juga, beberapa rumah sakit mensyaratkan bayi yang akan ditindik berusia tidak lebih dari satu bulan.

So, telinga Aishara (4 bulan) sudah ditindik, dan diberi anting kecil. Nantinya terserah dia, mau pakai anting atau tidak, asal tidak minta tindik lagi aja ya :D

 


10 Comments - Write a Comment

  1. sepupu saya punya anak perempuan, ditindik di usia 2 bulanan. di dokter. eehh itu dokter nindiknya melenceng, gak sama antara kanan sm kirinya.. akhirnya, itu anting dilepasin dgn harapan sih bisa nutup lg & nanti ditindik lg.. kasian ya..
    jd para ortu harus merhatiin bener2 ya tenaga medisnya waktu mereka ngerjainnya..

  2. Rory dulu usianya baru beberapa minggu, deh, pas ditindik. Di bidan, dan pake jarum! Shock gueeeeeee…. Langsung lemes dengkul rasanya. Kalau anak berikut ini cewek lagi, ditindik yang pake ear piercing gun itu aja. *bertekad*

  3. Gue dulu tindik Langit pas usia seminggu, pokoknya balik ke dokter pertama kali setelah lahir deh. Dilakuin di RS tempat melahirkan, dan gue ga berani masuk ke dalam ruangannya. Hahaha.. Tepatnya, gue dan suami ga berani masuk, ga tega :(

    Pas usia 3 tahunan, Langit sepertinya alergi dengan jenis anting yang digunakan (emas kuning saat itu), kupingnya speerti luka gatel-gatel kali ya. Akhirnya copot anting sampai sekarang usia hampir 6 tahun. Lubangnya nggak nutup sih, tapi dia masih belum mau pakai anting. Mungkin nanti kalo dah SD lihat teman2nya baru mau lagi ya..

  4. Alhamdulillah saya ingat urusan tindik menindik menjelang lahiran (bahkan sdh beliin anting). Ditindiknya umur 3 hari klo ga salah, di RS tempat lahiran. Kita ga liat (takut) dan menyerahkan semuanya ke suster hehe.. alhamdulillah semuanya baik dan lancar.
    Yg mengganjal cuma satu.. antingnya model yg lingkaran dan jarinya bisa masuk.. ada mommies yg punya pengalaman itu bahaya ngga ya? Takutnyalubangnya membesar karena terlalu berat atau tangannya masuk terus narik antingnya (serem ngebayanginnya). Mau diganti model subang aja tapi ga berani gantinya..

  5. Cepi33..kalau terlalu berat, dikecilin aja gram antingnya..yg 1/2 gram sepasang. biasanya anting bayi ukurannya segitu. kalau yang model lingkaran sepengalaman gue emang rada rawan. yang ditarik2 lah, yang nyangkut dibajulah. anak gue sekarang ganti subang tapi belakangnya bukan lurus tapi dibengkokin gitu. orang bilang sih anting toge. alhamdulilah so far belum ada kejadian kaya kalo kaya anting lingkar. gantiinya yang pe-er, ga sakit sih..tapi kepala anaknya goyang mulu

  6. Gue dulu tindik pas udah SD, sempet nutup pula karena jarang pake anting, jadi tindik ulang pas SMP kalo gak salah. Tetep aja sampe sekarang males pake anting, kalau perlu aja, dan biaanya gak betah lama.

    Jadi pas Maika lahir, pertanyaan gak ditindik, tiada henti. Tapi gue tetap memutuskan Maika gak akan ditindik, sampai anaknya minta sendiri. Sekarang udah umur 5, beberapa kali minta tindik, tapi gak mau sakit katanya :) Jadi belum ditindik juga, karena dia sendiri memutuskan belum mau. Nanti aja SD kayak Mama :D

  7. cici nopai… I heart you… buat gue mama2 yg menyerahkan keputusan tindik kpd anaknya (nunggu sampai mau sendiri) itu beyond cool… itu contoh paling sederhana dari memberi kebebasan kpd anak utk memutuskan. oke mungkin gue lebay, tapi belum tentu lho mom, anak kita pas udah gede mau ditindik (termasuk gue, hahahah). jadi inget dulu pas SMA ada temen tindik hidung trus dimarahi knp gak minta ijin ibu, her answer was “ibu dulu nindik telinga aku jg gak minta ijin, padahal ini TELINGA AKU” dan itu membekas banget di aku, yang bikin aku gak nindik anak cewekku sampai nanti waktunya dia minta sendiri. just my opinion

  8. ehm, kalo saya punya anak cewek sih bakal saya tindik sejak newborn. simple sih alasannya, biar gak ribet..
    belajar dr pengalaman anak2 saya (2 cowok) yg saya sunat di umur 3 hari..
    kalo sakit, tinggal disusuin aja. kalo kulitnya kenapa2, proses regenerasi kulit bayi kan msh bagus..

    tindikan saya sejak lahir msh ada sih walaupun saya udah belasan tahun gak pakai anting..
    jadi ya kalo someday ternyata anak cewek saya gak suka pakai anting tinggal copot aja..
    tp krn agama jg gak mewajibkan, jd suka2 ortunya aja, mau ditindik atau nggak. krn biasanya sih yg suka mempermasalahkan tuh kakek neneknya.. he he he….

Post Comment