Anak Tantrum? Ini Yang Harus Dilakukan!

“Duh, anakku tantrum nih”

“Dia kalo nangis sampe guling-gulingan gini, sebel deh!”

“Kenapa sih nangis nggak jelas gitu?”

Mungkin banyak Mommies sudah pernah mendengar istilah tantrum. Simak penjelasan Mbak Irma Gustiana, psikolog keluarga yang bisa Mommies tanya secara langsunh di thread live Q&A plus praktik di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia dan Klinik Rumah Hati, dan juga school counselor di beberapa sekolah TK-SD-SMP. Selain itu Mbak Irma juga adalah dosen di STIE Trisakti dan pengasuh Rubrik Psikologi Tabloid Wanita Indonesia.

Apa sih, sebenarnya tantrum?

Temper tantrum adalah kondisi di mana seorang anak kesulitan untuk mengontrol emosinya sehingga tampil dalam perilaku seperti menangis berlebihan, menjerit-jerit, berguling-guling, headbanging atau perilaku menyakiti diri sendiri. Dikutip Colorado State University Extension, R.J. Fetsch and B. Jacobson mengatakan bahwa tantrum biasanya terjadi pada usia 2 sampai 3 tahun ketika anak-anak membentuk kesadaran diri.

Balita belum cukup memahami kata “aku” dan “keinginan dirinya” tetapi sangat mudah untuk tahu bagaimana memuaskan apa yang diinginkan. Tantrum adalah hasil dari energi tinggi dan kemampuan yang tidak mencukupi dalam mengungkapkan keinginan atau kebutuhan “dalam bentuk kata-kata”.Tantrum biasanya terjadi pada usia 2 dan 3 tahun, akan mulai menurun pada usia 4 tahun. Mereka biasanya mengalami ini dalam waktu satu tahun. 23 sampai 83 persen dari anak usia 2 hingga 4 tahun pernah mengalami temper tantrum.

*gambar dari sini

Pemicunya apa, ya?

Biasanya perilaku anak yang tantrum dipicu pula oleh beberapa hal, misalkan pola pengasuhan yang kurang konsisten, terlalu dimanjakan dan semua serba diberikan sehingga ketika suatu saat ada aturan yang melarang maka emosinya akan sulit dikendalikan, orangtua yang protektif atau sebaliknya orangtua yang banyak larangan, ikatan emosi yang kurang lekat antara orangtua anak.

Penyebab umum lainnya termasuk karena rasa lapar atau lelah. Anak tantrum juga karena ia sedang berusaha untuk mencari perhatian orang yang ada disekitarnya. Dari pengalaman praktik saya, kebanyakan isu yang muncul dalam keluarga karena pola asuh yang tidak konsisten atau anak memang memiliki gangguan tumbuh kembang tertentu sehingga lebih sensitif terhadap stimulus di luar tubuhnya.

Apa yang harus dilakukan saat menghadapi anak tantrum?

Untuk menghadapi anak yang tantrum ada beberapa hal yang harus Mommies lakukan :

  • Berusaha untuk bersikap tenang, karena banyak sekali orangtua yang panik atau bahkan “senewen” ketika anaknya tantrum sehingga akan memperparah tantrum itu sendiri.
  • Terus lakukan kegiatan Mommies. Abaikan anak sampai dia lebih tenang dan tunjukkan aturan yang sudah disepakati bersama. Tetapi coba untuk mengawasi daerah sekitar anak, agar tidak ada benda-benda berbahaya yang dapat melukainya seperti perabotan rumah
  • Ketika ia memukul-mukul, segera pegang tangan yang ia gunakan untuk memukul tersebut. Berikan penjelasan kepadanya fungsi tangan bukan untuk memukul sambil tetap memegang tangan atau lakukan teknik mendekap
  • Dekaplah anak sampai ia tenang, Mommies harus lebih kuat daripada tenaganya. Carilah posisi duduk dan bersandar sehingga Mommies bisa menopang tubuhnya dengan posisi yang aman.
  • Cobalah untuk menemukan alasan kemarahan anak Anda.
  • Jangan menyerah pada kemarahan anak. Ketika orang tua menyerah, anak-anak belajar untuk menggunakan perilaku yang sama ketika mereka menginginkan sesuatu.
  • Hindari untuk membujuk anak dengan imbalan yang lain untuk menghentikan kemarahannya. Anak akan belajar untuk mendapatkan imbalan.
  • Arahkan perhatian anak pada sesuatu yang lain
  • Berikan pujian dan penghargaan perilaku bila tantrum telah selesai misalnya dengan acungan jempol, ciuman, pelukan, sticker atau makanan karena pastinya ia sangat lelah dengan tantrumnya.

Nah gimana, Mommies? Cukup jelas, kan, penjelasan Mbak Irma? Saya tau sih, it is easier said than done. Tapi, mencoba trik di atas nggak ada salahnya kok!