Single Mom: Family Day, Bawa Siapa?

Suatu ketika saat Raysa masih TK dulu, sering sekali sekolah Raysa mengadakan bermacam-macam acara yang melibatkan ayah atau ibunya, atau bahkan keduanya. Setidaknya sebulan sekali pasti ada saja undangan berdatangan. Dari family day, mother’s day sampai father’s day. Bawaannya jadi pusing sendiri! Lah, kenapa pusing?

Pusing pertama, kalau family day yang di undangan tertera harus bawa “ayah dan ibu”, saya bawa siapa dong?

Sebagai pasangan yang sudah bercerai, saya dan mantan suami sudah pasti sudah tidak serumah lagi dong. Dengan tidak serumah ini berarti kami sudah memiliki kesibukan masing-masing. Kebanyakan undangan yang berkaitan dengan sekolah datang mendadak jadi agak sulit untuk kami mengatur taktik dalam keadaan seperti ini. Mungkin juga disebabkan oleh saya yang juga bekerja, terkadang saya terlambat membaca undangan tersebut dan kurang ter-update berita terbaru seputar kegiatan sekolah. Syukur-syukur kalau mantan suami tidak ada acara jadi tidak ada masalah untuk menghadiri undangan tersebut.

Yang kedua, namanya juga pasangan bercerai, pasti ada tidak akurnya dong. Kalau dalam kasus saya sih, masih bisa dibilang akur karena kami masih bisa berkomunikasi dua arah selama sedang tidak ada yang lagi “kambuh”. Tapi kebanyakan pasangan yang bercerai tidak akur setelah berpisah – kalau akur pasti tidak akan cerai berai lah intinya :p Kalau sudah begini, mau bagaimana menyiasatinya?

*gambar dari sini

1. Cuek!

Yah, kalau memang yang terbaik adalah datang sendiri karena satu dan lain hal – contohnya, memang komunikasi dengan mantan suami tidak lancar, dan malas berhubungan dengan mantan suami, dll -, maka yah risiko ditanggung sendiri, quite literally! Kalau dalam situasi ini sih menurut saya cuek saja. Pasang muka badak. Kalau ditanya: “Ayahnya ke mana?”, tinggal jawab tidak dapat hadir kan. Tidak usah bertele-tele. The simplest answer is always the best. Biasanya yang bikin kita sebagai single mom untuk datang ke acara sendiri adalah takut dengan berbagai macam persepsi orang. Padahal orang-orang ini juga belum tentu sebenarnya punya pemikiran yang macam-macam, kebanyakan menanyakan ini itu hanya dalam rangka basa-basi.

Tapi bagaimana kalau memang acaranya memerlukan kehadiran sang ayah?

2. Kompromi

Memang tidak semua acara harus dihadiri oleh kedua orangtua. Seperti contohnya rapat perkembangan di sekolah atau terima rapot, saya rasa kehadiran salah satu saja sudah cukup. Tapi di acara seperti Family Day yang memang misalnya mengadakan aktivitas yang melibatkan kedua orangtua, lebih baik keduanya bisa datang. Untuk itu, sebagai ibu kita harus bisa berkompromi! Pasti tidak mau dong melihat anak kecewa kalau teman-teman lainnya didampingi ayah ibunya, sedangkan dia hanya sendiri? Sebenarnya kalau yang saya lihat di sini yang membuat anak sedih adalah bukan karena orangtua mereka bercerai, tapi karena setelah perceraian terkadang komitmen keduanya tidak sama lagi hanya karena malas dengan kehadiran satu sama lain. Lupakan sejenak ego masing-masing dan permasalahan yang ada di antara kalian, karena di hari tersebut, it’s for your kids, ain’t nothing got to do with the two of you. Sebagai orang dewasa yang berani mengambil keputusan untuk bercerai, beberapa jam saja berkompromi untuk kebahagiaan anak pasti mampu.

3. Atur Jadwal

Nah seperti yang saya bilang di atas, tidak semua harus didatangi oleh kedua orang tua. Seperti misalnya acara father’s day, yang penting ayahnya datang. Begitu pula dengan acara mother’s day, ya yang perlu datang ibunya. Jadi kenali jenis acara dan atur jadwal kira-kira yang harus piket di acara tersebut siapa.

Mengingat biasanya anak tinggal dengan ibu, brief secara singkat tentang acara dan apa yang harus dilakukan atau malah dibawa kepada sang ayah jadinya acara akan berjalan semulus mungkin. Malah lebih baik lagi, kalau ada apa-apa yang dipersiapkan, kita sudah menyiapkannya terlebih dahulu untuk menghindari konfrontasi nantinya kalau ada miskomunikasi.

Dengan demikian, juga menghindari waktu yang harus dihabiskan bersama-sama kan :p

Terakhir, pesan saya, take a deep breath and relax before you pick up that phone to arrange your best scenario for your kid’s family day. Memang sih sepertinya common sense saja yang saya tulis di atas. Tapi kadang, sebagai single mom kita perlu diingatkan bahwa dalam memecahkan masalah-masalah tersebut hanya butuh hal-hal kecil yang mudah dilakukan dengan banyak kesabaran.

 


One Comment - Write a Comment

  1. tambahan yg menurut saya jg penting, utk mengkomunikasikan kpd pasangan yg baru, termasuk ke anak2 dr pasangan yg baru kalau si ayah/ibu sedang ada acara bersama mantan utk kepentingan anak..
    supaya gak mendatangkan konflik ke depannya..
    jangan sampai pas masih acara malah ditelfon2in suruh cepet pulang..

Post Comment