Mengambil Pelajaran dari Kasus Ade Sara

Sudah satu minggu ini saya mengikuti berita kasus pembunuhan Ade Sara. Remaja cantik berusia 19 tahun yang dibunuh oleh mantan pacar dan kekasih baru sang mantan. Buat saya, pembunuhan yang dilakukan secara keji dan terencana ini benar-benar di luar nalar.

Ada apa sebenarnya?

Pasti ada yang sesuatu yang salah dengan pelaku hingga dengan sadar melakukan pembunuhan dengan cara yang tragis. Dipukul, disetrum, sampai mulutnya disumpal dengan koran. Apa iya kejiwaan kedua pelaku ini ‘sakit’? Entahlah. Toh, sampai saat ini polisi masih melakukan serangkaian tes psikolog kedua pelaku.

Atau mungkin kedua pelaku tumbuh di lingkungan keluarga yang kurang harmonis atau bermasalah sehingga bisa menimbukan hal-hal traumatis buat dirinya? Bisa jadi. Saya yakin, masalahnya pasti cukup kompleks. Bukan semata-mata lantaran persoalan cemburu saja.

Saya bukan polisi. Juga bukan psikolog. Saya hanya seorang ibu yang lantas berpikir betapa hancurnya perasaan orangtua Sara ketika mengetahui kondisi puteri semata wayangnya? Saya yakin, separuh jiwanya pasti hilang.

Seperti yang saya baca diberbagai berita, kedua orangtua Sara, khususnya sang ibu, Elisabeth, sudah punya firasat jika pembunuh putri semata wayangnya adalah Hafitd. Selain memang faktor feeling ibu begitu kuat, ternyata Sara juga dikenal dekat dengan ibunya. Sara kerap bercerita mengenai kondisi yang dialaminya. Termasuk permasalannya dengan Hafitd.

Dari sini, saya bisa mengambil pelajaran kalau Sara mengangap ibunya seperti seorang sahabat. Tempat ia bisa berbagi hal apa pun. Karena tidak banyak anak remaja yang mau jujur dengan orangtuanya soal kondisi permasalahan yang dihadapi bersama pacarnya.

Sayangnya, orangtua sering lupa berperan sebagai sahabat. Mungkin, persis seperti yang Lita tulis dalam artikel ‘Mom Knows Best’. Karena merasa jauh lebih berpengalaman dan tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya, orangtua lantas sering bersikap seperti “Tuhan”.

Bukan tidak mungkin jika ujungnya-ujungnya anak justru menganggap kita sebagai musuh. Anak hanya akan merasa ada jarak. Sehingga akan menyulitkan kita memasuki dunia anak-anaknya.

Seperti yang dikatakan psikolog Putri Maharani Ardy Langka, kuncinya ada di tangan kita para orangtua. Di mana harus pintar memainkan peran, kapan saatnya jadi ibu, dan kapan bisa jadi sahabat bagi anak-anak. Dengan begitu, kita pun jadi tahu bagaimana harus bertindak.

Tidak kalah penting, jika ingin anak menganggap kita sebagai sahabat, Putri Langka mengingatkan sejak awal harus membangun trust. Hal ini tentu akan memudahkan anak-anak untuk bercerita tanpa harus bohong dan takut apa yang ingin mereka katakan.

“Intinya sebenarnya pada komunikasi. Semua harus dimulai ngomong apa adanya. Misalnya, anak sedang melihat kita berselisih dengan pasangan, ya, jelaskan saja kondisinya. Dengan begitu anak juga bisa belajar berpikir kritis dan orangtua juga wajib untuk tidak berbohong,” terangnya.

Kemudian, orangtua juga wajib mengenali dunia anaknya yang disesuaikan dengan tahapan usia. Mulai dari usia anak-anak hingga usia remaja. “Bukan hal yang tabu kalau kita juga belajar bagaimana caranya jadi remaja yang fun. Mengikuti tren yang sedang up to date. Dan yang tidak kalah penting orangtua juga harus siap dikoreksi. Terkadang orangtua suka lupa dan marah kalau mendapat kritikan dari anaknya. Padahal, ketika kita sedang menjadi sahabat anak, ya, harus siap dikritisi.”

Apa yang dibilang Mbak Putri di atas, sepenuhnya saya setuju. Meskipun saya tau menjalankan peran sebagai ibu sekaligus sahabat tidaklah mudah, tapi proses ini akan terus saya pelajari sampai sekarang. Mudah-mudahan, kelak anak saya, Bumi, tidak hanya menganggap saya sebatas ibunya saja, pun sebagai sahabatnya. Semoga saja….


10 Comments - Write a Comment

  1. Yup! Menurut saya bonding is the most important essence of parenting..
    Kalo sdh ada bonding, lbh mudah menciptakan banyak good feeling, such as trust..
    Daaann…bonding itu dibangun sedini mungkin dgn terus menerus takes a loe of time & effort:)
    Kalo sdh tercipta bonding di golden age nya maka akan lbh mudah menciptakan good relation ketika anak besar & menginjak remaja..
    So..have u created bonding with your children? Or are we too busy with our work & carrier? ;)

  2. yang bikin salut adalah kebesaran hati bu elizabeth utk memaafkan pelaku & keluarganya, jg ketabahan hatinya dlm menerima kematian anaknya..
    gak ada tangis meraung2, kalo saya mungkin udah pingsan berkali2..
    kalimat dia yg saya ingat di salah satu wawancara, “kalo krn sakit, mungkin saya msh bisa peluk dia, rawat dia. tp ini dia pergi seperti aktivitas biasa aja”. dan “kalo dulu saya berpikir, saya bekerja utk anak. kalo sekarang utk siapa”. dan jg caranya menceritakan kenangan2 bersama anaknya, jg kelucuan2 anaknya.
    dan dia mengatakan kalimat2 itu tanpa airmata. mungkin krn hubungan mereka sangat harmonis, mesra. jd si ibu bisa menerima semua dgn hati lapang..

  3. Super salut sama ketegaran ortu Ade Sara, ya. Luar biasa, hatinya bisa seluas samudera gitu… Mana anak tunggal pulak T_____T

    Gue setuju banget, jadi sahabat anak itu penting. Mulainya ya sejak dini, kalau kita nggak bisa menanamkan rasa percaya anak ke kita, efek ke depannya bisa panjang. Mudah2an kita dijauhkan dari semua hal itu, ya. Amiiin.

    1. Aamiin Ya Robbal alamiin…. dulu, sempat kehilangan keponakan karena sakit, itu aja berasa berdukanya hampir satu bulan. Keinget terus waktu gendong2 dan main2an bareng. Mudah2an peristiwa di atas dijauhkan dari kita semuanya, ya…. amiin….

  4. Pertama denger berita ini kaget banget dan marah. Ya, saya marah karena saya nggak habis pikir kenapa remaja yang masa depannya masih panjang direnggut oleh sepasang remaja juga, yang tidak lain adalah teman sma korban. Apalagi melihat ibunda korban, saya langsung teringat almarhum mama. Mama saya rasanya mirip dengan mama korban. Mama sangat dekat dengan saya. Kepada mama saya bisa cerita apa saja. Termasuk saat ada teman sma beda agama yang naksir saya, mama menyikapinya dengan bijak. Mama saya setiap hari selalu menanyakan apa kegiatan saya dan adik2 di sekolah. Tapi mama tidak pernah menggurui, atau menasehati berlebihan yang menimbulkan antipati pada anak2nya. Mungkin karena itu saya selalu menjawab mama adalah sahabat saya yang paling dekat setiap ada orang yang menanyakan siapakah sahabatmu yang paling dekat. Dan yang lebih membanggakan, teman2 sma dan teman kuliah perempuab bahkan sering menginap dan suka sekali curhat ke mama. Karenanya saya bertekad, nanti ketika saya memiliki anak, saya akan berlaku sebagaimana mama memperlakukan saya, karena saya juga ingin anak saya menganggap saya sebagai sahabat terbaiknya….

    1. Ahg ikut senang dengernya. Saya dan mama saya juga cukup dekat, dan bisa terbuka dengan mama saya. Banyak hal yang bisa saya share ke beliau. Harapannya, nanti Bumi juga bisa terbuka dan nggak sungkan untuk cerita apa yang ia rasakan. Mudah2an kita semua kelak bisa jadi sahabat anak-anak kita, ya. Bukan sekedar ibu-ibu yang bisanya cuma ngedikte :)

Post Comment