Tetap Bekerja Selagi Hamil

Kehamilan tidak menghalangi seorang wanita untuk tetap bekerja. Saat ini banyak sekali wanita karir yang tetap bekerja walaupun mereka sedang hamil. Jika kondisi Ibu dan janin dalam keadaan baik dengan kehamilan normal tidak ada salahnya jika Ibu tetap bekerja seperti biasa. Namun memang harus diperhatikan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Ibu hamil. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Ibu hamil jika masih ingin tetap bekerja.

*gambar dari sini

Perkerjaan Berat. Ada beberapa pekerjaan yang terbilang berat untuk Ibu hamil seperti, mengangkat beban berat, berdiri terlalu lama, jam kerja tidak teratur atau berlebihan jam kerja bisa mengakibatkan Ibu melahirkan secara prematur, berat badan bayi rendah serta bisa menyebabkan tekanan darah naik (hipertensi). Ibu juga harus tetap berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan apakah pekerjaan Ibu masih aman atau tidak. Jika memang berbahaya, keputusan ada di tangan Ibu ingin berhenti atau tetap bekerja dengan berbagai resiko.

Bekerja di Sekitar Zat Beracun. Pekerjaan ini jelas sangat berbahaya bagi Ibu dan janin. Jika Ibu tetap bekerja dengan lingkungan yang mengandung zat beracun akan mempengaruhi reproduksi yang bisa terkena logam berat seperti merkuri atau timbal, bahan kimia pelarut organik dan radiasi. Zat-zat tersebut dapat menyebabkan kelahiran prematur, keguguran dan cacat lahir.

Kehamilan Mengalami Komplikasi. Apabila kehamilan Ibu mengalami permasalahan seperti kemungkinan persalinan prematur, memiliki tekanan darah tinggi atau berisiko preeklampsia, memiliki riwayat keguguran atau si kecil tidak tumbuh dengan baik dalam kandungan, Ibu dianjurkan untuk tidak bekerja untuk tetap menjaga kehamilan Ibu.

Mengatasi Mual dan Muntah di Kantor. Hampir semua wanita hamil mengalami yang namanya mual dan muntah. Jika Ibu mengalami morning sickness selalu sediakan kantong plastik, handuk atau obat kumur di meja kerja atau di mobil Ibu. Jika mual atau muntah berkepanjangan ada baiknya Ibu menghubungi dokter untuk mencari solusinya.

Menjaga Profesionalitas Selama Kehamilan. Ibu hamil biasanya sangat sensitif dan hal ini biasanya sangat berpengaruh di tempat kerja. Selama trimester pertama sampai trimester ketiga Ibu sering merasa kelelahan, ketidaknyamanan dan pelupa. Untuk tetap menjaga profesionalitas dalam bekerja, cobalah untuk tidak mudah mengeluh atau berbicara terlalu banyak tentang kehamilan Anda karena itu bisa jadi bumerang bagi Anda sendiri. Terlebih jika rekan atau atasan Anda tidak terlalu menyukai kehamilan Anda.

Tugas Luar Kota. Kebanyakan Ibu hamil bisa melakukan perjalanan secara aman, tetapi sebelumnya bicarakan dahulu dengan dokter Anda, terutama jika Ibu pergi dengan menggunakan pesawat atau perjalanan darat yang cukup lama. Persiapkan obat-obatan yang dapat membantu selama perjalanan.

Atasan Tidak Mendukung Kehamilan Anda. Tidak semua atasan mendukung jika ada salah satu karyawannya sedang hamil. Karena perusahaan harus memberikan cuti setelah melahirkan dengan tetap membayar gajinya. Selain itu perusahaan juga harus menyediakan karyawan pengganti selama Ibu cuti melahirkan.

Kehamilan memang bukan alasan untuk Ibu tidak bekerja, namun jika memang berhenti bekerja dengan alasan yang tepat tidak ada salahnya. Karena hanya Ibu dan dokter yang tahu bagaimana keadaan janin di kandungan.

Sumber dari sini


3 Comments - Write a Comment

  1. Hi mom, aku juga termasuk wanita hamil yg bekerja malah smp kehamilan 9 bulan. Pengalaman anak pertama aku aktif bgt, naik lnt 1-3 pake tangga, bawa berat, puasa full, kayak gak ada pantangan. Tapi anakku lahir iugr tnp diketahui sebelumnya.
    Sekarang aku hamil anak kedua, belajar dr pengalaman, walau aku kuat anakku yg didalam belum tentu kuat dan belum bisa diajak ngomong juga. Jd sudah mulai menahan diri untuk kerja berat dan asupan yang baik banyak gula memang penting.
    Semangat untuk semua moms yg hamil sambil bekerja, tp ingat ada batasan ya…

Post Comment