Motherhood Monday: Kalista Moulany, Keluarga Adalah Prioritas

Tidak ada kata penyesalan dalam kamus hidup Kalista Moulany. Terlebih saat ia memilih menjadikan keluarga sebagai prioritas dalam hidup. Hal ini dibuktikan saat ia meninggalkan karir sebagai offline produser di TV swasta dan memilih  untuk mendirikan Retail Therapy.

Tanpa disangka, usahanya pun akhirnya membuahkan hasil. Tidak hanya sebatas materi yang dapat ia rengkuh, namun lebih dari itu. Karena momen berharga bersama kedua buah hatinya tidak pernah ia lewatkan.

Sebagai salah satu penggemar produk Retail Therapy, saya cukup beruntung karena beberapa waktu lalu berkesempatan bertemu dengan perempuan hebat di balik brand lokal yang satu ini. Berteman secangkir ice coffee latte di sebuah kedai kopi, Pondok Indah Mall, obrolan saya bersama perempuan yang saya sapa Mbak Kal ini pun mengalir dengan santai. Oh, ya, saat itu, kedua anaknya, Allyka dan Arka juga ikut menemani, lho!

Ceritain, dong, Mbak Kal bagaimana awal memulai usaha Retail Therapy ini….

Awalnya aku ini kerja jadi offline produser di TV swasta. Nah, jam kerjanya itu kan gila-gilaan banget, ya. Baru pulang jam 4 atau jam 5 subuh. Waktu itu calon suami yang sekarang jadi suamiku bilang, kalau sudah menikah sepertinya nggak bisa seperti itu terus. Bagaimana dengan anak-anak, nanti. Kebetulan, ibuku juga punya usaha jahit rumahan, dan beliau juga bilang agar aku meneruskan usahanya. Meskipun nggak punya bekal pengetahuan jahit, nggak tau bagaimana bikin pola, aku berani jalan. Untungnya tahun 2009 itu belum banyak brand lokal yang main, jadi memang sedikit mudah untuk masuknya. Jadi sebenarnya kenapa aku punya Retail Therapy karena aku mau menikah dan mau punya anak. Ya, daripada nggak ada kegiatan dan pusing nggak ngapa-ngapain, makanya akhirnya aku mulai usaha ini..

Banyak perempuan yang nggak rela, lho, kalau harus mengorbankan karirnya. Sementara Mbak Kal justru sebaliknya. Hal apa, sih, yang mendasari Mbak Kal mau ikut dengan saran suami?

Benar-benar mengikuti kata suami saja. Tapi aku juga bilang kalau nggak mau cuma diam di rumah, pakai daster menunggu suami pulang. Sementara suami kerja dengan pakaian yang rapi. Akhirnya suami bilang, ya sudah cari kegiatan atau buat usaha tapi aku tetap bisa ngurus anak-anak.

Lagipula, aku juga berpikir saat menikah nggak bisa kerja dengan jam yang cukup gila. Dengan menuruti suami, rezeki nggak akan kemana, malah jadi lebih berkah dan jadi dimudahkan urusannya. Aku percaya hal itu. Kebetulan suami aku juga tipe orang yang tegas, ketemu aku yang senang ke sana ke sini, hahahaha. Jadi pas banget rasanya, karena suami bisa meluruskan aku. Mungkin kalau nggak ketemu sama suami, Retail Therapy juga nggak akan ada, dan uangnya entah habis untuk apa, hahaha.

Oh, ya, malah saking tegasnya, suami pernah bilang, kalau Retail Therapy sudah terlalu menyita waktu dan mengganggu waktu aku dengan anak-anak, lebih baik tutup saja. Kerena prioritas aku memang bukan jualan, tapi keluarga.

Sudah sempat ada di titik itu?

Bagusnya sih nggak, yah. Karena setelah aku merasa sudah kewalahan, suami mengingatkan supaya cari asisten. Awalnya, sih, berat juga. Karena dari awal aku ngotot untuk mengerjakan semuanya sendiri. Ibaratnya Retail Therapy sama seperti bayi. Setelah Retail Therapy besar, untuk melepaskannya pada orang lain, rasanya tuh gimana gitu, ya. Tapi, ya, itu, untung saja suami mengingatkan.

Dulu saat anak pertama sudah cukup besar, dan bisa aku lepas dengan mbaknya. Aku sempat berpikir untuk fokus di kerjaan dulu. Jadi saat suami bilang kalau mau punya anak lagi, aku sempat protes dan bilang kalau aku belum mau hamil. Waktu itu suami udah mengingatkan kalau aku nggak boleh bilang seperti itu, sementara di luar sana banyak sekali pasangan yang berharap punya anak.

Cuma karena waktu itu akunya masih ndablek, jadi cuek saja. Sampai akhirnya saat mengetahui hamil, aku malah ngebatin, “yah… gue, kok, hamil lagi.” Tapi, lama kelamaan namanya juga punya anak, ya akhirnya senang. Tapi justru saat senang-senangnya dan mulai merasakan gerakannya, di usia 4 bulan aku malah keguguran. Nangis sampai berhari-hari. Benar-benar merasa bersalah, mungkin anak aku tau kalau ibunya dulu awalnya nggak suka dengan kehadirannya. Dari sana aku banyak sekali dapat pelajaran berharga.

Sejak itu, semakin yakin kalau keluarga di atas segalanya, ya, Mbak…

Iya benar sekali. Beruntung pekerjaan sekarang ini membuat aku tidak kehilangan momen berharga bersama anak-anak. Kerjanya fleksibel. Kerja di mana saja bisa. Asal ada internet dan handphone. Kalau memang mau kerja, seperti sekarang saat mau wawancara dengan Mommies Daily, aku juga akan izin dulu ke anak-anak. Kalau memang kerjaannya memungkinkan untuk mengajak anak-anak, pasti mereka akan dibawa.

Bagaimana waktu bersama suami, masih bisa curi waktu untuk couple time?

Wah, dulu sih sering banget, tapi kalau sekarang sudah nggak bisa sering-sering. Tapi kami juga punya rules, seminggu dua kali harus jalan berdua. Paling nggak, seminggu sekali sarapan bareng di luar sambil lari pagi. Kalau weekend, biasanya kami dinner. Kalau nggak begitu, ya, nggak bisa ngobrol leluasa dan nggak bisa curhat sama suami, deh. Jadi memang harus disempat-sempatin,

Oh, ya, ngomong-ngomong kenapa, sih, namanya Retail Therapy?

Jadi waktu itu ceritanya, aku lagi pusing, lalu ada beberapa teman dekat yang menyarankan untuk retail therapy. Maksudnya dengan belanja bisa membuat mood kita jadi oke lagi. Bisa jadi sebuah terapi. Wah, aku pikir, artinya bagus juga. Jadilah aku menggunakan Retail Therapy untuk nama brand. Harapannya, orang yang belanja bisa jadi salah satu langkah untuk terapi membuat mood mereka baik lagi. Cewek banget, yaaaa…

Awalnya, Retail Therapy kan clothing line, bagaimana akhirnya berkembang ke clogs?

Awalnya memang clothing dulu, tapi barang bangkok itukan banyak banget, ya, dan harganya bisa dibilang murah. Jadi waktu itu aku cari-cari sesuatu yang unik, akhirnya bertemulah dengan pengrajin kayu sehingga aku mulai membuat clogs. Sebenarnya banyak yang salah mengira kalau Retail Therapy ini mulainya adalah clogs. Tapi biar saja, deh, mungkin memang rezekinya di clogs.

Pernah menyangka nggak, kalau Retail Therapy akan berkembang seperti sekarang ini?

Aku nggak pernah nyangka kalau penjualan secara online ini bisa segini ramainya. Awalnya aku kan memang offline, lalu aku membaca sebuah buku yang menyarankan untuk jualan secara online. Nah, waktu itu juga belum banyak brand fashion lokal yang “main” di online jadi memudahkan masuk ke pasar. Aku sendiri nggak nyangka kalau ternyata penjualan lewat online aku bisa sangat sibuk dengan handphone. Wah, kalau Senin sampai Jumat jangan ditanya, deh, tangan aku bisa nempel terus di handphone, padahal aku juga sudah ada asisten dan masih banyak yang protes karena nggak dibalas. Akhirnya sampai saat aku hamil suami mengingatkan kalau aku nggak bisa begitu terus. Nggak sehat.

Oooh.. makanya akhirnya ada rules Mbak Kal nggak bisa kasih respon saat weekend, ya?

Hahaha, iya! Awalnya suami bilang, masa kalau kita lagi makan sama-sama di restoran, kamu sibuk sendiri dengan handphone. Akhirnya kami bikin rules. Kalau saat weekend kami sepakat nggak boleh pegang handphone. Sebenarnya untuk sekedar cek sih boleh saja, tapi kalau sifatnya nggak mendesak, di luar kepentingan keluarga, aku nggak bisa untuk balas. Di hari biasa, saat kami makan bersama di meja makan juga nggak boleh pegang handphone.

Namanya punya usaha, pasti pernah mengalami pasang surut, dong, ya… Ceritain sedikit, dong, Mbak…

Awalnya aku kan nggak punya ilmu sama sekali, jadi, awal-awal kasih harga yang sembarangan. Soalnya dulu mikirnya, yang penting laku, jadi kasih harga cuma seratus ribu, tanpa dipikirkan biaya produksi dan lain-lain. Sampai akhirnya di bulan ke tiga, aku bingung bagaimana harus membayar karyawan. Belum lagi aku sempat ditipu sama orang yang mengaku mau bisnis bareng. Aku ini orangnya juga suka penasaran, jadilah waktu awal langsung membuka toko di beberapa tempat. Selain di Cipete, aku juga buka di ITC dan daerah Kemang. Tapi, ya, akhirnya cuma bertahan beberapa bulan saja. Dari sana aku mikir, mungkin harus fokus dulu di satu tempat. Nggak boleh serakah, hahahaha.

Bagaimana Mbak menghadapi kompetitor? Apalagi sekarang saya lihat banyak banget yang plagiat produk clogs Retail Therapy?

Dulu aku, sih, nyolot dan kesal banget, yah! Tapi mau diapain juga pasti ada saja, deh, yang meniru. Dan yang paling menohok belum lama ini justru ada saudara aku sendiri yang ikutan bisnis clogs tapi ya modelnya sama persis dengan yang aku buat. Tapi, ya, sudahlah. Suami juga mengingatkan, kalau rezeki nggak akan ke mana. Dari sana justru mencambuk aku untuk terus berpikir maju dari mereka. Memicu otak aku untuk terus membuat sesuatu yang baru. Kalau terus produksi model yang lama-lama, ya, bisa saja akhirnya customer memilih brand lain karena harganya lebih murah.

Minta kiatnya, dong, Mbak bagaimana untuk memulai sebuah usaha…

Kalau dari aku, mungkin yang paling utama, cari keunikannya dulu. Jangan menjual sesuatu yang sudah biasa. Jadi, punya ciri khas sendiri. Yang kedua, mungkin untuk saat ini kalau mau membuka usaha mulai saja lewat online dulu karena cost-nya bisa dibilang tidak besar. Selain itu, ya, harus mau belajar, bisa lewat orang terdekat dulu. Contohnya aku, dari yang semua nggak tau apa-apa tapi jadi harus banyak belajar. Dengan suami belajar bagaimana cara marketing yang baik, dengan ibu belajar soal desain dan bikin pola baju. Jadi mereka berdualah guru aku.

——

Wah, buat saya pribadi, saya begitu kagum dengan sosok pemilik Retail Therapy ini. Di samping itu, saya pun bisa mendapat insight yang sangat menarik dan tampaknya patut dicontoh. Terutama, soal bagaimana kita harus menghormati apa yang dikatakan suami. Umh, bagaimana menurut Mommies yang lain?


Post Comment