Business Travel Bagi Ibu Menyusui

Ketika anak saya masih dalam tahap menyusui, saya cukup sering ditugaskan kantor untuk berpergian ke luar negeri. Berbeda dengan penerbangan domestik, ada batasan dalam membawa cairan ke dalam kabin, karena itu ada beberapa kiat berdasarkan pengalaman pribadi saya.

  • Jika terbiasa memompa ASI menggunakan breastpump, cobalah belajar menggunakan tangan. Ini sangat berguna mengurangi kerepotan mensteril pompa dan mengurangi beban bawaan. Tidak sulit kok memompa dengan tangan. Memang awalnya agak pegal tetapi ini juga berguna ketika pompa kita rusak atau ketinggalan. Baca artikel teknik marmet, deh.
  • Biasanya saya memerah ASI dulu sebelum berangkat ke airport. Gunanya supaya payudara tidak penuh sehingga masih ada waktu untuk memerah berikutnya.
  • Membawa plastik ASI lebih praktis daripada botol. Karena hemat tempat. Tetapi jangan lupa coolbox yang kita bawa harus cukup aman untuk menampung plastik yang lebih fragile daripada botol.
  • Saya tetap membawa botol kosong bermulut lebar, karena untuk memerah lebih mudah menggunakan botol ini daripada plastik. Nantinya bisa dipindahkan ke plastik jika jumlah botol yang dibawa tidak mencukupi.
  • Botol-botol kosong ini saya tempatkan di dalam coolbox lalu saya masukkan ke handbag yang saya bawa ke kabin. Ketika melewati detektor, botol-botol ini akan terdeteksi (kadang juga tidak kalau di Bandara Soetta). Saya akan bilang bahwa ini botol-botol untuk ASI. Kadang petugas langsung menyuruh saya lewat tetapi sering juga mereka minta saya untuk membukanya. Saya lebih suka membuka coolbox saya sendiri dan menunjukkan kepada mereka. Kita kan tidak tahu kebersihan tangan petugas seperti apa jika mereka memegang botol-botol yang sudah steril ini.

*gambar dari sini

  • Sering juga ada pertanyaan lanjutan, “Where’s the baby?” Ketika saya jawab “at home” biasanya sih tidak ada interogasi lebih lanjut. Mungkin karena kampanye ASI di Indonesia cukup sukses biasanya petugas di sini sudah biasa. Tetapi di luar negeri sering mereka menunjukan muka bingung. Tapi saya selalu bisa lewat tanpa pertanyaan lebih lanjut.
  • Setelah mendarat, saya akan memompa lagi. Di beberapa airport sudah ada, sih, ruang nursery khusus tapi kadang karena buru-buru (karena harus langsung meeting) saya sering malas mencari dan lebih gampang menggunakan toilet yang lebih gampang ditemukan. Jangan ditiru ya! :D
  • Jika berpergian kurang dari seminggu, saya lebih suka tidak membekukan ASI. Minibar di hotel kan rata-rata jarang yang ada freezer-nya. Jadi yang saya titipkan ke pihak hotel supaya tetap beku hanya ice gel saja, sedangkan ASI tetap saya simpan dalam minibar dalam kamar saya.
  • Saya biasanya membawa 2 coolbox. Satu disimpan dalam koper yang masuk ke bagasi, satu lagi untuk di handbag saya yang saya bawa ke mana-mana sehingga saya siap kapan pun memompa.

Saya mulai ditugaskan melakukan perjalanan dinas sejak anak saya berumur 7 bulan hingga 1.5 tahun. Jadi, ya, cukup sering saya berpergian. Awalnya sebulan sekali lalu menjadi seminggu sekali. Untungnya tidak pernah dalam jangka waktu yang lama.

Selama ini ASI yang saya simpan tidak pernah rusak. Tetapi memang saya tidak bisa mendapatkan hasil perah sebanyak jika di rumah. Mungkin karena ketika travel jadwalnya lebih kacau dan saya dalam keadaan yang lebih lelah.

Ada lagi di sini ibu menyusui yang sering ditugaskan traveling oleh kantor? Share dong, mungkin ada kiat lainnya, pasti berguna!


One Comment - Write a Comment

  1. Sekedar sharing saja..ketika anak kedua saya Manta (11 months) berumur tepat 6 bulan, saya diharuskan menjalani perjalanan dinas ke luar negeri. Dan ga tanggung-tanggung disuruhnya dinas ke New York, Setelah kelimpungan bagaimana cara membawa asip dari LN sempat baca juga dari AIMI ASI bahwa pernah ada yang berhasil membawa asip dari LN. Pemilihan Airways yang ramah dengan ibu menyusui juga perlu dilakukan kayaknya..pengalaman saya naik SQ lebih ramah karena mungkin mereka orang Asia juga.
    Jakarta Singapore dengan mudah dijalani. Karena mepet waktu boarding dengan kedatangan saya ke Bandara saya jadinya ga sempet mompa. Saya mompa sekali di pesawat dan mompa di tempat duduk saja sambil pake apron, kebetulan yang duduk sebelah adalah suami istri orang indonesia jadi cincay lah ya..
    Ketika di imigrasi changi, asip bs lewat dengan mudah ketika dijelaskan bahwa itu adalah asip.
    sempet mompa sekali di changi karena transitnya agak lama sekitar 3 jam.
    Perjuangan dimulai ketika berangkat dari Changi menuju frankfurt. Perjalanan kayaknya ditempuh sekitar 14-15 jam lah. Saya mompa dengan rutin setiap 3-4 jam sekali. Kalo malem saya coba mompa di toilet karena sepi tapi kalo toilet penuh saya lebih suka mompa di tempat duduk saja. Oh ya saya mompa pake avent manual jadi ga bunyi apa2 selain sedikit bunyik ngik2,,
    Trus sampe di frankfurt baru timbul masalah..petugas imigrasi agak mempersulit untuk membawa asip.
    Saya diperiksa seluruh bawaan termasuk tas asip di suatu ruangan. saya sudah jelaskan bahwa ini adalah asip dan diperkenankan dibawa jika merujuk kepada aturan TSA trus saya juga punya surat dari Dokter kandungan saya bahwa saya adalah ibu menyusui. Saya pokoknya ngotot kalo bawa asip itu boleh dengan sedikit mengancam bahwa saya ga akan berangkat kalo saya ga boleh bawa asip saya. untungnya saya bawa tas asip allerhand yang ternyata familiar disana ntuk bawa asip juga jadi saya boleh bawa asip saya itu *Alhamdulillah
    Nah dari frankfurt perjalanan sekitar 10 jam lagi dan saya memompa kembali 2x di pesawat.
    Alhamdulillah selama seminggu disana saya berhasil mengumpulkan sekitar 900ml sehari.
    Ketika mau pulang berkaca pada susahnya imigrasi di frankfurt saya akhirnya memutuskan untuk memasukkan tas asip saya (yang sekarang jauh lebih besar) kedalam koper yang super gede untuk kemudian dimasukin bagasi.
    Meninggalkan sekitar 10 plastik di New York karena keterbatasan tempat, akhirnya saya pulang dengan membawa tas asip yang ketika ditimbang beratnya 9 kg hehehe,,bukan pake cooler box sih tapi saya pake tas asip yang bisa dibeli di ace hardware,,nah saya masukin dulu ke kotak yang diisi sama cooler gel yang agak banyak trus diselotip gede berkali2 gitu dibalut,,make sure agak susah masuk oksigen ke dalam kotak itu,,
    Alhamdulillah dengan penerbangan yang sama saya berhasil bawa pulang asip saya meskipun sebagian yang cair terpaksa dibuang,,yang tidak dbekukan (hasil pompaan 2 hari terakhir) semuanya terselamatkan :)
    Sampai dirumah ketika manta mau menyusui kembali merupakan anugrah yang tidak terkira..Alhamdulilah saya berhasil membuktikan bahwa sebennernya bisa bawa pulang asip buat anak tercinta meskipun ribet tapi dibayar lunas dengan hasilnya…sampai sekarang Nitimanta masih nyusu lho…Insyaallah berjuang hingga tahun depan :)
    Semoga berguna yaaaa,,buat yang mau dinas ke Luar Negeri

Post Comment