“Dingin” Di Ranjang, Kenapa Ya?

“Diduga sekitar 25-50% perempuan yang sudah menikah atau yang sudah aktif melakukan hubungan seksual mengalami permasalahan disfungsi seksual, dengan keluhan utama yang disebutkan adalah kegagalan atau tidak mengalami orgasme”

Wow! Saya cukup kaget dengan penjelasan androlog, dr. Oka Negara, FIAS, mengenai kondisi disfungsi seksual yang banyak dialami perempuan yang sudah menikah. Saya pikir selama ini, kondisi yang paling parah dalam hubungan seksual disebabkan karena ejakulasi dini , hehehee. Ternyata dugaan saya salah. Ternyata…. sumbernya juga bisa dari kita, ya, kaum perempuannya.

Kalau dipikir-pikir benar juga, sih. Mungkin kalau masalah disfungsi ereksi, memang bisa terlihat dengan kasat mata. Sedangkan kalau gangguan fungsi seksual pada perempuan ini kan sebenarnya tidak bisa terlihat. Belum lagi kalau ditambah, banyak perempuan yang suka melakukan fake orgasm. Hayu…. bener kan? Padahal, yang namanya sudah berumah tangga bukankan sebaiknya selalu menerapkan, honesty is the best policy?

Sebenarnya obrolan saya dengan dokter Oka ini bukan tanpa alasan. Seperti biasa, akhir bulan lalu saya kumpul dengan beberapa sahabat. Ya, sesibuk apapun kami dengan urusan kerjaan ataupun rumah tangga, tapi kami selalu menyempatkan diri untuk bertemu walupuan hanya sekedar ngopi-ngopi. Terlebih untuk saya pribadi, meskipun sudah jadi ibu tapi saya tetap bisa, kok, jadi teman yang menyenangkan.

Jadilah pertemuan kali itu diisi dengan sesi curhat-curhatan. Mulai dari ngomongin masalah tumbuh kembang anak, sampai nyerempet ke masalah yang lebih pribadi. Salah satunya sahabat saya yang mengaku sudah tidak “berhubungan” dengan suaminya hampir lebih dari tiga bulan. Padahal, mereka tinggal satu atap, lho! Bukannya sedang menjalankan LDR-an.

Saat mendengar ceritanya saja saya tercengang! “Masa sih, sampai tiga bulan sama sekali nggak ada rasa kangen sama suami? Terus suami loe masa juga nggak ‘minta’, ya?”

Yah, kira-kira begitulah berondongan pertanyaan yang saya ajukan ke sahabat saya ini. Dengan santai pun dia bilang, “Ya, memang nggak kepengen aja, sih. Beda bangetlah sama dulu-dulu waktu baru nikah. Lagian suami gue juga anteng saja, tuh.”

Duh! Kok, denger jawaban sahabat saya ini, malah saya yang ngeri, ya? Plus jadi bertanya-tanya, bukankah kalau suami nggak minta justru aneh, ya? Ya, maksudnya patut dipertanyakan, deh. Sebagai teman, saya pun hanya bisa menyarankan agar sahabat saya ini mencari cara untuk me-refresh hubungan lagi.

Selain itu, saya pun jadi penasaran perihal gangguan seksual yang banyak dialami para perempuan. Biar nggak salah, saya pun bertanya pada ahlinya. Simak, yuk, obrolan saya dengan dr. Oka Negara.

Dok, sebenarnya gangguan seksual yang sering terjadi pada perempuan, apa saja sih?

Disfungsi seksual pada perempuan dapat dikelompokkan menjadi empat golongan, pertama gangguan dorongan seksual, kedua gangguan bangkitan seksual, yang ke tiga gangguan orgasme, dan yang terakhir adalah gangguan yang menimbulkan rasa sakit, termasuk di dalamnya dispareunia, vaginismus, dan gangguan sakit seksual lainnya. Itu sesungguhnya pembagian disfungsi seksual pada perempuan.

Nah, bagaimana dengan gangguan yang sering disebut dengan frigid?

Istilah frigid yang menjadi asumsi umum, bisa dimasukkan ke dalam kelompok yang pertama, yang sekarang disebut sebagai Gangguan Dorongan Seksual (GDS). Sesungguhnya istilah frigid bukanlah sebuah istilah yang tepat lagi buat disebutkan saat ini, sama dengan istilah impoten yang sering ditujukan buat gangguan seksual pada laki-laki yang juga tidak tepat lagi untuk disebutkan.

Pada perempuan, gangguan dorongan seksual dapat berupa dorongan seksual yang hipoaktif atau dapat berupa gangguan aversi seksual. Dorongan seksual yang hipoaktif dapat diartikan dorongan seksual yang lenyap sehingga tidak merasa bergairah untuk melakukan segala bentuk aktivitas seksual dan hubungan seksual. Sedangkan yang tergolong aversi seksual berarti telah timbul perasaan tidak suka, bahkan takut atau jijik melakukan aktivitas seksual sehingga cenderung menghindari dan menolak.

Faktor apa saja yang menyebabkan seseorang mengalami frigid?

Gangguan dorongan seksual bisa ditelusuri penyebabnya berdasarkan faktor-faktor yang menentukan optimalitas dorongan seksual. Dorongan seksual sangat ditentukan oleh hormon seks, keadaan kesehatan umum, faktor psikis dan pengalaman seksual sebelumnya. Misalnya saja pada pengguna kontrasepsi hormonal baik yang berbentuk pil maupun suntikan, sering kali juga dijumpai penurunan dorongan seksual saat memakainya. Keadaan kesehatan umum juga menentukan dorongan seksual. Saat seorang perempuan sedang sakit, apalagi sakit kronis dan berat, sudah bisa dipastikan dorongan seksual juga terganggu.

Hambatan psikis yang kerap muncul menjadi penyebab menurunnya dorongan seksual adalah kejenuhan dengan pasangan hingga problem psikis dengan pasangan sendiri, atau memang ada beban pikiran dan stres yang berkelanjutan dari keseharian. Sedangkan pengalaman yang traumatik dari hubungan seksual sebelumnya, atau adanya pelecehan seksual yang dialami, adalah pengalaman buruk di masa lalu yang sering menjadi penyebab gangguan dorongan seksual.

Ada nggak, sih, tanda-tanda seseorang yang mengalami gangguan dorongan seksual?

Sangat bervariasi, tergantung jenis gangguan dorongan seksualnya. Jika yang terjadi adalah gangguan dorongan yang tipe aversi seksual, maka yang bersangkutan akan menarik diri dari segala bentuk ajakan dan pembicaraan tentang aktivitas seksual atau yang serupa. Dia akan menolak, bahkan merasa jijik jika ada yang membicarakan tentang seks. Bisa terjadi tanda kegelisahan, gemetar, hingga mual dan menarik diri dari ajakan tentang seks, termasuk sekedar membicarakan seks. Ini biasanya karena masa lalu yang sangat buruk dari pengalaman seksualnya. Beberapa kasus perkosaan, terlebih perkosaan yang cukup ekstrem misalnya perkosaan beramai-ramai, atau perkosaan yang disertai kekerasan fisik, akan menjadi penyebab aversi seksual.

Kenapa gangguan dorongan seksual ini sering dialami oleh para perempuan?

Sebenarnya sama saja. Laki-laki juga mengalaminya. Laki-laki juga mengalami gangguan dorongan seksual, dengan tipe yang sama, ada yang hipoaktif dan juga ada yang aversi seksual. Hanya saja, laki-laki menjadi tersamarkan karena laki-laki sering kali tidak mengakui masalah seksual yang terjadi pada dirinya secara terang-terangan karena dihubungkan dengan harga diri patriarki. Sementara perempuan karena masih banyak dianggap subordinasi dari laki-laki sering kali dijadikan kambing hitam dan objek penderita sebagai tertuduh jika terjadi ketidakharmonisan hubungan seksual. Jadi akhirnya yang dituduh dan banyak dibahas mengalami gangguan dorongan seksual adalah pihak perempuan. Di samping itu bisa jadi juga karena laki-laki dianggap lebih resisten dan kuat bertahan dari problema psikis dan trauma seksual, sehingga kejadian gangguan dorongan seksual tidak banyak berlanjut menjadi permasalahan serius.

Jadi, laki-laki juga mengalami, ya?

Bisa saja, dan sudah cukup banyak terjadi. Itu disebut dengan gangguan dorongan seksual. Tipe paling sering adalah yang hipoaktif atau low sexual desire. Hanya saja penyebab yang paling banyak bukan dari trauma seksual, tetapi dari problem hormonal, dalam hal ini adalah penurunan hormon testosteron yang disebut sebagai Testosterone Deficiency Syndrome, yang sering kali biasanya di waktu yang lalu berjalan dengan proses penuaan, tetapi di era modern kejadian ini muncul karena permasalahan gangguan kesehatan metabolik, akibat pola dan gaya hidup buruk yang memunculkan penyakit metabolik seperti kencing manis, tekanan darah tinggi dan penyakit karena kolesterol.

Jika sudah ada gangguan dorongan seksual, apa masih bisa melakukan hubungan seksual? Atau jika terasa “dingin”, sudah bisa dikatakan gejala adanya gangguan dorongan seksual?

Tentu saja sebaiknya harus berhati-hati, karena jika dipaksakan akan menimbulkan efek yang lebih buruk ke depannya. Kejadian pemaksaan hubungan seksual akan bisa memunculkan juga gangguan fungsi seksual yang lain, seperti dispareunia dan vaginismus. Komunikasi seksual yang baik sangat diperlukan jika salah satu pasangan menginginkan hubungan seksual. Bisa jadi memasturbasikan pasangan adalah pilihan aktivitas seksual yang bisa dilakukan buat saat ini, atau sekedar soft petting saja dan bukan seks penetrasi. Bagi pengidap aversi seksual malah sangat tidak mungkin melakukan hubungan seksual. Yang paling dibutuhkan justru datang ke ahlinya untuk mendapatkan pertolongan dan terapi seksual.

—–

Ah, urusan yang satu ini memang bisa dibilang kompleks, yah! Kalau buat saya pribadi, sih, intinya memang lagi-lagi jangan pernah menyepelekan komunikasi, ya. Sebelum melakukan komunikasi seksual, mungkin ada baiknya kita harus menjadikan 15 menit waktu  berkomunikasi dengan keluarga, baik dengan suami ataupun anak jadi sebuah ritual. Yah, hitung-hitung buat investasi ke depannya. Setuju, dong, ya!