Dengue Yang Mempercepat Kehadiranmu

Garibaldhi Hamizan Arkananta, my cute baby boy Arka yang kini tiap 2 jam menagih jatah ASI pada saya, yang menjadi pelipur lara dan penambah semangat baru bagi saya dan suami. Ah, tidak saya sangka kita bertemu lebih awal dari yang seharusnya. Rasanya, sampai tidak bisa berkata apa-apa nak, selain… adalah sebuah miracle bisa memeluk sosok yang seharusnya masih ada di rahim saya.. :)

Semua berawal dari demam yang saya rasakan di sore hari itu, 18 Januari 2014. Mengingat kondisi sedang mengandung 32 minggu, saya tidak berani mengonsumsi obat penurun panas walaupun beberapa teman merekomendasikan obat yang mereka bilang AMAN bagi ibu hamil. Saya tetap berusaha bertahan dengan demam tinggi yang membuat seluruh sendi rasanya mau copot. Kasur yang biasanya nyaman untuk merebahkan diri, terasa bagai papan yang semakin membuat badan ngilu saat digerakkan meski hanya sedikit. Sore, malam hingga keesokan paginya, saya tetap bertahan tidak mengonsumsi obat apapun walaupun akhirnya semalaman tidak bisa tidur.

Keesokan harinya, 19 Januari 2014, demam rasanya makin menyiksa. Saya minta suami untuk membawakan sepotong roti ke kamar untuk sarapan saking rasanya tidak sanggup jalan untuk mengambil sendiri. Akhirnya saya menyerah, dan meminta pada suami untuk membawakan Paracetamol, karena waktu rasanya sudah tidak bisa menahan suhu panas yang berbalik membuat saya menggigil parah dengan sendi-sendi yang semakin sakit.

Bismillah, tombo teko loro lungo, semoga kamu baik-baik saja di dalam ya nak, saya berbisik sambil mengelus perut yang terus ditendangi si baby. Ternyata hingga sore, malam dan keesokan harinya pun, demam saya tidak berkurang sama sekali sehingga  saya pun memutuskan untuk mengulang konsumsi Paracetamol tersebut di sore harinya.

20 Januari 2014, demam masih tinggi, tidak berkurang di kisaran 39 – 39.5 derajat. Dengan keadaan menggigil, saya minta pada suami untuk membawa saya ke Rumah Sakit. Awalnya, berpikir ingin ke RSIA Hermina di mana pagi itu SpOG saya, dokter Budi Susetyo, sedang praktik pagi. In case ada apa-apa, saya jadi bisa langsung konsul kandungan juga. Tapi ndilalah jalan menuju RSIA Hermina di pagi itu macet sekali, sementara tubuh rasanya sudah nggak sanggup berkutat dengan kemacetan separah itu.

Saya pun mengubah keputusan. Toh , saya pikir waktu itu juga belum saatnya melahirkan, kedatangan ke dokter hanya butuh informasi mengenai kondisi kesehatan saja. Rasanya memang perlu blood test. Akhirnya saya pun memutuskan untuk ke RS Azra. Pilihan yang akhirnya membuat saya harus berkata say goodbye dengan SpOG yang membantu sejak awal kehamilan, dan saya impikan untuk menolong persalinan di awal Maret 2014.

Satu jam menunggu sejak sample darah diambil, hasilnya ternyata membuat saya tersentak dan lemas. Saya didiagnosa DHF (Dengue Hemorrhagic Fever) alias demam berdarah dengan jumlah trombosit 199.000. Walaupun jumlah trombosit masih di atas angka minimal, dokter mengharuskan saya dirawat inap mengingat saya sedang mengandung. Jadi kondisinya memang cukup berisiko jika memaksa pulang.

Saat itu masih tidak ada bayangan bahwa akan melahirkan lebih awal, jadi saya pun meminta ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam langganan suami, dokter Abdulloh Arief Nasuha dengan didampingi dokter Surya Chandra SpOG untuk konsultasi obat-obatan yang aman bagi saya.

Selasa, 21 Januari 2014, trombosit mulai turun ke angka 144.000. Dokter meminta saya untuk tenang, karena DHF tren trombosit memang akan turun sampai hari ke-7. Ia hanya berpesan, yang perlu dijaga adalah asupan makanan dan minuman jangan sampai dehidrasi.

Rabu, 22 Januari 2014, trombosit turun lagi ke 106.000. Saya masih berusaha tenang sambil terus berdoa semoga tidak berpengaruh pada janin. Tapi dokter Surya merekomendasikan untuk transfusi darah hari ini.

Kamis, 23 Januari 2014, kehebohan mulai terjadi saat trombosit menunjukkan angka 62.000! Setelah transfusi malah semakin turun. Dokter Surya memutuskan bahwa kehamilan saya harus di-terminated hari ini, demi menjaga kondisi janinku yang pastinya mulai terpengaruh. Kandungan pun mulai diperiksa secara rinci, dan lemaslah saya ketika mendengar detak jantung janin yang tidak beraturan. Kadang di atas 150, kadang di bawah 100. Sebuah tanda kalau janin saya mulai tidak nyaman di dalam sana.

Nak, kamu baik-baik saja kan? Batin saya saat itu. Tak terasa, di tengah kekalutan, airmata pun mulai meleleh dan mengalir deras. Saya khawatir, umur kehamilan 33 minggu ini masih terlalu dini untuk diakhiri, janin saya pasti belum siap lahir! Malam itu dokter Arief merekomendasikan, jika memang saya harus Cito SC malam itu, dan harus ditransfusi terlebih dahulu sampai trombosit naik minimal 75.000. Situasi semakin tidak menentu saat saya mengetahui kalau stok trombosit darah AB sedang kosong di mana-mana. Yang tersisa hanya ada di Tangerang yang mengakibatkan Cito SC tidak bisa segera dilaksanakan.

Jumat, 24 Januari 2014, pagi itu trombosit turun lagi hingga 34.000 yang membuat saya semakin khawatir dengan kondisi janin. Lantas, saya pun mengatakan pada suami, “Kalau sampai ada opsi aku atau bayiku yang harus diselamatkan, papi tahu kan yang harus dilakukan? Selamatkan bayi laki-laki kita Pi, apapun taruhannya,” Mendengar permintaan saya, suami hanya bisa terus menenangkan. “Istighfar Mi, semua akan baik-baik saja InsyaAllah, kamu dan bayi kita akan baik-baik saja.” ucapnya saat itu.

Dokter akhirnya memutuskan kalau saya harus transfusi sebanyak 20 kantong trombosit dan 5 kantong full blood disediakan sebagai cadangan pasca Cito SC. Trombosit yang saya butuhkan belum datang juga hingga Shalat Jum’at berakhir. Dokter memutuskan SC kali ini akan menggunakan bius total untuk minimalisasi perdarahan. Saya benar-benar merasa putus asa, sekaligus pasrah tentunya. Seandainya saya memang tidak sanggup melaluinya.

Apapun Ya Allah, apapun asal bayiku selamat… kalimat inilah yang terus saya ulang sambil melafalkan nama-nama-Nya dalam hati. Beberapa orang sahabat ikut hadir menemani dan memberi semangat di ruang VK tersebut.

Darah baru datang sekitar jam 4 sore dan transfusi langsung dilaksanakan. Transfusi trombosit ternyata berbeda dengan transfusi full blood ataupun packed red cell yang selama ini sering saya jalani. Per kantong memakan waktu yang relatif singkat sekitar 15 menit.

Tepat jam 18.30, saya masuk ruang operasi. Suami sempat memberikan kecupan hangat di keningku dan berbisik di telinga, “Berdoa terus ya Mi, kamu pasti bisa melaluinya,” Airmataku semakin deras. Bismillah…

Dokter mulai sibuk di ruang operasi, dan saya mulai dipasang berbagai peralatan operasi. Terakhir saya diminta menghirup sesuatu hingga akhirnya aku tidak ingat apa-apa lagi. Belakangan menurut suami, Arka lahir tepat jam 19.15, sempat tidak menangis dan tidak berdetak jantungnya :(

Entah jam berapa, sayapun tersadar dan sudah berada di ruang HCU (High Care Unit) dengan masih berbekal macam-macam peralatan menempel di tubuh. Dua buah selang infus ganda menancap di lengan kanan dan kiri. Di kanan infus, di kiri mengalir trombosit yang terus mengalir dan kantong full blood di sebelahnya yang menggantung, mengantre untuk dialirkan juga.

Saya tanya pada perawat, suami saya mana. Tidak berapa lama, suami pun masuk dengan seutas senyuman. “Alhamdulillah Mi, sudah sadar. Lihat, kamu bisa kan?”. Seketika itu juga, saya pun langsung menanyakan kondisi anak kami. “Dia baik-baik saja, ada di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) sekarang. Terima kasih ya Mi sudah melahirkan bayi laki-laki yang lucu,” ia pun langsung mengecup kening dan pamit tidur sambil meminta saya untuk tidur juga.

Keesokan harinya, antara sadar dan tidak, mungkin karena masih pengaruh obat anestesi, saya melihat begitu banyak saudara, sahabat dan kerabat yang silih berganti mengunjungi di ruang HCU tersebut. Bahkan suami bercerita bahwa beberapa orang sempat menunggui proses operasi tadi malam. Alhamdulillah, begitu banyak yang peduli dan mendoakan kami :’)

Tapi ternyata kesedihan saya tidak sampai di situ saja. Hari-hari selanjutnya cukup membuat frustrasi karena di saat ibu lain lain bisa menggendong dan menyusui bayinya sesudah melahirkan, saya tidak bisa melakukannya. Saya harus puas memandangi bayi mungil tergolek di dalam inkubator dengan bermacam-macam alat menempel di tubuhnya. Syukurnya, ASI di hari ke-3 yang mulai mengalir deras sehingga bisa dipompa dan diberikan pada Arka melalui selang yang langsung ke lambungnya.

Alhamdulillah, setelah penantian yang rasanya begitu panjang, di hari ke-17, anak kami bisa bawa dibawa pulang. Bisa saya susui, peluk dan cium setiap saat. Kini memandangi wajah mungilnya yang teduh, takkan pernah saya lupakan perjuangan yang sama-sama kami lakukan untuk bisa bersama seperti saat ini. Semoga kamu menjadi peneduh dan penerang keluarga ini dan tumbuh menjadi anak sholeh yang sehat selalu nak… Love u deeply, my lil Arka….

Alhamdulillah ya Allah, semoga saya senantiasa tetap bersyukur atas semua jalan-Mu yang membawanya lebih awal..

 


3 Comments - Write a Comment

  1. Ah jadi mau nangis bacanya.. Inget waktu awal 2013 jg sempet kena demam, leukosit tinggi, dan HB saya rendah bgt.. dirawat 10hari d RS, sudah siap untuk transfusi dan suntik pematangan paru. Alhamdulillah, pelan” leukosit turun dan HB kembali normal. Akhirnya baby lahir sesuai jadwal *molor malah* di usia 41wk dan normal.. tapi moment kyk gt gk akan bs lupa ya.. Alhamdulillah ibu dan baby semua selamat ya mom.. :’)

Post Comment