Brain Gym 101

Pada bulan Desember lalu, sekolah anak saya mengadakan acara bertajuk “Brain Gym 101.” Pengenalan terhadap materi brain gym ini diberikan sehubungan akan diadakannya pelatihan brain gym tahap dasar untuk para orangtua murid. Namun pada workshop singkat ini, kami dipandu oleh guru dan terapis sekolah yang semuanya telah mengikuti pelatihan brain gym dan mendapat sertifikasi. Menurut saya, informasi tentang brain gym yang saya dapatkan sangat berguna untuk diaplikasikan dan dipelajari lebih mendalam.

Agar mendapat gambaran mengenai brain gym, pertama-tama dijelaskan bahwa untuk meningkatkan kualitas intelegensia anak maupun mendorong kemampuan motoriknya, diperlukan stimulasi yang optimal bagi otak. Salah satu cara menstimulus otak (brain stimulation) adalah dengan mengajak anak bergerak. Mengapa anak-anak harus bergerak? Karena bergerak merupakan pintu masuk dalam mempelajari hal baru. Gerakan membuat anak belajar dan bereksplorasi, serta dapat menstimulasi saraf otak anak untuk memecahkan masalah.

Sejarah brain gym diawali oleh Dr. Paul E. Dennison, seorang pendidik dari Amerika Serikat. Ia menemukan bahwa ketika syaraf untuk gerak diaktifkan, maka jaringan ini akan mengaktifkan dan menghubungkan otak secara sinergis-suatu kondisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perubahan. Pendekatan ini disebut Educational Kinesiology (Edu-K) atau Kinesiologi Pendidikan.

Awalnya Brain gym hanya ditujukan bagi anak-anak yang mengalami ADD (Attention Deficit Disorder), hiperaktif, kerusakan otak, sulit konsentrasi dan depresi. Namun pada perkembangannya, brain gym dapat digunakan oleh setiap orang, termasuk lansia, karena mengoptimasi fungsi otak, dan gerakannya mudah dilakukan.

Gerakan-gerakan dalam brain gym sendiri dikelompokkan ke dalam 26 gerakan dasar yang berguna untuk menstimulasi seluruh bagian otak. Namun sebelum memasuki gerakan brain gym, ada tahapan yang perlu kita lakukan.

Tahap 1: Menetapkan tujuan.

Bayangkan masalah yang ingin diatasi atau goal yang ingin kita capai. Dari situ, kita membentuk kalimat tujuan yang Positive, Active, Clear (Jelas), dan Energetic. Utarakan tujuan kita itu dalam sebuah kalimat yang positif, menunjukkan kontribusi yang aktif dari diri sendiri, jelas, dan menimbulkan semangat.

Contoh tujuan yang benar: “Saya makan buah dengan nyaman.” Atau “Aku berjalan pagi secara teratur dengan senang, nyaman, dan bersemangat.” Untuk anak-anak, dapat ditetapkan tujuan sesuai dengan tahapan perkembangan yang ingin dikuasai.

Contoh tujuan yang belum benar: “Aku harus kurus” atau “Aku mau sembuh dari diabetes.”

Tahap 2: Start noticing.

Noticing merupakan proses memfokuskan perhatian ke saat ini dan memerhatikan how we do what we do. Tujuannya adalah untuk mengetahui kebutuhan badan kita dengan merasakan setiap bagian tubuh.

Tahapan ini juga membantu kita mengenali apakah otak kita sudah terintegrasi atau belum. Indikasi otak yang tidak terintegrasi misalnya kita merasakan ketidakseimbangan, pusing, atau beban yang berat di salah satu bagian tubuh. Bisa juga berupa perasaan yang tidak nyaman atau yang ditutup selama bertahun-tahun. Setelah mengetahui apa yang tidak membuat kita merasa tidak nyaman, barulah kita melakukan gerakan brain gym yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai atau ketidaknyamanan yang ingin dientaskan.

Setelah tahapan awal tadi, kita mulai memasuki gerakan brain gym yang dimulai dengan aktivitas sederhana berikut (Note: Gerakan diperagakan oleh ‘model’ yaitu anak sendiri, hihi):

I. Meminum air putih (atau ASI untuk anak di bawah 2 tahun).

Gunanya adalah untuk mengaktifkan gelombang elektromagnetik di otak sehingga dapat menyimpan dan menggunakan kembali informasi secara efisien.

 

Sakelar otak

II. Gerakan Sakelar Otak

Pijat jaringan lunak di bawah tulang selangka di kiri dan kanan tulang dada dengan satu tangan, sementara tangan yang lain memegang pusar. Setelah beberapa saat, tukar posisi tangan. Gerakan ini bermanfaat untuk membangkitkan fokus.

 

Wah, untuk gerakan silang ini, modelnya belum bisa tahan terlalu lama! :D

III. Gerakan silang (cross crawl)

Seperti kita ketahui, belahan otak kanan mengontrol tubuh sebelah kiri dan sebaliknya. Gerakan silang bermanfaat membangkitkan otak kanan dan kiri untuk berkoordinasi.

Air dan sakelar otak membantu kesiapan tubuh dan otak sebelum melakukan gerakan silang ini. Cara gerakan silang adalah dengan menyentuhkan siku ke lutut yang berlawanan (siku kanan ke lutut kiri, dan sebaliknya) secara bergantian.

Perhatikan gerakan anak ke tiga dari kiri – gambar dari sini

IV. Gerakan Kait Relaks

Kait relaks berguna untuk menyelaraskan elektromagnet di otak sehingga memberi manfaat ketenangan atau memunculkan aura positif.

Cara melakukannya adalah dengan menaruh kaki kiri di atas kaki kanan, tangan kiri disilangkan di atas tangan kanan dengan ibu jari menghadap ke bawah. Putar dan tarik tangan yang menyilang ke depan dada. Bernapaslah dengan lidah menempel ke langit-langit mulut saat menarik napas, dan lepaskan saat menghembuskan napas.

Kait relaks pertama

Selanjutnya, kembali ke posisi berdiri, dan pertemukan ujung-ujung jari tangan kanan dan kiri, lalu letakkan di depan dada sambil bernapas dalam.

 

Kait relaks kedua

Setelah itu, barulah kita masuk ke salah satu atau beberapa gerakan dari 26 gerakan dasar brain gym sesuai dengan tujuan atau fokus yang ingin dicapai.

Beberapa hal yang dapat saya ketahui dari workshop tersebut yaitu:

  • Meskipun saraf otak dan kondisi motorik anak masih berkembang, brain gym tetap diperlukan karena metode brain gym dapat membantu orangtua maupun pengajar menemukenali bagian otak mana yang belum terintegrasi. Sehingga stimulasi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Jika fungsi otak kiri dan kanan telah terintegrasi, anak-anak, maupun kita, akan terbantu dalam memecahkan masalah dan mengontrol emosi.
  • Kita bisa menetapkan beberapa tujuan atau goal, namun dengan waktu berkala target 1 minggu untuk 1 target atau tema tertentu.
  • Kesimpulannya, pelatihan brain gym sangat berguna jika diikuti oleh orangtua. Karena selain dapat membantu orangtua menstimulasi otak anak sesuai kebutuhan perkembangannya, juga bermanfaat dalam kehidupan orangtua, seperti mengurangi stres, membuat diri lebih rileks, maupun mengaktifkan seluruh potensi yang dimiliki untuk mencapai target personal.

Jadi, Mommies, tertarik mempelajari brain gym juga? Seperti saya :D

 

Referensi:

 


Post Comment