Balada Balok Spons

Saya dan suami adalah anak pertama dari dua keluarga kecil, masing-masing dengan dua anak. Adik-adik masih belum menikah, apalagi punya anak. Maka, ketika Nara lahir, otomatis dia jadi cucu semata wayang alias cucu tunggal.

Bright side dari punya anak jadi cucu tunggal adalah kakek neneknya akan dengan senang hati membantu memenuhi hampir segala keperluan cucunya. Mulai dari baby sitting, menemani ke dokter, main atau jalan-jalan, sampai bela-beli, baju dan mainan.

Sebenernya yang terakhir itu gak bright bright juga, sih.

Dan di umurnya yang belum genap 2 tahun, timbunan mainan Nara sudah cukup rusuh. Pesawat terbang yang bisa jalan sendiri, truk besar plus mobil-mobil kecil, mainan berisik nguing-nguing, dll. Kebanyakan sih, menurut saya, mainan ‘anak gedhe’.

Bukannya gak bersyukur, tapi persoalan bela-beli mainan ini sering banget melintasi klausul ‘tanpa memanjakan’ yang jadi komitmen awal ketika kami akan punya anak.

I’m sure we are not alone here. Pasti ada eyang-eyang atau ayah-ibu yang saking sayangnya sama si anak kecil ini sampai tanpa sadar malah memanjakan.

Kayaknya tipis banget batesnya, ya. Padahal ya enggak juga.

Saya dan suami pernah mengalami kebingungan ini. Saat Nara berumur 15 bulan, dia mulai terlihat suka menyusun benda. Mungkin ini saat yang tepat untuk mengenalkan balok mainan. Mendukung dia belajar kan, ya? Tapi mungkin bukan yang kayu, karena dia masih suka lempar-lempar barang. Kebayang hebohnya kalau ada balok kayu nancep di layar tv. Lagian, selama ini kami jarang membelikan dia mainan. Bolehlah dibeliin yang ini.

Di sinilah balada balok spons dimulai.

Akhirnya, kami membeli balok spons untuk Nara. Ada tulisannya sih, bukan untuk anak di bawah 3 tahun. But what do they know, my son is a genius!

Anyway, akhirnya balok spons ini sukses dipakai main bikin rumah dan menara. Seneng, dong. Meskipun anaknya banyakan nonton eyangnya main. Dan balok kayu ini juga sukses dibuangin ke luar jendela setiap hari. Sukses juga digigitin. Dan sukses  juga nambahin kerjaan semua orang karena Nara belum bisa ngeberesin sendiri si balok-balok yang berceceran di seluruh rumah. Terakhir kami hitung, seperempat baloknya sudah hilang entah ke mana.

Setelah berdiskusi dengan suami, menimbang manfaat dan nasib balok spons yang malang tadi, kami putuskan untuk mengandangkan si balok-balok spons.Mungkin nanti kalau dia sudah 3 tahun dan sudah benar paham cara memainkannya, balok spons tadi akan keluar dari kandangnya.

Lalu, apakah persoalan pemberian balok spons ini termasuk memanjakan?

Rupanya, menurut 24hourparenting.com, ya. Memberikan sesuatu yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya termasuk memanjakan.

Salah satu rule of thumb membedakan antara kebutuhan dengan memanjakan adalah sebelum melakukan sesuatu yang kita klaim untuk anak.

Sekarang, kami selalu memastikan bahwa ini memang untuk memenuhi kebutuhan anak, bukan kebutuhan kami.

Misalnya, nggak bisa nemenin dia ke kebun binatang, lantas membelikan dia sekarung mainan binatang sebagai kompensasi rasa bersalah. Atau memberikan dia sepeda roda tiga keren seperti milik anak tetangga biar dianggap keren juga. Padahal anaknya ga tau juga yang keren kayak gimana, apalagi bisa naik sepeda. Atau, dalam kasus saya dan suami, kompensasi karena kami jarang membelikan dia mainan.

Bila timbul hasrat misalnya, membelikan sesuatu, saya dan suami akan sit back dan memikirkan, mengapa kami membelinya. Untuk dia, atau untuk kami? Apakah dia memerlukan benda ini? Sudah sesuai dengan usianya? Akan mendukung proses belajarnya? Dan yang kita sering lupa, sudahkah dia mampu menggunakan dan merawat yang kita berikan ini?

Si balok spons tadi, meskipun kami beli dengan sepenuhnya niat baik, rupanya bukan pilihan terbaik.

Thanks to us, si balok spons sudah kehilangan seperempat anggota keluarganya.

By no means, kami bukannya gak bersyukur dengan segala fasilitas yang tersedia buat anak. ‘Kehangatan’ dengan eyang-eyang soal pilihan oleh-oleh mainan selalu ada. Namun, kami juga sadar, seperti halnya soal balok spons tadi, bahwa jadi orangtua itu bukan sekedar memberikan fasilitas untuk anak. Ini juga soal memastikan fasilitas itu bermanfaat tepat bagi dirinya.

Dan, sampai waktunya nanti, biar deh sisa keluarga balok spons, pesawat, truk, dan apalah mainan nguing-nguing itu tetap setia menunggu Nara di dalam lemari.

Wicahyaning Putri adalah editor di 24hourparenting.com. 24hourparenting.com adalah adalah situs parenting yang memuat how-to-parenting, singkat dan to the point, juga membahas tentang menjadi orangtua, dan ide kegiatan ortu-anak. Dilengkapi visual yang semoga asik. Diasuh oleh psikolog dan orangtua.


One Comment - Write a Comment

Post Comment