Motherhood Monday: Tatyana Soebianto, A Happy Single Mommy

Waiting is painful. Forgetting is painful. But not knowing which to do is the worse kind of suffering. -Paulo Coelho-

Tiba-tiba saja suaminya pergi begitu saja. Tanpa kabar, tanpa pesan. Yang tersisa hanya kenangan dan janin berusia 3 bulan. Tatyana Soebianto harus menerima kenyataan suaminya menghilang, raib tanpa jejak seperti ditelan bumi. Sejak itu hidupnya tak lagi sama.

“Hidup… buat saya… adalah warna warni yang tidak pernah sama dari hari ke hari. Tidak pernah bisa diduga-duga. Apa yang disangka pink manis ternyata kok merah perih, dikira ungu sengilu memar tulang kering malah secerah biru langit tak bermega. Saya rengkuh warna warni itu, seperti menikmati pelangi sesudah hujan,” begitu tulisnya di buku ‘Growing Pains- Dongeng Happy Single Mommy’ yang belum lama ini diluncurkan.

Tak mau larut dalam kesedihan, ibu dari Adi Nugraha ini pun memilih untuk move on. Membesarkan anaknya seorang diri dan membuktikan kalau menjadi orangtua tunggal bisa tetap happy.

Pertemuan saya dengan perempuan yang biasa dipanggil Mbak Nana ini terbilang cepat. Waktu itu saya datang ke peluncuran bukunya di toko buku Kinokuniya, Plaza Senayan. Nggak perlu waktu yang lama untuk saya tau kalau dirinya adalah perempuan yang tangguh. Perempuan yang mampu memerankan berbagai profesi. Ibu, ayah, sahabat, bahkan sesekali jadi tukang. Sekedar untuk membetulkan kran atau genteng yang bocor. Serba bisalah!

Saya beruntung lewat pertemuan yang cukup singkat tersebut, saya dikasih “bonus” untuk bisa memetik pelajaran kehidupan. Mudah-mudahan, setelah Mommies selesai membaca tulisan ini juga bisa “menangkap” hal yang serupa dengan saya.

 

*Saya bersama Mbak Nana

Mampu besarkan Adi hingga dewasa, tentu nggak akan terlepas dari dukungan keluarga besar. Tapi sampai sekarang masih banyak masyarakat yang memandang remeh single mom. Bagaimana cara Mbak menghadapi pandangan atau kasak-kasuk orang lain?

Wah, itu sampai sekarang sih bisa dibilang jadi bahan sinetron yang nggak akan ada habis-habisnya. Di sini semua diksi keluar, nih. Bisik-bisik, gosip, gunjingan, semuanya ada! Kumplit. Awalnya memang sangat berat banget, tapi lama-lama, ya, jadi belajar untuk menerimanya. It’s take time. Itu semua memang nggak bisa dihindari kerena memang saya hidup di lingkungan masyarakat, ada banyak orang yang tentunya sifatnya bermacam-macam. Dan pandangan seperti memang itu pasti ada. Tapi seperti yang saya tulis dalam buku, saya sudah sampai di sini. Kalau hitungannya seorang diri, entah apa namanya ini. Mungkin pencapaian. Tidak senantiasa mulus kinclong, betul. Hidup ini toh bukan fairy tale. Did I survive? I carry on..I grow…

Apa sih yang membuat Mbak happy jadi single mom? Bahkan sampai berani meluncurkan buku ini?

Happy-nya ini memang mau nggak mau harus terkait dengan anak sih, ya. Misalnya saya nggak perlu lagi diskusi saat mau mengambil suatu keputusan untuk menentukan nasib Adi. Ya, istilahnya saya jadi diktator satu-satunya. Lah, saya juga kan yang cari duit, hahahaha. Sejak awal saya sudah sangat sadar dan bersedia akan menjalani kehidupan ini hanya dengan anak saja, Adi. Saya pun sudah memposisikan diri untuk tidak pernah mau membanding-bandingkan diri saya dengan keadaan orang lain di luar sana. Apakah keadaan saya lebih baik atau justru keadaan orang lain yang jauh lebih baik dari saya. Jadi, saya pun bisa menentukan sendiri apa yang ingin saya rasakan dan capai.

Kalau saya happy, itu bukan karena kelebihan atau keberhasilan saya dibandingkan orang lain, tetapi berkat pencapaian saya sendiri. Saya percaya bahwa saya happy karena saya sudah sampai di sini. Anak saya sudah besar, at least saya sudah diberikan kesempatan untuk melihat dia sudah mandiri. Mungkin beberapa belas tahun yang lalu, ini baru jadi mimpi dan bertanya-tanya, ‘gue bisa sampai lihat anak tumbuh jadi remaja nggak, ya?’ Saya nggak pernah tau jalan ceritanya seperti apa. Dan ternyata saya bisa melihatnya tumbuh besar, dan ini yang paling membahagiakan, anak saya tumbuh besar cuma hanya karena saya.

Pesan apa yang ingin Mbak sampaikan lewat buku ini?

Pesannya sebetulnya ditujukan bagi para single-moms secara khusus, terutama mereka yang mungkin belum atau tidak kunjung dapat melepaskan diri dari kesedihan perpisahan yang disebabkan karena berbagai sebab dan merasakan beratnya hidup yang harus ditanggung seorang diri. Betul bahwa menjadi orangtua tunggal tidak pernah menjadi pilihan yang ringan, atau bahkan ketika kondisi itu disebabkan oleh kematian pasangan. Tapi kesedihan yang dibiarkan berlarut akan sangat berdampak pada kesejahteraan jiwa dan batin anak-anak. Growing Pains bermaksud untuk membagi pengalaman hidup yang justru terasa lebih berwarna bila segala sedih, perih, derita itu direngkuh, bukan diingkari. Dan di lain sisi meneguhkan niat untuk mencapai kebahagiaan yang menjadi hak setiap manusia. Ada anak-anak yang harus dibesarkan, dijamin kesejahteraan perkembangan fisik dan batinnya, diajari bahwa status ibunya dan status mereka sendiri sebagai anak seorang single-mom bukan berarti mereka harus berbeda dari teman-teman mereka.

Setelah melewati banyaknya pergulatan, butuh waktu berapa lama untuk Mbak bisa merasa jadi happy lagi?

Wah, kalau ditanya butuh waktu berapa lama, pasti lama sekali, ya… karena sebenarnya sampai sekarang ini saya masih menemukan banyak pergulatan. Sampai sekarang saya masih selalu ngomel kalau harus menemui proses admistrasi yang memerlukan kelengkapan dokumen. Buat saya kadang-kadang merasa terganggu, ketika ada pertanyaan, “Oh, ibu sudah bercerai?” Rasanya tuh mau jawab, “So what gitu, lho?” Maunya, sih, jawabnya seperti itu ya. Tapi kalau budaya di kita memang seakan-akan perempuan itu harus ada yang “nanggung”. Mau jual rumah, nanti siapa yang mau nanggung kalau rumahnya nggak benar? Suaminya mana? Sebenarnya sih nggak terlalu sulit juga untuk mengumpulkan dokumen, tapi yang bikin saya sebal, kenapa sih saya ini harus dibedakan dengan orang lain? Itu masih saya rasakan sampai sekarang. Tapi saya yakin pergulatan kaya gini akan terus ada.

 


Jika suatu saat nanti bertemu lagi dengan ayahnya Adi, apa yang ingin Mbak katakan?

Sebenarnya kami pernah bertemu saat Adi masih SMP. Dari sisi saya, saya hanya ingin menggenapkan saja karena banyak sekali pertanyaan yang muncul, apakan ayahnya Adi ini masih hidup, ada di mana? Apakah sudah meninggal? Saya ingin anak saya juga bisa melihat wujud ayahnya, dan tau kalau saya memang tidak bohong. Kalau ditanya perasaan, tentu antara sedih dan senang. Sedih, kenapa keadaannya juga sudah berubah. Tidak seperti saat pertama kali kami memutuskan untuk menikah dan ingin membangun mimpi bersama-sama. Tapi saya juga sangat senang kerena anak saya bisa bertemu dengan ayahnya. Biar bagaimana pun juga, dengan rumus apapun saya sebagai ibunya tidak boleh memutuskan hubungan antara anak dan ayah.

Bawaannya dari dulu, saya selalu harus bisa menjaga perasaan anak. Dan saya punya komitmen dengan diri sendiri kalau saya tidak mau menularkan sikap yang tidak baik atau pandangan buruk Adi terhadap ayahnya. Apalagi saat Adi masih kecil, yang namanya anak-anak pasti perlu untuk di guide.

Pada kenyataannya, sulit nggak Mbak untuk dijalankan?

Saya ingat dulu, saat Adi masih SD saya bercita-cita, kelak, kalau Adi sudah besar, sudah mandiri, dan mampu bersikap dan menentukan apa yang ia inginkan saya hanya ingin Adi memandang relasinya dengan sosok ayahnya ini secara pribadi. Tanpa saya ikut campur di dalamnya.

Barangkali juga karena Adi memang tidak pernah melihat konflik saya dan ayahnya kan? Jadi rasanya percuma, buat apa juga saya mempengaruhi pikirannya dengan apa yang saya rasakan. Mungkin hal ini memang berbeda dengan teman-teman yang harus lebih dulu melewati proses perpisahan, dan harus dilihat anak-anaknya. Sedangkan kalau saya tidak demikian. Adi hanya melihat ayahnya dari cerita dan foto-foto pernikahan atau bahkan saat saya dan ayahnya pacaran. Foto-foto itu semuanya menggambarkan sesuatu yang happy, dan dari sana bisa saja Adi berpikiran, ‘wah sebenarnya ayah saya ini, ok, kok.’

Makanya saya tidak mau mempengaruhi perasaannya. Karena one day, anak saya boleh menganggap laki-laki yang melahirkan ke dunia ini sebagai ayahnya atau sebagai siapa pun yang ia mau. Terserah saja, saya tidak ingin campur tangan.

Jadi untuk bisa masuk ke tahap di mana saya bilang kalau saya happy jadi single mom mungkin karena sudah lewat masa-masa seperti itu. Dulu mungkin untuk melewatinya barangkali banyak kejadian yang harus saya repressed, repressed dan repressed terus. Bagaimana kita bisa melewati hari-hari ini, saya sendiri nggak tau proses repressed yang terlalu sering seperti itu baik atau nggak. Bagaimana bisa saya melewati seminggu ke depan, bulan ke bulan, itu saya jalankan dengan proses repressed terus menerus. Dan itu terus saya lakukan secara konstan.

Setelah melewati proses yang begitu panjang, ada perubahan akan pola pikir konsep berumah tangga?

Kalau saya ukuran before after marriage ini memang sangat beda ukurannya. Before saya itu kan masa-masanya saya happy karena bisa merasakan jadi pengantin baru, dua puluh tahun kemudian happy yang saya rasakan itu sudah melewati proses yang “berdarah-darah” makan asam garam. Barangkali lebih ke kualitasnya, ya. Kalau berubah saya nggak ngerti. Sekarang saya jauh lebih pandai menghargai. Istilahnya, kita justru akan bisa lebih happy ketika sudah melewati perasaan sedih.

Sekarang Mbak kan masih sibuk kerja, pasti masih sering berhubugan dengan pria-pria ganteng, dong, ya? Apa Mbak nggak tertarik untuk menjalin hubungan serius lagi?

Jujur, saya sekarang malah tidak melarang diri ini untuk ber-social-dating, artinya selama kencan itu tetap dalam batas-batas yang tidak akan mengganggu niat saya untuk tidak menikah lagi. Lebih sebagai upaya saya untuk tetap menjadi pribadi yang terbuka, cukup bergaul, juga sebagai balancing batiniah. Memang sulit sekali menampik pesona, tapi saya selalu percaya bahwa segala sesuatu pasti sudah diatur oleh Yang Kuasa. Selama saya tidak menumbuh-numbuhkan sendiri perasaan-perasaan yg didasari semata oleh emosi, saya tau saya dapat menjaga niat itu.

Sebenarnya apa yang mendasari Mbak memutuskan untuk tidak menikah? Kembali berumah tangga?

Keputusan untuk tidak berumah tangga lagi? Hehehe… selama ini toh saya sudah menjadi “kepala rumah tangga mini” saya ini kan? saya merasa kehidupan kami berdua berlangsung sama wajarnya — lengkap dengan suka-duka mengatur lancarnya segala hal — dengan rumah tangga lain yang terdiri dari ibu-ayah dan anak-anak. Saya merasa lebih ‘powerful’ sebagai perempuan karena saya boleh dibilang sanggup dan mampu menjalankan biduk kecil ini hanya berdua dengan anak saya. Adi juga sudah besar, sudah dewasa, tahun ini umurnya 21, dan ia mengerti tentang perannya dalam rumah tangga ini. Masing-masing dari kami masih selalu harus belajar tentang tanggung jawab, karena yang namanya “proses” dalam kehidupan pasti tidak akan pernah berhenti. Saya percaya anak saya pasti belajar banyak sekali, yang hasilnya insyaallah akan bermanfaat bagi dirinya dan keluarganya sendiri kelak bila sampai waktunya dia harus memulai rumah tangganya sendiri.

Makasih banyak, ya, Mbak Nana. Sukses terus untuk semua-semuanya. Senang bisa kenal dengan sosok perempuan kuat seperti Mbak.

Hahaha… “kuat” itu relatif… yang penting yakin akan kemampuan diri sendiri. Sama-sama, ya, Adis… kalau memang ada yang kurang just inform me later. Salam buat keluarga dan pembaca Mommies Daily, ya…

—-

See? Benarkan apa yang saya bilang di atas? Pertemuan singkat saya dengan Mbak Nana memang memberikan kesan mendalam. Saya benar-benar salut dengan keteguhan hati dan keberanian Mbak Nana yang memutuskan untuk menjadi single mom.


2 Comments - Write a Comment

Post Comment