Single & Working Mom: Perjalanan Dinas, Anak Dititipkan Siapa?

Kalau ini majalah, mungkin bisa dibilang ini edisi perdana kolom “Single & Working Mom”, dan saya sudah berjanji kepada Lita sang Managing Editor akan menulis setidaknya satu artikel setiap bulannya. Tapi, kita lihat saja nanti realisasinya :p Karena tidak mudah sudah jadi ibu, sendiri pula. Jadi tidak heran kalau waktu jadi barang langka.

Selama beberapa tahun ini menjadi single mom yang bekerja, pernah sekali saya dihadapkan pada satu kejadian yang membuat saya lumayan pusing. Waktu itu, saya masih bekerja di Fashionese Daily dan secara mendadak kami mendapat undangan untuk pergi menghadiri undangan di Bangkok selama sekitar 3 hari. Kalau dulu sewaktu sebelum bercerai, sih, gampang: saya tinggal telepon suami dan berembuk apakah memungkinkan untuk meninggalkan Raysa selama 3 hari. Tapi, setelah bercerai, kalau harus dinas ke luar kota, Raysa saya titipkan kepada siapa dong?

Ada beberapa opsi yang biasanya bisa dipilih oleh single mom:

1. Menitipkan anak pada mantan suami

Memang sih sekarang sudah bercerai dan statusnya sudah “mantan” tapi kan tidak pernah ada status “mantan” ayah? Oleh karena itu, sudah benar adanya kalau pilihan pertama jika memungkinkan adalah menitipkannya kepada ayahnya.

Tapi umumnya pasangan bercerai tidak akur dan ada beberapa kendala yang tidak memungkinkan hal ini terjadi.

Kalau dalam kasus saya pada saat itu adalah karena rumah saya dan mantan suami jauh, sedangkan sekolah Raysa dekat dengan rumah saya, rasanya akan sangat sulit menitipkannya Raysa pada ayahnya.

2. Menitipkan pada nenek dan kakek

Kalau masih tinggal dengan orangtua, beruntung sekali karena tidak usah repot memikirkan anak harus dititipkan siapa. Hanya tinggal memberi tahu mereka dan mengecek jadwal apakah memungkinkan.

Akan tetapi kalau tidak tinggal serumah, opsi yang tersedia adalah nenek dan kakek boyongan sementara ke rumah kita atau anak diboyong ke rumah mereka. Kalau anak diboyong ke rumah nenek dan kakeknya keribetan opsi 1 pun terjadi, harus menimbang masalah jarak juga.

Lagi-lagi, pada saat saya harus ke Bangkok, pilihan ini tidak tersedia karena orangtua saya sedang berada di Malang.

3. Menitipkan anak pada saudara

Saudara di sini bisa adik atau kakak langsung, ataupun om dan tante. Hal tersebut juga sering dilakukan Mama saya ketika saya kecil. Kalau mama harus pergi bersama dengan papa saya, maka akan ada tante saya yang datang ke rumah menemani saya selama mereka pergi.

Tapi bisa juga anak yang dititipkan pada sanak saudara. Kalau punya saudara kandung, mungkin tidak sungkan, ya. Tapi akan lebih repot adanya kalau dititipkannya harus ke tante atau om. Asal kita sudah mempersiapkan semuanya, mudah-mudahan tidak terlalu repot menitipkan anak.

Tapi, lagi-lagi pilihan ini tidak tersedia untuk saya. Sebagai anak tunggal saya tidak punya saudara kandung. Saudara dari orangtua saya hanya ada satu tante yang tinggal di dekat rumah, dan Raysa tidak mau menginap di rumah tante saya.

Jadi bagaimana, ya? Nah, akhirnya pilihan saya jatuh pada nomor 4.

4. Menitipkan anak pada teman

Sebagai anak tunggal, saya terbiasa bergantung kepada teman-teman saya sebagai safety net saya. Karena selain mereka tidak ada lagi tempat saya berkeluh kesah. Tapi saya yakin kok, Mommies juga pasti punya teman yang akhirnya dekat seperti saudara.

*Raysa dan Om Sandi, sahabat saya

*Nadia, sahabat saya sekaligus Raysa

Nah, saya punya seorang sahabat yang sejak Raysa kecil sudah akrab dengannya. Sosok sahabat saya tidak asing lagi untuk Raysa. Ketika saya tanyakan pada sahabat saya ia bersedia atau tidak saya titipkan anak saya dan merespon positif, langkah selanjutnya adalah menanyakan hal tersebut pada Raysa. Untungnya Raysa tidak keberatan, karena buatnya sosok sahabat saya ini sudah tidak asing untuknya dan dia sudah nyaman bersamanya.

Sahabat saya ini masih belum menikah pada saat itu, jadi memungkinkan untuk ia menginap di rumah saya selama saya pergi.

Tapi jika kejadiannya dia sudah berkeluarga, saya yakin dia tidak keberatan untuk saya titipkan Raysa di rumahnya. Malah akan lebih mudah jika teman kita sudah punya anak sendiri, sehingga lebih mengerti kebutuhan anak. So don’t take your friends for granted. Sebagai single mom, saya malah merasa teman adalah safety net kehidupan saya di saat-saat sulit.

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment