Kita, Setelah Ada Anak

Tahun ini saya dan suami saya memasuki tahun ke 10 menikah. Walau masih Agustus nanti, tapi boleh lah memanfaatkan momen Februari ini untuk merefleksikan cinta-cintaan. Ihiy.

Terutama pas memasuki tahun ke 10 ini, keluarga kami membesar. Pas tahun ke 5, ada 1 anak. Tahun ke 10, ada 2 anak. Apakah kondisi berubah? Iyalah. Apakah berpengaruh pada hubungan kami sebagai pasangan? Lumayan :))

Beberapa poin dari postingan berjudul “KITA” di 24hourparenting.com ini menarik dan saya jadi cerita beberapa pengalaman yang nyambung dengan poin-poin itu.

  • Menikah adalah 1 hal. Menikah lalu punya anak adalah hal lain lagi.

Ini saya ngerasain banget bedanya. Karena kami menunda 4 tahun baru punya anak. Suami pas sekolah ambil S2 waktu itu, secara kondisi dan keuangan kami merasa belum siap punya anak. Setelah selesai sekolah dan 4 tahun berduaan aja, memang beda banget setelah ada anak. Banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Positifnya kami ngerasa siap, karena di 4 tahun pertama itu kami mengenal satu sama lain sebagai pasangan suami-istri (beda kan dengan pas pacaran). Mempelajari keterbatasan dan kelebihan masing-masing. Terutama dalam pembagian tugas dan menghadapi satu sama lain.

  • Memprioritaskan kebutuhan hubungan sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan anak.

Aduh ini iya banget, dan praktiknya perlu usaha ternyata lho. Waktu Hanami (anak pertama) sudah selesai menyusu sekitar usia 3 tahun, kami lumayan lihai menjadwalkan waktu bersama. Bisa pergi nonton atau sekedar makan berdua di luar rumah, Hanami dititip sama nanny-nya. Sekarang ada Ainikko (anak ke dua), usia 15 bulan dan masih menyusu. Jadi lah waktu berdua itu artinya ngemil berdua di depan TV di malam hari setelah anak-anak tidur (yang mana seringnya saya ngantuk banget karena sudah seharian beraktivitas), tapi bela-belain supaya bisa ngobrol. Atau suami bela-belain dateng siang ke kantor, jadi bisa berdua sarapan setelah nganter anak pertama ke sekolah. Selain itu colongan-colongan kecil kalau ada undangan kawinan atau acara singkat lainnya. Tapi ya itu, mesti diakalin untuk nyari waktunya.

  • Masalah bisa muncul bila: ada perbedaan pola pengasuhan, kebutuhan seks yang tidak terpenuhi, campur tangan kakek-nenek, kebutuhan finansial yang meningkat.

Buat kami, terutama poin yang terakhir. Ini agak tricky ya. Pas memutuskan mau punya anak ke 2 yang memang diplanning, kami sudah memikirkan tanggung jawab finansial ini dan menyatakan yuk mari udah siap. Dalam prosesnya tentunya nggak selalu mulus. Saya tetap berhati-hati dan lihat-lihat sikon kalau bahas ini dengan suami dan berusaha nggak nge-gas :p saat kami berbeda pendapat soal pengaturan finansial. Yang paling susah adalah, menghindari untuk ngebahas ini pas kita lagi berduaan aja. Haha. Udah diniatin ntar pas sarapan berduaan nggak mau bahas ini ah. Dan tetap lah terjadi. Kadang damai sejahtera. Kadang salah satu cemberut. :p

  • Banyak masalah bisa diselesaikan sebelum membesar, bila pasangan memahami kebutuhan masing-masing, memprioritaskan hubungan dan mendedikasikan waktu untuk berkomunikasi.

Pas awal menikah, kalau saya bilang ke suami: ada yang pengen diomongin deh. Langsung suasana membeku. :p Tapi, seiring berjalan waktu, justru makin diberani-beraniin dan santai aja untuk ngomong gini. Toh untuk pembuktian kesepakatan awal: jangan ada yang merasa tertekan dalam hubungan ini. Kompromi dan memaklumi itu memang nggak bisa dihindari sih, tapi saya nggak mau kalau memendam perasaan. Efeknya bisa ke anak juga tanpa disadari. Apalagi kalau belajar dari ortu saya, yang kalau boleh digeneralisasi, tipe ortu jaman dulu. Kadang-kadang suka nyeletuk: sebenernya ibu nggak nyaman bapakmu begitu, tapi ibu tahan aja walau perasaan nggak enak. Saya jadi mikirnya, selama masih bisa mengusahakan untuk komunikasi, saya beranikan diri untuk bahas apa aja sama suami.

  • Perlu meyakini bahwa hubungan suami-istri yang kuat adalah modal untuk perkembangan optimal anak.

Suatu saat, suami saya pernah ngomong gini: kalau anak ngeliat ortunya sayang-sayangan di depan mereka, sesungguhnya anak juga ngerasa disayang. Dan sebaliknya, kalau ortu saling menyakiti di depan mereka, anak ngerasa ortu nggak sayang sama anak. Semoga aja anak-anak ngerasa disayang ya.

Masih banyak poin menarik di postingan berjudul “KITA” (http://bit.ly/kekitaan)  di 24hourparenting.com. Antara lain, tentang bagaimana berkonflik dengan baik dengan pasangan dan seputar waktu untuk anak vs waktu untuk pasangan. Yang berminat silakan cek langsung ke sana.

Kalau Mommies gimana hubungan dengan suami, punya kesepakatan apa aja untuk merawat hubungan ini?

Yulia Indriati adalah content manager di 24hourparenting.com. 24hourparenting.com adalah adalah situs parenting yang memuat how-to-parenting, singkat dan to the point, juga membahas tentang menjadi orangtua, dan ide kegiatan ortu-anak. Dilengkapi visual yang semoga asik. Diasuh oleh psikolog dan orangtua.

 


One Comment - Write a Comment

  1. hehehe ini aku banget deh mbak “Pas awal menikah, kalau saya bilang ke suami: ada yang pengen diomongin deh. Langsung suasana membeku. :p” tapi lama2 si mas suami udah lebih santai kalo nerima komplain dari istrinya yang emang bawel dan keras kepala

Post Comment