My Running buddy

Banyak cara yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri untuk menghabiskan waktu bersama, berduaan tanpa kehadiran anak. Hal tersebut, menurut saya penting untuk menjaga kualitas hubungan dengan pasangan. Karena, kalau hubungan kita dengan suami itu mesra, kompak dan bahagia, efeknya akan positif dalam bekerja sama mengasuh anak. Ceile, sudah seperti ahli saja, ya? :D.

Selain makan di luar rumah atau nonton bareng suami, hal yang sekarang sering kami lakukan, adalah olahraga lari. Kami biasanya menyebutnya dengan istilah PacaRun :). Nah, yang ini sebenarnya suatu hal yang awalnya menurut saya mustahil dilakukan. Saya memang dasarnya suka dengan olahraga, tapi seperti yang sering dialami orang lain, musuhnya adalah rasa malas. Baru 2 tahun terakhir, saya mulai ikut gym biarpun putus-sambung, atau olahraga sendiri di rumah. Melihat tren olahraga lari saat ini, saya pun mulai ikutan dan sudah menjalani selama kurang lebih setahun belakangan.

Sedangkan suami saya, adalah orang yang jarang sekali berolahraga. Dia mengakui sendiri, kalau dari sejak masa sekolah, bukan cowok yang rajin olahraga, boro-boro deh jadi anak basket :D. Badannya bisa dibilang kaku, tidak terlalu fleksibel, dan olahraga lari termasuk yang dihindari karena tiap lari, kakinya terasa sakit. Begitulah, jawaban yang dia berikan, setiap saya mengajak suami untuk berolahraga.

Suami mulai ikutan lari, setelah melihat saya rajin lari dan mengantar saya ke beberapa event lari. Mungkin, dia bosan juga hanya jadi supir dan menunggu lama di tiap event lari, hihihi. Yang awalnya, ikut lari karena iseng dan lari dengan sepatu seadanya, bahkan pernah lari tanpa sepatu, suami mulai membeli sepatu dan kaos khusus untuk lari.

Setelah beberapa kali lari, semua rasa sakit yang dirasakan, sedikit demi sedikit menghilang. Bahkan, sekarang suami tidak lagi merasakan keluhan sakit di tulang kering yang dulu selalu dirasakan tiap lari. Sama seperti saya dan orang lain yang memulai lari, yang tadinya hanya bisa berlari sebentar, dan lebih banyak jalan kakinya, lama-lama bisa lari nonstop tanpa jalan kaki.

Saat ini, suami cukup rajin berlari. Saya senang sekali dengan hobi barunya, karena efeknya positif sekali. Suami jadi lebih sehat, lebih langsing, dan stamina juga lebih baik dibanding dulu. Rasanya senang sekali, mendapat teman lari, alias running buddy. Kalau di rumah, kami lari bareng di komplek sebelum berangkat kerja, cukup 30 menit saja, biasanya 2-3 hari sekali. Seminggu sekali, kami lari bareng di GBK sehabis jam kerja. Saat weekend, kalau memang tidak malas, kami lari di jalan Sudirman – Thamrin saat CFD diadakan. Kalau tidak, kami lari di BKT (Kanal Banjir Timur) atau di komplek sambil menemani Laras main sepeda dan belanja sayur/buah di pasar kaget.

Sekarang, setiap ada event, suami jadi teman lari setia, selain Nenglita tentunya, yang sudah duluan jadi running buddy saya :D. Rasanya lebih semangat, setelah suami ikutan berlari, bahan obrolan juga jadi bertambah. Aura dan semangat sudah terasa beberapa hari sebelum event dan kami akan mempersiapkannya bersama, mulai dari latihan sampai menyiapkan perintilan race-nya. Obrolan juga akan terus ada sampai beberapa hari setelahnya, terutama kalau event-nya berkesan.

Kami sendiri baru 3x mengikuti event lari yang sama, dan ada kejadian yang menurut saya romantis. Karena sekarang pace lari suami lebih cepat dibanding saya, saat dia duluan sampai di garis finish, dia akan menunggu saya dan memberikan semangat, biar tetap kuat berlari sampai finish. Di event yang lain, dia bersedia menahan pace larinya, supaya tetap lari bareng saya. Sebenarnya itu juga setelah saya ancam, sih hahaha, tapi cukup membuktikan kalau dia mau menghilangkan egonya dan bener-bener cinta sama saya, kan? :p

Kiri atas : Event lari perdana buat suami, Samsung Series #1, Kiri bawah : Nike We Run #bajakjkt, Kanan : RunforCervix

Sisi positifnya lagi, kalau saya ingin membeli printilan lari, proposal belanja jadi lebih gampang disetujui, tanpa harus merayu panjang lebar. Buat saya dan mungkin Mommies, hal ini pasti bikin happy banget :)

Oiya, Laras juga sudah mulai ikut-ikutan lari, biarpun baru jarak berapa meter akan bilang capek, tapi semangatnya patut diacungi jempol. Berlari juga jadi masuk ke agenda yang selalu diselipkan kalau kami mudik atau liburan. Sepatu dan baju lari, pasti masuk ke tas kami, setiap packing. Senang rasanya lari bertiga atau pacaRun di tempat dan suasana yang baru.

Semoga saja kebiasaan ini akan terus berlanjut, dan mungkin kami akan mencoba olahraga lain yang bisa dilakukan bersama. Biar kami selalu sehat dan makin mesra.

Mungkin Mommies ada yang punya pengalaman yang sama, cerita-cerita dong :)

 


4 Comments - Write a Comment

Post Comment