Susu Balita, Tantangan Baru Di Era Menyusui

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) pada tahun 2007 yang saya kutip dari artikel ini, jumlah ibu menyusui di Indonesia hanya berkisar pada angka 30%. Tapi, di tahun 2013 ada peningkatan jumlah ibu menyusui menjadi sekitar 42%, lho!

Bangga?

Hasil baca-baca saya sana sini, target ibu menyusui secara eksklusif adalah 70%. Masih jauh, ya? Tapi nggak apa-apa, tugas kita bersama mengampanyekan dan membagi informasi mengenai ASI, nih, Mommies! Walaupun kita bukan konselor, tapi berbagi informasi yang membawa kebaikan kenapa nggak?

Secara global, banyak orangtua belakangan ini yang kembali ke parenting tradisional terutama dalam hal pemberian ASI. Di Amerika Serikat, yang saya baca dari sini pemberian ASI sudah mencapai angka 77% di tahun 2010. Untuk wilayah Asia, pemberian ASI di Hongkong mencapai angka 80%. Menggembirakan ya?

Ya, menggembirakan untuk saya pribadi, atau para pejuang ASI di luar sana. Bagaimana dengan produsen? Hasil-hasil survei ini tentunya kurang membahagiakan bagi mereka. Tapi rupanya, selalu ada cara untuk memasarkan nutritious food and drink untuk anak.

Jawabannya adalah: susu balita atau susu pertumbuhan!

Berdasarkan situs ini, memang ada perbedaan penerimaan dalam hal susu untuk bayi dan balita. Saat ini, banyak yang teredukasi dengan baik bahwa ASI adalah yang terbaik. Tapi bagaimana setelah anak disapih?

Orangtua masih banyak yang khawatir kalau-kalau anaknya nggak terpenuhi gizi karena nggak dikasih susu. China, (negara asalnya Amy Chua, sang Tiger Mom :D ) merupakan negara dengan penjualan susu balita terbesar saat ini. Lima tahun belakangan penjualan susu balita melonjak hingga 3 kali lipat! Bagaimana di Indonesia?

Indonesia berada di peringkat ke-3 untuk penjualan susu balita :(

Dengan adanya PP nomor 33/2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif menegaskan tenaga dan fasilitas kesehatan yang memberikan susu formula harus menaati beberapa ketentuan termasuk dilarang melakukan kegiatan promosi.  Semakin berkurang dong, ruang gerak mereka?

Nah, di sini susu balita berbicara. Seperti yang kita semua tau, ya, marketing susu balita ini kan memang luar biasa. Apalagi penggambaran si balita ini amat sangat cerdas bin luar biasa. Produk ini juga canggih-canggih banget klaimnya. Mulai dari membantu meningkatkan IQ, mengoptimalkan tinggi badan anak, melindungi sistem pencernaan, anak bisa pakai baju sendiri, bisa bawa minuman tanpa tumpah, sampai jadi rock star! Wuih..!

Balita tidak perlu susu khusus!

Ya, setelah usia 6 bulan, bayi sudah bisa mulai dikenalkan pada makanan pendamping. Setelah usia 1 tahun, balita sudah bisa mengonsumsi susu lainnya atau tidak sama sekali, selama makanan padat yang dikonsumsi sehat dan memenuhi kebutuhan gizi. Kalau mengenai pemberian ASI, tentu dong, Mommies tau bahwa pemberian ASI hingga anak berusia 2 tahun atau lebih!

Jika mau dibandingkan dengan susu sapi, artikel ini menyebutkan bahwa susu balita mengandung lebih sedikit kalsium dan lebih banyak gula. Belum lagi masalah harga yang,ehm, sudah rahasia umum, sangat luar biasa! Seorang teman sempat mengatakan bahwa ia menghabiskan sekitar 2 juta per bulan hanya untuk membeli susu balita saja. Padahal uang segitu, lumayan banget untuk diinvestasikan sebagai dana pendidikan anak, kan?

Jadi, ya, dengan semakin sempitnya ruang gerak bagi susu formula, susu balita belakangan ini menjadi pasar yang menggiurkan. Bayangan memiliki anak yang otaknya jenius, memiliki daya khayal tinggi, rasa ingin tau, main biola sejak usia 3 tahun, pasti membanggakan. Anak saya nggak pernah kenal susu balita. Saya sering mendapat pertanyaan, “Langit minum susu apa?”. Ya, saya jawab ASI. Kalaupun ia mengenal susu lain selain susu tambahan, bentuknya adalah susu sapi kemasan yang cair. Itupun nggak ada kewajiban untuk Langit minum. Mengenai pertumbuhannya, sejauh ini Alhamdulillah, nggak ada masalah. Sesuai dengan pattern pertumbuhan anak di usianya lah. Kenapa harus khawatir?

Nah, sekarang, apakah Mommies termasuk yang tergoda dengan beragam klaim susu balita tersebut?


2 Comments - Write a Comment

Post Comment