Gagal Menyusui Karena Flat Nipple?

Sejak hamil saya sudah keukeuh akan menyusui anak saya dengan ASI ekslusif, bahkan akan berusaha bisa berlanjut terus sampai dua tahun. Pede saya semakin meningkat sejak saya mulai membekali diri saya dengan ilmu soal ASI sejak kehamilan pertama saya kemarin, dari browsing soal ASI sampai ikut kelas laktasi. Bahkan mengetahui fakta bahwa saya memiliki puting yang termasuk flat nipple cenderung inverted pun tidak membuat saya khawatir sama sekali. Juga ketika menyadari bahwa belum ada setetes pun ASI yang rembes sampai usia kehamilan masuk bulan ke-8, saya tetap yakin saja kalau sudah waktunya akan keluar kok. Padahal teman-teman saya yang hamil banyak yang cerita kalau ASI mereka sudah rembes sejak masuk trimester ketiga kehamilan.

Sembilan bulan berlalu, and how talk is always cheap, dan niat ternyata memang tahap termudah dari sebuah rencana. Diawali dari proses IMD (Inisiasi Menyusu Dini) yang saya dan bayi saya, Julia, lakukan di awal kelahirannya di mana Julia malah memilih bobok dari pada berusaha mencari puting saya, bahkan sampai satu jam berlalu. Padahal sudah saya ajak bicara dan coba kelitiki, tapi dia hanya bergerak sedikit, lalu bobok lagi pulas. Dalam hati saya, ah gapapa deh, yang penting dapat skin to skin-nya…

Namun gagal menyusui di IMD belum membuat saya gentar. Di malam pertama di rumah sakit pun saya masih santai walau ASI saya baru keluar kalau dipencet keras-keras—secuil pula. Julia belum ada tanda-tanda haus dan minta nyusu. Dengan bekal bahwa bayi dapat bertahan tanpa makanan sampai hari ketiga kelahirannya, saya tenang saja walau belum setetes pun ASI masuk ke perutnya.

Until drama started here… Di malam kedua, Julia bangun dan menangis kencang. Popok sudah ganti, namun masih menangis. Saya mulai berpikir kalau dia sudah mulai haus, karena seharian cuma bobok terus walau sudah saya tawari payudara yang sudah saya olesi kolostrum yang alakadarnya keluar. Saya berusaha mencekoki payudara saya supaya dihisap olehnya, namun bukannya mau, malah tambah kencang tangisnya. Mendengar tangisnya, runtuh percaya diri saya. Belum lagi, saya ditongkrongi banyak orang yang ingin menyaksikan proses menyusui saya. Dari suami, ibu mertua, sampai sahabat-sahabat saya yang sedang menjenguk. Rasa malu, minder dan khawatir tidak dapat menyusui mulai muncul. Saya panik dan mulai stres, padahal saya tahu ini akan mempengaruhi produksi ASI saya yang masih seret. Beruntung saya berada di lingkungan yang mengerti tentang pentingnya ASI. Dari keluarga sampai pihak rumah sakit tidak ada yang mengimingi susu formula sama sekali. Meski begitu, tatapan-tatapan kasihan pada bayi saya yang tidak mau menyusu sukses membuat saya semakin ciut. Terutama ketika bentuk puting saya mulai dijadikan kambing hitam kenapa Julia menolak menyusu, ditambah produksi ASI saya yang masih sedikit, walau saya sudah diyakinkan oleh bacaan-bacaan sampai langsung oleh konselor laktasi di kelas yang saya hadiri bahwa bentuk puting bukan lah kendala karena bayi menyusu bukan pada puting, tetapi pada aerola.

Sampai di rumah, di hari ketiga, bersyukur ASI sudah mulai banyak. Saya mulai pompa. Namun, Julia masih bobok terus. Sekalinya bangun, masih menolak menyusu. Akhirnya saya dan suami pelan-pelan mulai menyuapinya dengan sendok. Sampai hari keempat masih sama, dan masukan-masukan untuk pakai dot atau nipple shield mulai berdatangan. Sedang kami masih keukeuh akan berusaha melatih Julia latch on. Sempat kepikiran untuk konsultasi ke klinik laktasi, namun belum sempat, kami harus dikejutkan dengan fakta kalau bilirubin Julia yang tadinya normal mendadak melonjak dua kali lipat, dan Julia harus difototerapi. Hancur hati kami, karena mulai merasa bersalah dengan kekeraskepalaan kami untuk tidak cari jalan pintas mengisi perut Julia sampai Julia kuning karena kekurangan cairan. Akhirnya, kami menyerah, saat difototerapi, kami membiarkan Julia meminum ASIP saya dengan dot. Karena mau maksa menyusui langsung pun, nyatanya Julia memang belum bisa melekat dengan baik, dan saya khawatir penyinaran tidak akan efektif kalau Julia harus sering diangkat untuk diberi ASIP melalui feeder cup.

Alhamdulillah…Ternyata ‘mengalah’-nya kami menggunakan dot, berhasil membantu bilirubin Julia terjun bebas mendekati normal, dan Julia bisa kami bawa pulang. Di rumah, saya belum menyerah dan masih berusaha mengajak Julia belajar latch on. Julia sempat stress karena tidak sukses-sukses melekat, saya menyerah dan memberikan ASIP lewat dot lagi. Namun ketika saya sudah hampir menyerah untuk mencoba belajar latch on lagi dan sudah menentukan jadwal untuk datang ke klinik laktasi, ketika Julia menyusu lewat dot sambil saya gendong, tiba-tiba dia melepas dotnya dan mengendus-endus dada saya. Lalu saya buka kancing baju dan menawarkan payudara, tanpa berlama-lama, Julia melahap aerola saya dan akhirnya berhasil menyusu dengan baik. Sungguh nikmat rasanya bisa merasakan menyusui langsung. Momen di mana saya dan Julia bisa sangat intim dan intense. Saling bersentuhan, saling menatap. Pokoknya surga lah!

Dan, dengan perjuangan setiap menyusui harus sabar-sabar menunggu Julia melekat sempurna, malah tidak jarang disertai drama menunggu Julia nangis dulu karena mulai frustrasi, Alhamdulillah.. belum sampai usia Julia genap sebulan, dia sudah pintar menyusu tanpa harus berlama-lama latch on dan tentunya, no more drama before breastfeeding.

Sejak awal, modal saya menyusui memang cuma keras kepala dan keukeuh. Kalau saya tidak punya itu, entahlah, mungkin saja saya akan end up seperti saudara dan teman saya yang berhasil ASI ekslusif tapi tanpa pernah menyusui langsung, atau seperti tetangga saya yang menyerah segera pada nipple shield dan harus menghadapi fakta bahwa produksi ASInya yang tadinya melimpah mendadak kering di bulan ketiga. Ketika ditanya kenapa, ketiganya menjawab senada, ”putingku rata, jadi gak bisa nyusuin…” didukung jawaban orangtuanya yang mengiyakan dan mengambinghitamkan bentuk puting seperti yang pernah saya alami juga pada awal menyusui. Bersyukur, saya bisa membuktikan sendiri, kalau puting tidak normal bukan lah masalah selama mengantongi modal itu tadi. Pokoknya yang penting semangat terus ya, Mommies!

 


5 Comments - Write a Comment

  1. Toss dulu ah.. saya juga inverted nipple. Baca posting di atas serasa kilas balik hamil pertama dulu. Bedanya.. saya nyerah pake sufor pas harus fototerapi karena asi pompa cuma dapet 10 cc sekali perah. Tapi.. dgn flat nipple, saya bertahan menyusui sampai 2.5 tahun.
    anak kedua, alhamdulillah, asi sudah banyak sehak hari kedua (pake acara bengkak2 pula). Kendala flat nipple tetap ada tapi Keisha berhasil belajar menyusu dgn cukup cepat (walau sekarang dia lebih enjoy nyusu di sebelah kiri aja). Semoga anak kedua ini bisa lulus asix dan bertahan 2 tahun.. ingin bilang juga bahwa flat nipple memang kendala tapi insya Allah bisa diatasi.

    1. Memang masing-masing punya kisah awal nyusui yaa. Semuanya berjuang, semuanya ada yang sempat dikorbankan. Tapi karena itu semua, hasilnya pun manis. Hehehe.. Iya ya, memang naif kalau saya bilang flat nipple bukan kendala, betul memang kendala, tetapi dengan tekad dan keyakinan insyaallah bisa diatasi! Hehe.. Semangat nyusuin untuk kedua kalinya ya!

  2. yuk toss bareng2, gue juga flat nipple. dan pada saat itu, udah duluan nyetok nipple shield untuk ngebantu kalau2 susah latch on. puji Tuhan ASI lancar dan Leia juga ngga susah nyari2 nipple gue yg emang rata bin ngga keliatan itu, hihiih.. gue kaya nyokap, sama2 flat nipple dan untungnya dua2nya ngga menemukan kesusahan yg berarti saat menyusui karena emang dua2nya sama2 kekeuh dan yakin bisa! hehe.. tapi gue kadang2 kalo udah emak anak sama2 frustasi pake bantuan nipple shield yang dari medela yg enak bgt itu dipake hiihhii.. yang penting semangat ASI sih ya apapun rintangannya hehehe..

Post Comment