5 Great Reasons to Have Two Kids Under 2

Punya dua anak dengan jarak usia kurang dari dua tahun sepertinya terdengar seperti ide menakutkan, ya? Si Kakak belum mandiri-mandiri amat, eh, sudah nongol Si Adik yang juga butuh perhatian. Apalagi kalau pengalaman dengan anak pertamanya itu ‘ribet’. Boro-boro kepikiran langsung tambah lagi, ngurus satu saja pusing dan malah bikin berantem melulu dengan suami :D

Kedua anak saya, Rakata dan Ranaka, usianya hanya terpaut 22 bulan. I’d be lying if I said that it’s always easy. But I’d also be lying if I said it was harder than having one. It’s different, yes, but not harder.

Ok, sometimes it’s harder :D

Tapiii… mau jarak usianya dekat atau jauh, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Saya tidak mau memperdebatkan mana yang lebih baik. Like me, most women I’ve talked to about spacing siblings say they can’t imagine a better scenario for their family than the one they’ve got.

Nah, bagi Mommies yang lagi mempertimbangkan untuk segera hamil lagi, atau sudah kadung ‘kebobolan’, atau malah baru saja melahirkan anak kedua padahal anak pertamanya baru saja tiup lilin perdana, I’d looove to encourage you that it can be done without feeling like you’ve made a terrible mistake :D

Menurut saya, ada lima alasan mengapa memiliki dua anak dengan jarak usia kurang dari dua tahun merupakan ide yang patut dipertimbangkan—maafkan bila terkesan tidak mendukung poin ke-4 dari program KB pemerintah yang menganjurkan jarak kelahiran minimal tiga tahun, ya, hahaha

1. Masih dalam kondisi ‘baby mode’

Rutinitas ganti popok, bikin MPASI, terbangun untuk menyusui di tengah malam, toilet training, … you name it. Semua masih terasa familiar, sehingga tidak perlu banyak penyesuaian untuk melakukannya lagi. Rumah pun masih dalam keadaan baby proofed.

Benar, bahwa saya tetap harus belajar membesarkan Ranaka sebagai individu yang berbeda dengan Rakata. But most of the time, getting it right is coming much quicker the second time around. Mungkin karena adanya booster berupa kepercayaan diri dari pengalaman sebelumnya, ya—it made a BIG difference!

2. Anak pertama belum kelamaan jadi anak tunggal

Hal ini memudahkan karena konsep berbagi sudah terkondisikan sejak dini. I don’t think Rakata can even remember a time before Ranaka was born. He was so young! I’ve never had any jealousy to speak of.

Orangtua masa kini kadang terlalu khawatiran, menganggap bila jarak usia terlalu dekat maka anak akan kurang perhatian, lalu tumbuh menjadi sosok minder, dsb. Padahal, semua kembali ke pola asuh yang diterapkan dan sejauh mana kita membekali diri dengan pengetahuan seputar sibling rivalry.

Saya, sih, tidak melihat adanya kerugian dari berbagi perhatian ke Rakata-Ranaka, ya. It help them learn that the world doesn’t revolve around them.

3. Kedua anak tertarik hal yang sama

Mulai dari mainan, film kartun, buku cerita, dan sederet hal lain. So far, saya tidak perlu memikirkan alternatif hiburan yang berbeda untuk Rakata-Ranaka, baik saat di rumah maupun jalan-jalan.

Melihat kodok dan keong di kebun, dua-duanya excited. Dibacakan buku Thomas sebagai pengantar tidur, dua-duanya suka. Diajak ke resto fast food, dua-duanya masih pantas main di playground-nya.

Kalau diibaratkan pepatah: sekali kayuh, dua anak terlampaui :D

4. Mendapat gambaran utuh masing-masing anak

Usia berdekatan = melakukan hampir segala hal bersama = interaksi intens. Kita jadi tahu sikap sesungguhnya anak dalam bersosialisasi—karena interaksinya jauuuh lebih intens dibanding sekadar beberapa jam ketemu anak lain di sekolah atau playground umum. They socially learn early on how to interact and problem solve.

Ketahuan, tuh, siapa yang benar-benar suka mengalah, siapa yang keras kepala, siapa yang berpotensi rawan di-bully, bagaimana cara keduanya menghadapi konflik, dll.

Coba perhatikan di socmed. Pasti tidak ada lagi ibu-ibu yang jarak usia anaknya kurang dari dua tahun masih suka membangga-banggakan anaknya sedemikian rupa, atau menghujat kelakuan anak orang. Pasalnya, kami semua sudah sadar, bahwa every kid—yes, even mine, and yours—has the potential to be an angel, and an as*hole :D

5. Dua anak = less demanding

Bagi yang baru beranak satu, mungkin terdengar aneh, ya. Tapi benar, lho. In the long run, i found two less demanding—in terms of attention—than one. Mungkin karena skill bermain Rakata-Ranaka cenderung di tahap sama, sehingga mereka saling mengisi sepanjang hari dan selalu menemukan hal seru buat dilakukan tanpa melibatkan ibunya :D

They do everything together. They entertain each other. Otomatis, masa-masa badan gempor karena mengurus dua bocah tanpa ART telah berakhir.

Memang, sih, usia dekat bukan jaminan akan akrab terus hingga dewasa. Tapi setidaknya, saya selalu punya video ini untuk mengenang kemesraan mereka :D

Jadi kalau ada yang bertanya, “Seperti apa rasanya punya dua anak yang usianya berdekatan?”, jawaban saya sudah jelas:

Having two kids under 2 is far better than I could have imagined. I wouldn’t have it any other way ;)


11 Comments - Write a Comment

  1. nice point, mel! masuk akal sih semuanya, walaupun gue masih betah ngejar2 Rasya aja di rumah, belum tergoda untuk nambah dalam waktu dekat (tepatnya suami gue yang belum mau). tapi jadinya Rakata-Ranaka kayak anak kembar yaa :)

  2. usia kedua anak saya jg cm selisih sekitar 20 bulan. kakaknya April 2012, adeknya november 2013..
    so far sih asik2 aja.. krn si adek msh 2 bulan jd msh bisa ngeladenin kemauan si kakak.. tp mungkin nanti lain cerita kalo adeknya udah bs tengkurep atau bahkan merangkak..
    tp alhamdulillah si kakak sayang bgt sm si adek, jd kalo ditinggal berdua ga khawatir deh.. tp jujur, saya mengakui kalo saya ga mampu kalo hrs tanpa art.. ga kebayang capeknya..
    salut deh sm jeng ameel bisa bertahan tanpa art…

  3. nenglita

    Gue sama kakak gue nih, yg begini. Terbukti sih, sampe sekarang temen gue= temen kakak gue, dan sebaliknya. Malah dari kecil sampe akhirnya kami nikah, ga pernah pisah kamar dan pisah ranjang. Udah makin aja kaya kembar dempet, hahaha!

  4. adiesty

    Dulu, sih, gue pengen banget punya anak dua dengan jarak yang nggak terlalu jauh. Supaya anak2 bisa ikrib, macam Lita dan Mbak Ira gitu, deh….

    Tapi ternyata, oooh…. ternyata…. seletelah melewati proses punya Bumi, niatnya jadi langsung berubah :)) Akhirnya mutusin utk kasih jarak antara anak pertama dan kedua.

    Salut banget, deh, buat Ameeel! TFS, ya, Mel…

  5. I feel all this….Saya ibu dengan dua anak, anak pertama 25 bulan, anak kedua 12 bulan, jadi mereka cuman selisih 13 bulan. Waktu pertama kali tau kalo kebobolan, test pack dibanting, pengen nangis karena anak pertama baru 5 bulan udah hamil 6 minggu. Tapi saya setuju dengan semua yang ditulis di atas, terutama capeknya sekalian…Baju kakak masih bagus, bisa diterusin buat adek…alias jadi emak2 irit….Terus bagian bisa mengamati sekaligus, sekarang aja udah keliatan kalo dua anak saya ini, walaupun lahir beda setaun, sifat langit dan bumi, Kakaknya lebih girly dan friendly, adiknya lebih galak dan keras. Anyway, apapun pilihannya selama dinikmati pasti asik asik aja….

    Buat mbak ameel, ditunggu sharing-sharing selanjutnya….

  6. Tapi sepertinya perlu dipertimbangkan juga pemulihan fisik ibu pasca kehamilan sebelumnya ya. Usia kedua anak saya terpaut 2.5 tahun, keduanya lahir melalu c-section, saat proses kelahiran anak kedua operasi sedikit rumit krn luka operasi sebelumnya belum benar-benar pulih oleh krn nya disarankan oleh dokter untuk berikutnya jarak anak minimal 3 tahun. Sembari dalam hati bilang ya kali itu juga kalau masih sanggup nambah, dok. Hahahahah.

  7. pas banget, aku 3, kevin keanu 3 th 10 bln, twins, dan adeknya athar 22 bulan, gak “serepot” dan susah spt yg dibayangin walau enggak mudah.
    walau cuma dibantu satu pengasuh yg pp, dan emaknya kerja.
    kita juga sudah biasa dengan rempongnya, ke mall, kolam renang dan pantai ber 5, mami, papi dan 3 bocah.
    satu yg belum dicoba travelling naik pesawat ber 5 he he

  8. aku dan kakakku terpaut 1 tahun setengah, dan jarak aku ke adik 3 tahun. kita bertiga cewek. waktu kecil, setiap apa2 dikembarin bertiga hanya dibedakan motif dan warnanya. alhasil sampe sekarang kita udah pada menikah, selera dan gaya kami hampir sama, temanku = teman2 kakak dan adikku juga, dan kita jarang sekali bertengkar. itu yang membuatku pgn segera punya anak lagi (anak pertama 8 bulan), kalau bisa jgn jauh2 jaraknya, biar ada temen main juga anakku yg pertama. tp sepertinya suami masih bimbang. dia takut kalo anak pertama ini malah jadi kurang kasih sayang.

  9. great article, my kids are 20 months apart! just last week, the youngest turns 3. legaaa, selesai sudah tugas baby-baby-an kita. karna jarak umur deket, rasanya semua serba cepettt, ngga kerasa taunya udah pada gede. sekarang tinggal mbayar uang pangkal sekolah & liburan seru ber4 hihihi!

  10. Kejadiannya sama nich cm klo gw 3 anak cewe yg klo pergi kemana slalu di bilang kembar 3… Jarak si sulung ke tengah 11 bulan (yup! Nifas bersih lgsg tekdung lg), jarak anak tengah ke si bungsu 13 bulan dan smuanya lewat c section. Seru sich klo lg pd akur tp krn umur deketan kesukaan jg mirip2 dan kebutuhan akan “ibu” msh sama2 besar, jd lah klo lg rebutan ato ga akur rasanya pengen pura2 pingsan aja :D… Meski kdg berasa di “jajah” ga punya waktu me time tp positifnya adalah gw ga perlu repot2 nge-gym ato kluarin duit buat obat2 weight loss. Krn utang 24kg waktu hamil si sulung akhirnya bs ketutup dgn cuma2…

Post Comment