“Selamat Datang, Sayang” di Berbagai Belahan Dunia

Saya ingin mengajak para Mommies untuk keliling dunia, melihat tradisi menyambut kelahiran bayi di beberapa negara. Setelah menanti selama 9 bulan, kelahiran buah hati tentu menjadi momen yang ditunggu-tungu dan selayaknya menjadi dirayakan para ayah dan bunda. Inilah yang dilakukan masyarakat di berbagai belahan dunia untuk menyambut hadirnya putra dan putri tercinta.

1. Korea Selatan

Ketika bayi lahir, keluarga Korea menggantungkan tali jerami di pintu rumah mereka. Jika bayi yang lahir laki-laki, maka di tali tersebut diikatkan arang dan paprika merah, sementara bila yang lahir adalah bayi perempuan, maka yang diikatkan adalah arang dan cemara. Tali ini menyimbolkan perlindungan dari setan dan penyakit, dan orang luar dilarang mengunjungi si bayi sampai sekurang-kurangnya selama 21 hari sejak ia dilahirkan.

Sementara itu para ibu menyantap sup rumput laut (disebut myuk-guk) sebagai makanan pertama setelah melahirkan. Sup ini diyakini memberikan manfaat kesehatan yang besar dan bisa disantap 3 kali sehari sampai 1-2 bulan setelah proses kelahiran.

Pada hari keseratus setelah kelahiran bayi, diselenggarakan perayaan keberhasilan dan keselamatan si bayi. Dalam perayaan tersebut, keluarga bayi mengirimkan kue beras kepada para tetangga.

 

Sup rumput laut (myuk-guk) khas Korea Selatan, tradisi para ibu setelah kelahiran. Foto dari sini

2. Mesir

Tradisi Sebou (berarti tujuh) adalah salah satu tradisi perayaan tertua di Mesir yang kabarnya telah dilakukan sejak masa Firaun. Para keluarga berkumpul di hari ketujuh setelah kelahiran bayi untuk merayakannya. Sebou dimulai dengan memandikan bayi dan memakaikannya pakaian baru. Ibu dan para wanita dalam keluarga bertanggung jawab mempersiapkan perayaan dan memasak daging domba/kambing untuk Aqiqah bayi. Garam ditaburkan ke sekeliling rumah untuk menghalau kekuatan jahat. Kemudian bayi diletakkan dalam kontainer kecil yang telah didekorasi dan dibawa berkeliling rumah, diikuti keluarga yang membawa lilin.

Dalam perayaan ini, ibu melangkahi bayi tanpa menyentuhnya sebanyak tujuh kali, sementara sesepuh wanita menumbukkan alu di lesung kecil untuk membuat suara keras. Ritual yang turun-temurun dilakukan dalam Sebou ini bertujuan agar si bayi menjadi tumbuh menjadi anak pemberani. Setelah menyantap hidangan utama, bingkisan berisi permen, manisan, serta koin emas dan perak dibagikan kepada semua yang hadir.

Sesepuh wanita menumbukkan alu ke dalam lesung untuk membuat suara keras sebagai bagian dari ritual Sebou. Foto dari sini

3. Tibet

Tradisi kelahiran di Tibet disebut Pang-sai. Pang-sai adalah semacam ritual pembersihan yang bertujuan membersihkan bayi dari proses yang telah dilaluinya. Setelah bayi lahir, simbol “Dzi” dilukis dengan tepung kunyit di lidahnya. Dzi adalah suku kata dalam Manjusri, yang kurang lebih berarti bercahaya, cemerlang, bersih, dan megah. Bangsa Tibet melakukan ini dengan tujuan agar bayi mereka tumbuh menjadi seseorang yang pandai dan bijaksana – kualitas yang sangat dihargai di Tibet. Dzi, diharapkan memberikan anak-anak mereka kecerdasan, umur yang panjang dan keberuntungan.

Setelah persalinan, ibu diberikan satu atau dua gelas minuman mentega panas untuk memulihkan dan menghangatkan tubuh. Kemudian ibu menyantap sup dan teh Tibet. Nama bayi diberikan oleh seorang Lama atau sesepuh keluarga. Setelah 100 hari, baru diperkenankan mengambil foto bayi. Memotret bayi sebelum waktu itu dipercaya bisa membuat bayi jatuh sakit.

Kunjungan Lama dipercaya memberikan berkah agar anak tumbuh menjadi seorang yang bijaksana. Foto dari sini

Bagaimana dengan daerah atau negara Mommies? Ada tradisi khusus menyambut kedatangan bayi nggal? Ceritain, dong :)


Post Comment