Lingkungan Baru? Siapa takut!

Beberapa waktu yang lalu, ayah mertua saya meninggal dunia. Sedih? Tentu saja. Ada yang berubah? Pasti. Pendeknya, perubahan dinamika jelas terjadi di kehidupan saya dan suami. Tapi saya tidak akan membahas itu di sini.

Adalah Nara, cucu semata wayang keluarga kami, yang juga turut hanyut dalam perubahan dinamika ini. Anak saya yang selama ini cenderung jadi anak rumahan, mendadak harus sering jalan-jalan. Minimal mengunjungi ibu mertua saya, sebagai penghibur hati, dan, maksimalnya, bertemu kerabat-kerabat yang penasaran dengan cucu pertama ayah mertua yang selama ini ‘disekap’ ibunya di rumah.

Persoalannya, bertemu dengan orang baru dalam suasana baru sebenarnya tidak pernah mudah bagi saya. Bertemu extended family ayah mertua pastinya membuat saya gugup. Dan saya juga gugup untuk Nara. Ditambah lagi, anak-anak, seringnya, diharapkan untuk berlaku ‘manis’ ketika bertemu orang baru. Gimana kalo dia rewel karena dia nggak suka dengan orang yang ditemuinya? Kalo dia nggak nyaman lalu menangis? Atau kalau dia ingin menyusu dan tidak ada tempat? Paling parahnya, gimana kalo dia tiba-tiba menanyakan ayah mertua?

Gugup dalam suasana baru sebenarnya wajar, sih. Siapa sih sebenernya yang seratus persen pede ketika dihadapkan pada hal-hal baru? Apalagi anak-anak.

Saya pikir, satu-satunya cara membasmi kegugupan ini adalah dengan membantu Nara beradaptasi pada situasi dan kondisi yang akan dihadapinya.

Masih lekat di ingatan saya, ketika saya kecil, saya paling jengah diajak pergi tanpa tahu ke mana tujuannya. Mungkin karena saya dianggap masih kecil dan belum perlu tahu. Tapi ketidaktahuan ini membuat saya tidak mampu bersiap-siap diri dalam hati. Saya seolah diharapkan untuk selalu mampu menyesuaikan diri dengan situasi apa pun nanti di tempat tujuan kami. Menyesuaikan gimana? Lah saya sendiri nggak tahu ini aja mau ke mana.

Berpangkal dari situ, saya membiasakan diri untuk memberikan ‘brief’ pada Nara setiap kali kami akan bepergian. “Nanti, kita akan pergi ke rumah Yangti. Rumahnya agak jauh, jadi kalo mau bobo di jalan, boleh. Di sana akan ada ayam dan bebek, lho.” Sederhana dan santai dengan bahasa yang dia mengerti.

Jika saya tahu di sana akan ada orang baru, saya akan menambahkan, “Kalau nanti ada yang belum pernah ketemu, jangan lupa salim, ya? Kan kita kenalan dulu.”

‘Brief’ ini bisa disesuaikan dengan kondisi yang akan dihadapi anak, seperti sekolah, pergi berlibur, dll. Khusus ketika ayah mertua saya meninggal, kami menyelipkan ‘brief’ tentang absennya beliau sejauh pemahaman anak seusianya.

Ada beberapa hal lain, yang juga telah saya lakukan, untuk membantu anak beradaptasi dengan lingkungan baru yang dapat dilihat di 24hourparenting.com.

Tentu saja, kadang setelah ‘brief’ pun Nara tetap ogah salaman atau malah sembunyi ketika didatangi. Suatu ketika, dia menolak keluar dari mobil dan minta digendong saat akhirnya bersedia turun.

Buat saya, nggak masalah.

Anak punya reaksi uniknya sendiri saat berhadapan dengan lingkungan dan orang baru. Ada anak yang perlu waktu lebih lama dari yang lain. Reaksinya terhadap setiap orang pun bisa berbeda-beda. Dia bisa lengket dan langsung akrab dengan satu orang, bisa jadi dia diam seribu bahasa ketika didatangi yang lain.

Kita saja bisa begitu, kan?

Wicahyaning Putri adalah editor di 24hourparenting.com. 24hourparenting.com adalah adalah situs parenting yang memuat how-to-parenting, singkat dan to the point, juga membahas tentang menjadi orangtua, dan ide kegiatan ortu-anak. Dilengkapi visual yang semoga asik. Diasuh oleh psikolog dan orangtua.

 

 


Post Comment