Mengelola Harapan

Sejujurnya, pas masih single, bayangan tentang berkeluarga adalah: jalan-jalan dengan suami dan anak kecil yang manis dan lucu ke tempat-tempat wisata dalam dan luar negeri lalu berfoto seru-seruan serta melakukan hal lainnya yang keren-keren seperti yang tergambar dalam iklan-iklan di media. Atau jalan-jalan di mal sambil dorong-dorong stroller dengan anak yang duduk manis.

Cetek ya? Biarin :p

Setelah menjadi orangtua dari dua anak (Hanami 5,5 tahun dan Ainikko 13,5 bulan) dan menikah hampir 10 tahun, berkeluarga adalah: yang penting anak sehat, anak bisa sekolah dengan baik, saya dan suami bisa bekerja sesuai dengan yang kami butuhkan dan sukai, menghadapi tantangan mengasuh anak setiap hari yang nggak selalu manis dan lucu :p, dan tetap happy aja meski jalan-jalan ke tempat wisata apalagi di manca negara belum selalu bisa terwujud karena masih memprioritaskan pos budget yang lain. Ya, kalau ada teman-teman yang posting foto liburan keluarganya di socmed, ikut seneng aja walau iri dikit :p

Soal harapan dan kenyataan, ternyata life skill mengelola harapan sangat esensial untuk dimiliki kalau ingin berkehidupan dengan damai sebagai orangtua, terutama damai dengan diri sendiri. At least, buat saya. Terutama sebagai orang yang suka berkhayal kepanjangan :p dan sebisa mungkin punya plan untuk segala hal, tambah lagi semi control freak, menjadi orangtua adalah ibarat ikut training. Training yang katanya nggak selesai-selesai karena levelnya naik terus dan kalau lulus di sertifikat trainingnya akan tertulis: menjadi orang yang lebih baik. Uhuk. Semoga, ya.

Balik lagi ke soal harapan. Iya, sih, memang dalam mengasuh anak mantranya adalah: you never know what you gonna get. Sejak momen lihat hasil test pack menunjukkan tanda positif, saat itulah kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi, ya, kan? Nggak tau bakal mual atau nggak selama hamil, dikasih anak laki-laki atau perempuan, apakah dia berkebutuhan khusus, kayak apa kepribadiannya, mirip saya atau suami saya?

Contoh daily struggle lainnya: anak sudah kita “briefing” baik-baik sebelum berangkat ke mal, membuat kesepakatakan akan melakukan apa saja di mal termasuk apa yang boleh dibeli atau tidak, dll. Pada pelaksanannya belum tentu sesuai harapan. Mungkin jadinya tetap ada negosiasi di depan counter es krim, atau adegan cemberut di depan toko mainan. Kadang berujung damai, nggak jarang berujung uraian air mata anak (dan ibunya yang malu ditontonin orang :p).

Ketika anak sudah beranjak dari balita, level menata harapan mesti ditingkatkan lagi sesuai tahap perkembangan anak: soal memilih sekolah, apakah anak memenuhi kriteria untuk mencapai tingkatan tertentu, bisa baca atau tidak. Lanjut ke masa pre-teen dan kemudian remaja.

Kadang saya suka iseng berkhayal, misal nih, Hanami dan Ainikko nanti gedenya jadi orang yang beretika, mau bekerja keras, dan bermanfaat buat dirinya dan orang lain, nggak, ya? Ya namanya juga berkhayal, kan. Tapi kalau misalnya dia nggak begitu, nanti saya akan bereaksi gimana, ya?

Kalau kata ibu saya, yang sudah merasakan punya anak yang sudah dewasa dan kemudian punya hidup sendiri: impian dan harapan itu selalu berubah dari waktu ke waktu. Dia berharap saya menikah dengan orang Batak, seperti suku asalnya dia, tapi nggak kesampaian. Ibu saya berharap saya tumbuh sebagai perempuan yang feminin, bisa merawat tubuh dengan kulit bersih dan mulus. Kenyataannya? Kebalikannya lah. Hahaha.

Soal harapan dan kenyataan, mari kita urai satu-persatu biar nggak kusut. Menurut 24hourparenting.com tentang Mengelola Harapan, ada 3 hal yang perlu dipahami: prediksi, ambisi dan kondisi.

Prediksi: apa yang dipercaya orangtua akan terjadi pada anak. Misal: karena saya sangat dekat dengan anak remaja saja, saya yakin dia tidak akan pernah bohong kepada saya. Prediksi seperti ini nggak realistis.

Ambisi: apa yang diinginkan orangtua terjadi pada anak. Misal: saya ingin anak saya terus menjadi juara renang, melanjutkan prestasinya saat TK. Hmm, kalau minat anak berubah?

Kondisi: apa yang menurut orangtua harusnya terjadi/dilakukan anak. Misal: Anak selalu makan sayur dengan porsi besar. Kalau lagi nggak doyan?

Jadi, mesti diapain si harapan ini? Menurut 24hourparenting.com, tetap harus ada dong untuk mengarahkan dan membimbing anak, tapi selalu perlu penyesuaian, yang mana nggak selalu mudah tapi penting untuk dilakukan. Penyesuaian nggak sama dengan menerima saja dan tidak berbuat apa-apa, lho.

Kalau Mommies, apakah harapan dan kenyataan sudah sinkron?

Yulia Indriati adalah content manager di 24hourparenting.com. 24hourparenting.com adalah adalah situs parenting yang memuat how-to-parenting, singkat dan to the point, juga membahas tentang menjadi orangtua, dan ide kegiatan ortu-anak. Dilengkapi visual yang semoga asik. Diasuh oleh psikolog dan orangtua.


One Comment - Write a Comment

Post Comment