Perjalanan Panjang Menuju Sunatan

Belum lama ini Kay disunat. Dan memang sudah waktunya. Pubertas Kay hadir lebih cepat dari dugaan kami.

Persiapan menuju rite of passage ini cukup panjang. Hampir setahun sebelum peristiwa ini kami sudah pelan-pelan menjelaskan pada Kay bahwa semua anak laki-laki pasti disunat. Selain itu kami juga menjelaskan dari hari ke hari, bulan ke bulan, bahwa sunat itu berarti kulit sekitar ujung penis (biasa disebut kulup) akan dihilangkan dengan cara dipotong oleh dokter.

Kami merasa penjelasan ini sangat penting. Apalagi untuk Kay, seorang anak berkebutuhan khusus dengan diagnosa Sindroma Kabuki. Apalagi akhir-akhir ini, ketika Kay semakin besar, sepertinya rasa takut dan khawatirnya mulai terbentuk. Dia yang biasanya santai-santai saja ketika harus diperiksa oleh dokter kini mulai menolak keras, bahkan terkadang hingga tantrum.

Oleh karena itulah, penjelasan panjang mengenai sunat ini menjadi penting agar ada cukup waktu baginya untuk mengatasi rasa takutnya, meskipun sedikit.

Akan tetapi ternyata ini tidak menjadi jaminan bahwa Kay kooperatif ketika hari-H tiba.

Saat pemeriksaan pra-sunat beberapa hari sebelum operasi kecil itu dilaksanakan, ia tidak mengijinkan sang dokter memeriksa penisnya. Ia meronta dan menendang dan berteriak dan bersikukuh memegang celananya. Akhirnya pemeriksaan hanya dilakukan dengan meraba penis Kay dari luar celana. Itu pun curi-curi.

Pada hari-H, Kay diperiksa seorang dokter anak yang akan menetapkan apakah ia cukup fit untuk menjalankan operasi kecil ini. Untuk itu diperlukan tes darah dan foto rontgen. Waktu yang diperlukan hingga akhirnya sampel darah Kay bisa diambil? Satu setengah jam.  Dalam hal ini kami memang kecolongan. Kami tidak mengira bahwa untuk operasi kecil ini dibutuhkan tes darah, jadi kami tidak menjelaskan prosedur ini pada Kay. Akibatnya, waduuuuh…hari itu dia melancarkan mosi tidak percaya pada orangtuanya. Bahkan di ruang operasi pun ia hanya mau ditemani oleh (dan nurut kepada) Bude-nya. Ampun, Kay.

Untunglah setelah itu semuanya berjalan lancar. Empat hari setelah sunat, perbannya dibuka dan lukanya telah tertutup dengan baik. Dua hari setelah perban dibuka, ia sudah bisa kembali mengenakan celana.

Sedikit kiat, terutama bagi orangtua dengan anak berkebutuhan khusus:

  • Jelaskan pada anak prosedur sunat itu seperti apa. Pastikan bahwa anak memahami bahwa sedikit kulit di ujung penisnya akan dipotong dan itu akan menyebabkan luka dan butuh waktu untuk penyembuhan.
  • Jelaskan juga padanya apa saja persiapan menuju sunat itu. Jika perlu tes darah, jelaskan bagaimana prosesnya.
  • Pastikan anak familiar pada dokter yang akan melakukan prosedur sunat tersebut. Bila perlu, kunjungi dokter beberapa kali sebelum hari-H. Ini juga akan membantu dokter untuk mengantisipasi perilaku anak.
  • Yang terpenting: sabar dan usahakan anak senyaman mungkin pada hari-H.

Nah, semoga lancar, ya!


One Comment - Write a Comment

Post Comment