Aku Bosan!

Seingat saya fenomena ini terjadi mulai anak saya menginjak usia 7-8 tahun. Saat anak mulai hobi bermain game, kemudian tentu saja kami berlakukan screen time. Di waktu-waktu bebas layar tersebut, seringkali ia mengeluh “aku boseeeen!” sambil bersungut-sungut, dan terus terang kami bingung juga menanggapi keluhannya ini. Mengingat pada usianya ini, asumsi awam saya seharusnya dia sudah mandiri untuk menentukan apa maunya, di luar jam kegiatan rutinitas. Jadi akhirnya respon kami juga seputar “Akhtar kan bisa membaca” atau “main badminton saja sana!”.

*gambar dari sini

Sesungguhnya bisa dipahami ya kenapa pada pada usia itu anak seringkali mengeluh bosan. Tuntutan otaknya untuk selalu berkutat dengan sesuatu, dan main game menjadi sebuah sarana paling mudah, instan dan mengasyikkan untuk membuatnya tetap occupied. Sehingga saat lepas screen time, ia seperti kebingungan mau ngapain.

Lalu saya menemukan sebuah artikel, yang menyatakan bahwa orangtua harus ‘bersyukur’ kalau anaknya mengeluh bosan. Betul, its a good sign!

Menurut studi dalam artikel tersebut, kebosanan pada anak yang timbul akibat dipangkasnya jatah waktu aktivitas elektronik tersebut jika dikompensasi dengan kegiatan ‘refleksi diri -non elektronik’ seperti membaca, duduk diam-diam, mengisi jurnal atau membuat coretan-coretan gambar’- ternyata bisa meningkatkan prestasi akademisnya.

Hmm, ternyata perlu lho untuk membiarkan saja anak mengatasi sendiri kebosanannya. Anak akan belajar menjadi diri sendiri dan menemukan apa-apa untuk dikerjakan ketika bosan, menemukan apa yang asyik bagi mereka. Dari kebosanan, hampir selalu muncul kreativitas. Namun orangtua sebaiknya tidak cepat-cepat berkata, “kamu harus mengatasinya sendiri”. Akan lebih baik kalau orangtua pelan-pelan membangun kecerdikan anak. Salah satu cara adalah membantu anak membuat daftar kegiatan ‘pendobrak kebosanan’ setiap kali ia merasa bosan. Lama kelamaan, anak akan mengidentifikasi sendiri daftarnya.

Sudah berusaha memberi usul dan sumbang saran, tetapi ditolak anak? Ya mundur saja, sambil mengatakan misalnya, “oke, mama yakin kamu punya ide sendiri, kamu kan pintar”. Cukuplah kita mengawasi dari jauh agar kreativitas mereka tidak kebablasan.

Anyway, rupanya memang terbukti kok. Sekarang di usianya yang sudah 9 (hampir 10 tahun), sudah hampir tidak pernah ia berkeluh bosan. Sepertinya memang pikirannya sudah beradaptasi, begitu tidak ada aktivitas, ia tidak perlu mengeluh bosan, tetapi mencari-cari sesuatu sendiri. ;)

So, selamat mensyukuri kebosanan anak! ;)

 


Post Comment