Mengenal Saudara

Kami ini keluarga Bhinneka Tunggal Ika :)

Saya 100% berdarah Jawa, sedangkan suami campuran Banjar – Jawa. Kalau dihitung secara matematis, anak-anak kami 75% Jawa, hahaha (nggak mau kalah)

Saya tidak akan membahas soal kesukuan.

Lebih asyik membahas soal persaudaraan dalam keluarga besar kami. Saya mempunyai 6 orang saudara. Kebetulan saya bungsu, 5 dari 6 kakak-kakak saya sudah menikah dan mempunyai anak. Cinta dan Asa adalah cucu urutan ke 17 dan 18, banyak kan ? ;)

Di keluarga saya, dan begitulah adat Jawa, walaupun usia lebih muda, tetapi apabila merupakan cucu dari anak tertua maka dia akan dipanggil mas atau mbak oleh sepupu-sepupunya. Dan sebaliknya.

Buat Cinta dan Asa tidak membingungkan karena kebetulan mereka ada di urutan dua terakhir. Tapi Cinta sempat heran dengan anak budhe no 2 (mba Fitri) yang usianya lebih tua dari anak budhe 1 (mba Rini) tapi kok panggilnya mbak Rini ya? Saya jelaskan, bahwa semua anak dari budhe dan pakdhe kita memanggil mbak atau mas, begitu gampangnya.

Beda lagi dengan adat dari keluarga suami. Mereka tidak memandang anak uwak (pak de/bu dhe) atau acik (paklik/bulik), panggilan berdasarkan usia yang bersangkutan. Anak uwak kalau lebih muda ya panggil dik atau nama langsung, dan sebaliknya. Untuk ini Cinta dan Asa juga tidak bingung hehehe…

Yang penting adalah mengenal saudara. Walaupun terpisah jauh, Cinta kenal semua keluarga dari saya dan mas Ari, sampai ke anak-anaknya (sepupu Cinta). Kalau Asa belum hapal semua, hanya mengingat yang sudah pernah bertemu saja. Asa dan Cinta relatif mudah berbaur dengan keluarga walaupun baru bertemu. Dan kalau pada pamitan pulang, pasti terjadi adegan haru biru, menangis deh….

Mengenal saudara sebanyak mungkin, seluas mungkin, kalau perlu sampai saudara jauh, banyak manfaatnya. Misalnya nih contohnya kalau suatu ketika anak kita pergi ke suatu kota yang sama sekali baru, eh ternyata ada saudara jauh di situ, jadi bisa bertamu plus silaturahmi.

Bertemu keluarga melatih anak berkomunikasi dan beradaptasi dengan beragam karakter orang. Biasanya kami bertemu keluarga besar saat hari raya idulfitri, saat libur mudik atau saat ada acara-acara keluarga.

Sebelum bertemu saudara, saya beri ‘warming up’ dulu pada anak-anak, yaitu:
1. Memberitahu anak tentang rencana temu keluarga tersebut, dengan siapa saja akan bertemu dan sebutkan ciri-ciri dari sosok yang akan ditemui.

2. Memberitahu anak situasi lokasi pertemuan, akan ada apa saja di sana. Saya beri petunjuk bagaimana anak sebaiknya bersikap, kalau suasana ulangtahun tentunya boleh seru-seruan. Tapi kalau acara akad nikah, anak harus diberitahu untuk tenang.

3. Membawa keperluan anak agar anak tidak rewel. Saya usahakan pertemuan bukan pada jam-jam mengantuk. Atau anak diminta tidur dulu dalam perjalanan menuju rumah saudara.

4. Pada saat pertemuan terjadi, saya mencoba membiarkan anak-anak bersikap sewajarnya mereka mau. Kalau masih malu ya tidak usah dipaksa ngobrol atau salaman. Saya beri waktu anak untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Biasanya tidak lama, 15-30 menit sudah mau bermain bersama sepupu kok.

*thumbnail dari sini


Post Comment